(Tulisan pengantar Pameran “Sampai Batas Tarung”, 21 Juni – 12 Juli 2024, Galnas, Jakarta)

“SENIMAN adalah warga negara yang tidak pernah melawan negara” (Sri Sultan HB IX)
Sebuah pameran dari Sanggar Bumi Tarung (selanjutnya kami sebut SBT) pada Desember 2023 di Bentara Budaya Yogyakarta lalu, diwacanakan sebagai “Pameran Terakhir dari SBT”. Pameran yang dirancang selama hampir dua tahun oleh Misbach Tamrin dan Djoko Pekik–dan kebetulan saya menjadi saksi dari pembicaraan dua tokoh SBT tersebut–rencananya akan menghadirkan Amrus Natalsya, Djoko Pekik, dan Misbach Tamrin. Namun, lima bulan sebelum pameran terjadi, Djoko Pekik mendahului dipanggil Yang Maha Kuasa, mendahului dua sahabatnya ini. Akhirnya diambillah sebuah tajuk “Dua Petarung: Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin”, dalam pameran yang digelar SBT sebagai pameran pertama sekaligus terakhir di kota dimana SBT dibentuk, yaitu Yogyakarta. Sebulan setelah pameran tersebut, Amrus Nalasya menyusul Djoko Pekik menghadap Yang Maha Kuasa. Sebenarnya, masih ada dua orang lagi anggota SBT yang masih hidup, yaitu Gultom dan Ginanjar. Akan tetapi keduanya sudah lama tidak berkarya karena sakit. Dalam pameran “Dua Petarung”, Amrus menghadirkan sederet lukisan bertajuk “Terima Kasih untuk Ilmuwan”, semenntara Misbach Tamrin menghadirkan beberapa karya yang melukiskan situasi Indonesia saat ini, di antaranya merespon kepindahan ibukota negara ke IKN, Kalimantan.

Pada pameran kali ini, di mana anggota SBT hanya tersisa Misbach Tamrin, sebagai pendekar terakhir SBT, tampil membawa SBT hadir kembali dalam sebuah pameran, dengan tajuk “WASIAT RAHASIA”, yang digelar pada 21 Juni-12 Juli 2024 di Galeri Nasional Indonesia. Pada pameran ini, dihadirkan karya-karya Amrus berupa patung dan relief kayu. Karyanya sangat kuat melekat dalam ingatan kita, di mana etos kerja masyarakat hadir dari tajamnya tatah dan ritme pukulan palu, menjadi satu irama penuh makna; Djoko Pekik hadir dengan lukisan terakhirnya, potret diri yang berjudul “Baju Merah“, 2023. Cukup menggelitik, lukisan ini seolah menggiring ingatan kita pada jargon “Jas Merah”. Mungkin juga, Baju Merah yang dimaksud Djoko Pekik adalah wasiat yang terselip: “Bangunlah dan Berjuang Membuat Sejarah”. Selain Amrus Natalsya, Djoko Pekik, dan Misbach Tamrin, dalam pameran SBT kelima ini juga menampilkan karya dari perupa SBT lainnya: Isa Hasanda, Hardjijo Pudjanadi, Gumelar, Gultom, Puji Tarigan, Mulyono. Dan yang cukup menarik adalah, pada pameran kali ini, SBT membawa serta beberapa perupa muda yang lahir di masa Orde Baru, dari Banjarmasin, Yogyakarta, dan Jakarta. Mereka adalah Hajriansyah, Sandy Firly, Badri, Jaya Sidhi Sugiwan, William, Melati Yusuf, Deva Silva, Diah Yulianti, Munir, Bob Arif, Didan Natalsya, dan Wiwid.

Mendengar kata “wasiat rahasia”, yang terbersit dalam benak kita tentu identik berkaitan dengan pembagian harta warisan. Akan tetapi “wasiat rahasia” yang ditampilkan kali ini adalah harta yang dibagikan kepada publik seni rupa Indonesia–sebuah sejarah dan pengetahuan yang layak kita catat bersama–wasiat dari sebuah ideologi dan pandangan politik dalam bentuk karya lukisan sebagai jalan pedang SBT.

