MAU uji kemampuan berpuisi? Sesekali ikutlah di Poetry Slam di Panggung Bundar Mingguraya, Banjarbaru. Ini bukan ajang baca puisi biasa, melainkan peserta diadu berpuisi secara spontan, tanpa teks, dan, pemberian nilai secara langsung begitu peserta selesai membaca puisi.
Seperti pada Jumat (24/10/2025) malam, Poetry Slam hadir di dalam acara Poetry in Action at Mingguraya yang mengusung tema Tanah Air Sumpah Pemuda. Poetri in Action sendiri merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan Akademi Bangku Panjang Banjarbaru yang berlangsung setiap akhir bulan pada malam Sabtu.
Sebelum Poetry Slam dimulai, Naila yang bertugas sebagai pewara terlebih dulu menyampaikan peraturan terkait lomba ini. Dari beberapa aturan yang dibacakan, disebutakan bahwa peserta tidak boleh membawa teks atau membaca teks puisi di atas panggung.
“Puisi yang disampaikan bukan karya puisi yang sudah dihapal, bukan lomba deklamasi, puisi langsung tercipta di atas panggung,” sampai Nae.

Disebutkan juga, bahwa para peserta yang mendapatkan skor tertinggi atau juara dari tiga juri yang juga dipilih secara spontan di lokasi, mendapatkan hadiah.
Jadilah sejumlah peserta mendapaftar ke panitia pelaksana. Ada sekitar 10 peserta yang mendaftar. Rata-rata mereka juga ikut secara dadakan tanpa persiapan.
“Ya, coba aja dululah,” ucap Ali, peserta dari Banjarmasin yang mengaku baru pertama ke acara ini. Ali baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Indonesia.
Satu per satu peserta dipanggil menaiki panggung. Tetapi rupanya, berpuisi tanpa menggunakan teks memberikan pengaruh juga pada nuansa pembacaan. Sebagian besar peserta seperti sedang berbicara saja, atau semacam berorasi, tanpa ada tekanan-tekanan pada vocal ataupun gestur mereka.
“Sulit juga mengolah vocal, sementara kita juga harus secara cepat membuat kata atau kalimat puitis di atas panggung,” aku Kingking, salah satu peserta.
Setiap juri diberikan angka (6-7-8-9), yang ketika peserta selesai berpuisi diacung ke atas agar dapat dilihat oleh peserta, penonton, serta panitia yang bertugas mencatat nilai yang diberikan.
“Penjurian tidak hanya menilai gaya berpuisinya, namun juga isi dari puisi itu sendiri,” jelas Sandi Firly, penulis yang ditunjuk sebagai salah satu juri.
Setelah semua peserta selesai, akhirnya didapatkan nilai tertinggi pertama, yakni ketiga juri memberi nilai 9-9-9 (total 27) atas nama Lukas nama lain Rajudin. Namun nilai tertinggi kedua (26) ada dua peserta yang sama, yakni peserta Adul dan Ibu Ani, keduanya pun kembali diadu, yang akhirnya dimenangkan oleh Adul sebagai juara kedua, dan Ibu Ani juara ketiga.
Para pemenang dipersilakan menaiki panggung dan menerima hadiah yang diserahkan oleh Direktur Akademi Bangku Panjang, H.E. Benyamine.
Benyamine menjelaskan, Poetry Slam merupakan program bulanan Wabul Sawi Festival di agenda rutin Poetry in Action at Mingguraya. “Poetry Slam pertamakali diadakan saat digelar Wabul Sawi Festival pada November lalu. Kemudian menjadi kegiatan rutin bulanan Wabul Sawi Festival yang dibarengkan dengan Poetry in Action,” jelasnya.
Dengan Poetry Slam ini, ucap Bang Ben—panggilan akrabnya, memberikan warna baru pada acara Poetry in Action. “Silakan datang bulan depan, dan adu berpuisi langsung di atas panggung,” ucapnya.(red)























