AAN Mansyur, penulis puisi ternama Indonesia, hadir sebagai pembicara peningkatan kapasitas penyelenggara Wabul Sawi Festival di Basecamp Inkubator, Jl. Gt. Jingah, Banjarbaru. Selama dua hari, Sabtu-Minggu (9-10 Agustus 2025), Aan menceritakan bagaimana “Makassar International Writers Festival” (MIWF) dibentuk serta dijalankan sejak 2011 hingga sekarang ini menjadi salah satu festival sastra terbesar di Indonesia.

Aan adalah salah satu pendiri dan penggagas, yang sekarang menjadi Direktur MIWF. Ia datang memberikan Workshop Budaya Digital dan Manajemen kepada tim WSFest. Tidak sendiri, turut bersamanya Ipa Chadijah, Social Media & Communication Spesialis MIWF.

Aan dan Avi– panggilan akrab Ipa Chadijah, secara bergantian memberikan workshop. Aan membeberkan bagaimana mulanya event MIWF dibentuk, hingga bertahan sampai saat ini.

MIWF lahir dari rahim Rumata’ Artspace, komunitas independen di Kota Makassar. Dimotori Lily Yulianti Farid, seorang penulis, wartawan, dan akvitis (meninggal pada 9 Maret 2023), juga sutradara Riri Riza, serta Aan sebagai sastrawan muda dan pegiat budaya di kota Makassar lainnya.

Menurut Aan, MIWF mulai tercetus setelah Lily melihat berbagai festival sastra di Amsterdam, juga Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) Bali.

“Selain itu, gagasan festival ini juga dipicu dari kegelisahan kami terhadap gambaran kota Makassar di media nasional, terutama televisi pada tahun-tahun itu. Ada banyak berita kriminal yang memperlihatkan kekerasan di Makassar, seperti kerusuhan,” ujar Aan.

MIWF pun dibangun dengan gagasan yang lebih terfokus dan berdampak sosial, tidak hanya dengan mengusung sastra. “Meski memang sastra tetap menjadi basis utamanya,” kata penulis buku puisi “Melihat Api Bekerja” ini.

Maka, MIWF yang walau menonjolkan nama event sebagai festival sastra, namun program-program di dalamnya beragam. Selain sastra yang jadi menu acara utama, terdapat pula program lain seperti gastronomi, film, budaya, lingkungan, pertunjukan, serta diskusi-diskusi.

“Hingga sekarang, nama MIWF sangat dikenal oleh masyarakat, bahkan menenggelamkan nama Rumata sebagai tempat berdirinya. Tiap tahun ribuan warga hadir ke acara. Dan perlahan, gambaran Makassar yang kasar, sering rusuh, semakin terkikis,” papar Aan.

Menariknya lagi, semua program itu melibatkan ratusan relawan, baik yang datang dari komunitas, maupun pribadi. “Mereka tidak dibayar, hanya dipastikan dapat makan dan kaos,” jelas penyair gondrong ini.

Seperti kita tahu, kini MIWF dikenal sebagai festival sastra terbesar di Indonesia timur. Dan di tahun 2020, festival ini mendapatkan penghargaan Internasional Excellence Awards di London Book Fair.

Secara umum Aan mengatakan, bahwa MIWF mengusung ide-ide berani serta kesadaran kolektif. ‘Kami membayangkan satu dunia yg bisa menampung banyak semesta. Tidak diskriminatif,” lugasnya.

Sementara Avi banyak menjelaskan bagaimana peran sosial media dalam mendukung kegiatan MIWF.

“Karena MIWF ini sudah dikenal luas, jadi fungsi sosmed bukan lagi promosi, melainkan memastikan logo-logo pihak yang terlibat bisa termuat dan tepat waktu,” ujar Avi, yang bergabung di MIWF baru mulai tahun 2024.

Perempuan lulusan komunikasi ini memiliki tim muda untuk mendesain eflyer dan membuat kegiatan. Avi bertugas menerjemahkan bentuk visual dari kegiatan yang dikerjakan oleh rekan-rekannya.

“Di era digital sekarang ini, peran tim medsos sangat penting. Sebab melalui saluran medsos inilah setiap informasi bisa kita sampaikan,” jelasnya.

Direktur Wabul Sawi Festival, Hudan Nur, menjelaskan, workshop untuk tim internal MIWF ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sebuah event dijalankan. “Dan yang terpenting, berangkat dari gagasan apa event itu diadakan. Inilah yang sedang disiapkan untuk Wabul Sawi Festival di Banjarbaru,” ucapnya.

WSFest direncanakan akan digelar pada September 2025 di Banjarbaru. “Semoga dari workshop ini, juga dengan mempelajari festival sastra lainnya, kita bisa mendapatkan gagasan sebuah festival yang akan menjadi identitas khas Banjarbaru sendiri,” tandas Hudan. Sebagai informasi, kegiatan ini didukung penuh Kementerian Kebudayaan RI Direktorat Pengembangan Budaya Digital.@