Misbach Tamrin dan penulis saat pers tour, Jumat (21/6/2024), jelang pembukaan pameran di Gedung D, Galnas, Jakarta.

Realisme Revolusioner
Mengulik sejarah SBT yang berdiri pada tahun 1961 dalam lingkungan Kampus ASRI Yogyakarta oleh sekelompok seniman muda ASRI, yang mana mereka juga bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Dapat dikatakan keberadaan LEKRA sejalan dengan semangat SBT. Peristiwa 1965 membuat SBT berusia cukup pendek, meskipun begitu gaung karya-karya SBT masih tetap mengisi sejarah dan perkembangan seni rupa hingga saat ini. Banyak catatan tentang ekspresi realisme sosialis dalam karya-karya seniman yang tergabung dalam SBT di Yogyakarta, 1961, dengan menelusuri karya-karya mereka dari pameran pertamanya di Balai Budaya tahun 1962. Dan jargon “realisme revolusioner”, SBT terdengar begitu heroik. Apakah ini adalah pandangan politik mereka?

Realisme revolusioner yang didengungkan kembali oleh SBT dalam pameran terakhir kali ini, bukanlah sekadar romantisme saja. SBT dengan semangat realisme dan narasi revolusionernya adalah sebuah satu counter culture, merupakan sebuah jawaban untuk menghadapi pendangkalan dan perlumpuhan kebudayaan. Pameran kali ini bukan sekadar kembali mengingatkan akan SBT, tetapi sekaligus momen untuk menitipkan wasiat daya tarung untuk melawan lupa akan sejarah. Ada monumen kebohongan dalam monumen memorabilia, di mana masih banyak kebenaran yang disembunyikan, kekuatan dan pemikiran yang mulia dari masa lalu tidak boleh dilupakan. Masa mendatang membutuhkan keberanian tegak berdiri untuk menyatakan diri.

Jacob Sumardjo berpendapat, ” Kodrat seni dan politik sungguh bertentangan secara diametral kalau dilihat dari sisi pencarian kebenaran. Kebenaran politik amat bersifat sektarian, kontekstual, dan sementara, sedangkan seni bersifat umum, universal, dan kekal. Bagaimanapun, dunia politik dan dunia seni berada di tempat saling berseberangan. Yang satu material-duniawi dan yang lain rohani. Seni tidak mungkin mengabdi pada kepentingan politik, sebab akan mengingkari kodratnya. Sementara itu, apakah mungkin politik mengabdi kepada seni? Inilah yang kita harapkan. Tetapi, dalam catatan sejarah, mana ada politik mengabdi kepada seni? Memang banyak kekuasaan dalam sejarah yang mengembangkan seni, tetapi itu hanya sebagian saja dari kegiatan duniawinya. Perhatian politik kepada seni tetap demi kepentingan politik.”

Lukisan-lukisan itu tidak sekadar menggambarkan eksotisme alam dan sosial kerakyatan semata. Seringkali dinilai sterotipe dengan realisme yang dibawa oleh SIM (Seniman Indonesia Muda) dan Sanggar Pelukis Rakyat (PR). Hari ini waktu yang tepat untuk mengulik bersama-sama apa itu “realisme revolusioner” yang menjadi jargon SBT. Menurut Misbach Tamrin, “Seniman selayaknya memahami apa itu Politik, tetapi kata Politik yang ditulis dengan huruf  “P” besar, bukan politik yang ditulis huruf “p” kecil. Artinya seniman memahami politik bukan lantas masuk dalam politik praktis.” Kekaryaan mereka adalah sikap dan pandangan politik, dimana melukiskan realitas kehidupan rakyat dengan dibalut dengan peristiwa-peristiwa di baliknya.

