PANGGUNG bundar Mingguraya, Banjarbaru, kembali dimeriahkan acara pentas musik tradisional dan modern Banjar, pada Sabtu (25/10/2025) malam. Kali ini Akademi Bangku Panjang Mingguraya (ABPM) menyuguhkan tajuk “Batapung Tawar” sebagai aktivasi telah mulai digunakannya bantuan seperangkat alat musik tradisional gamelan Banjar serta modern bantuan dari Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang diwakili oleh Dirgantara Kusuma dan Nourizalsyam Suwardi.
Sebelum alat-alat musik gamelan Banjar—yang telah tertata di atas panggung dimainkan, acara terlebih dulu dimulai dengan prosesi “Batapung Tawar”, sebuah tradisi masyarakat Banjar yang biasa dilakukan ketika ingin memulai sebuah kegiatan.
“ABPM sengaja mengambil tradisi Banjar ‘batapung tawar’, tujuannya agar diberikan keselataman, keberkahan, dan perlindungan, dalam penggunaan seperangkat sarana yang telah diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” ujar Direktur ABPM H.E. Benyamine saat membuka acara.
Usai pembacaan doa oleh ustad, penapung tawaran pun dilakukan dengan memercikan air ke sejumlah alat musik gamelan Banjar secara bergantian oleh perwakilan dari Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIII Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Dinas Pendidikan Prov Kalsel, Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, dan Direktur ABPM sendiri.
Kepala BPK Wilayah XIII Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Riris Purbasari dalam sambutannya mengatakan, bahwa kegiatan ini adalah bentuk dari sosialisasi dari bantuan pemerintah. “Semoga dapat dimanfaatkan sesuai harapan Kementerian Kebudayaan,” ujar Riris.
Setelah prosesi dan pembukaan, sebanyak 13 seniman muda Sanggar Seni Tradisional Ading Bastari dari Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah—yang memang khusus didatangkan, langsung naik ke atas pentas dan memainkan alat musik tradisional yang didominasi warna kuning emas dan merah.

Seniman Ading Bastari yang mengenakan baju tradisi warna hijau tua dengan laung sasirangan merah bata begitu mahir memainkan alat musik tradisional yang terdiri dari gong, saron, babun, gendang, dan lainnya. Usia mereka terlihat masih sangat belia. Dan seperti diketahui, Barikin memang salah satu daerah yang secara turun-temurun mewariskan seni tradisi, termasuk bermain gamelan Banjar.

Selanjutnya, tampil para anak muda dari SMAN 1 Banjarbaru yang memainkan alat musik modern. Mereka membawakan lagu-lagu Banjar, di antaranya berjudul “Dandaman” dan “Baturai Pantun”. Kemudian disusul penampilan grup musik panting Ruhui Rahayu yang juga membawakan sejumlah lagu Banjar. Ruhui Rahayu sendiri beberapa waktu lalu juga pernah menggelar konser Tunggal “Dundang Langgam Banua” di Mingguraya.

Semua penampilan mendapat sambutan antusias dari para undangan serta pengunjung Mingguraya yang merupakan kawasan jajanan di pusat Kota Banjarbaru. Di antaranya hadir pula Ketua DPRD Kota Banjarbaru Gusti Rizky Iskandar, seniman sepuh Arsyad Indradi, Novyandi Saputra, Direktur Wabul Sawi Festival Hudan Nur, serta sejumlah seniman lainnya.
Benyamine mengatakan, merupakan kebahagian tersendiri bagi Kota Banjarbaru yang telah menerima bantuan berupa seperangkat alat musik tradisional dan modern dari Kementerian Kebudayaan.
“Tidak lain, tujuan dari bantuan ini adalah untuk penguatan komunitas di Banjarbaru demi pelestarian serta kemajuan seni dan budaya,” tuntas pria yang banyak membina anak-anak muda terlibat dalam kerja kreatif ini.@(red)






