Diskusi politik pernah ditampilkan SBT dalam sebuah lukisan potret kolektif yang dikerjakan pasca perhelatan Pameran Bersama Sanggar Bumi Tarung yang kedua pada Juli 2008 di Galeri Nasional Indonesia. Kala itu setelah acara, Misbach Tamrin dan Amrus Natalsya singgah di Mess Galeri Nasional Indonesia, kemudian personil lainnya datang, lalu bersama-sama melukis dan lahirlah karya lukisan Diskusi di Pameran Sanggar Bumi Tarung. Sebenarnya, karya serupa pernah dibuat oleh Misbach Tamrin dengan judul “Diskusi dalam Sanggar Bumi Tarung”. Karya ini diyakini bernilai historis yang sangat kuat, ditandai dengan anggota-anggota SBT yang tergambarkan sedang berdiskusi dengan rasa kekeluargaan, keakraban, dan kehangatan, digarap dengan gaya realis. Terlihat detail-detail dalam lukisan yang menegaskan keberpihakan SBT kepada gerakan rakyat, misalnya buku Pramoedya Ananta Toer yang tergeletak di meja, lukisan celeng (babi hutan) khas Djoko Pekik tergantung di dinding, dan suasana keseharian rakyat jelata yang tergambar di balik jendela.

Mencoba mengulas realisme revolusioner SBT menggunakan metode sejarah yang terdiri atas empat kegiatan pokok yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber yang digunakan terdiri atas arsip, surat kabar, majalah, jurnal, buku-buku, dan sumber audiovisual. Seperti yang kita tahu, SBT yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1961, merupakan sanggar yang berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan mendapat suntikan dana dari LEKRA. Setiap anggotanya otomatis dianggap merupakan anggota LEKRA. Sanggar ini berada di bawah Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) milik LEKRA dan mengamalkan realisme sosial sebagai konsep estetik. Selain itu, sanggar ini juga menggunakan asas, kombinasi, dan metode yang sudah ditentukan oleh LEKRA untuk membuat karya.

Keadaan politik masa itu mempengaruhi semua bidang, termasuk wilayah kebudayaan. Kepribadian Indonesia termasuk ke dalam Manipol USDEK yang digunakan Orde Lama untuk mencari kesenian yang besifat Indonesia. Sementara LEKRA menganggap bahwa realisme sosialis menjadi aliran yang sesuai dengan pencarian tersebut. Realisme revolusioner muncul sebagai jargon pewacanaan SBT, yang muncul sebagai bentuk realisme sosialis Indonesia yang bernuansa lokal dan kontekstual dengan persoalan kebangsaan di awal kemerdekaan. SBT lahir di saat seni rupa internasional sedang marak dengan abstrak dan minimalism.

Dari acuan yang ditentukan oleh LEKRA, SBT berhasil membuat beberapa karya seni lukis dan cukilan kayu yang masih bisa dilacak.Tema yang digunakan dalam karya seniman sanggar ini adalah gambaran rakyat buruh dan tani. Karya yang dihasilkan diharapkan mempunyai peran sosial tidak hanya peran etis. Kelompok anak muda ini kemudian tidak hanya mengamini dan membuat karya–karya seni sosial. Bila ditilik secara visual, akan selalu menempel pada realisme sosialis diprakarsai oleh Maxim Gorky, dan dikenal sebagai aliran seni yang menggambarkan kondisi rakyat. Dalam buku Amrus dan SBT, yang ditulis oleh Misbach Tamrin, tampak dengan tegas SBT bukan sekumpulan seniman yang sekadar ikut-ikutan mengusung semangat realisme sosial. “Kami tidak sekadar mengekor atau berkiblat secara teoritis ke Moskow atau Beijing yaitu mengacu pada teori 1-5-1 sebagai pedoman berkreasi”–aturan tersebut dikenal sebagai 1-5-1 yaitu asas politik sebagai Panglima, Lima Kombinasi, dan Metode Kerja Turba (Turun ke Bawah).

Facebook Comments