DALAM kesusastraan Rusia, nama Sergei Yesenin dan Vladimir Mayakovsky adalah dua nama yang sama-sama sohor. Jika Mayakovsky sohor sebagai seorang modernis yang dikagumi tokoh-tokoh besar seperti Pasternak, Akhmatova, Tsvetaeva dan menjadi penyair kebanggaan kaum Bolshevik, maka Yesenin justru sebaliknya; dijauhi para politikus, dibenci elit sastra, dan dicap sebagai ‘tukang onar.’ Meski begitu, puisi-puisi Yesenin yang merupakan perpaduan antara nostalgia kehidupan pedesaan yang sederhana dan ratapan akan hilangnya tradisi keagamaan lama, memiliki tempat khusus di hati pembaca Rusia kebanyakan. Sampai-sampai setiap rumah keluarga terpelajar Rusia di akhir periode Soviet, menyimpan setidaknya satu jilid puisi Yesenin.

Yesenin tak menyukai puisi Mayakovsky. Menurutnya, puisi Mayakovsky terlalu industrial dan sok revolusioner. Sementara Mayakovsky, menyayangkan bakat besar Yesenin sekadar dihabiskan untuk mendeskripsikan alam – Mayakovsky ingin agar Yesenin mendukung Bolshevisme.

Puncak ketegangan antara keduanya terjadi di sebuah acara pembacaan puisi terbuka di mana Yesenin meneriaki Mayakovsky, “Rusia aku punya! Kau Amerika!”. Teriakan itu dibalas dengan tak kalah lantang oleh Mayakovsky, “Ambil saja! Makan kau punya Rusia dengan roti!”.

Sebenarnya, Yesenin tidaklah antipati terhadap Bolshevisme. Di masa revolusi Oktober 1917 ia bahkan berdiri di barisan kaum Bolshevik. Akan tetapi ketika hari-hari berikutnya ia saksikan betapa kelaparan, kehancuran dan teror terjadi di mana-mana, ia tak lagi percaya pada Bolshevisme. Dalam sebuah surat yang ia tujukan kepada Yevgeniya Livshits, Agustus 1920, Yesenin menulis, “Aku sekarang merasa sangat sedih karena kita sedang melewati periode sejarah di mana individualitas manusia dihancurkan dan sosialisme yang akan menghampiri kita tidak seperti yang aku bayangkan.”

Dua tahun menjelang akhir kehidupannya, Yesenin makin tenggelam dalam alkohol. Perubahan Rusia dari negara agraris menjadi negara industri yang kompleks ditambah kehidupan rumahtangganya yang tidak bahagia benar-benar membuat Yesenin goncang. Sampai pada dinihari 28 Desember 1925, di sebuah kamar hotel di Leningrad, Yesenin menggantung diri setelah sebelumnya mengiris pergelangan tangan dan menulis puisi perpisahan dengan darahnya.

“Dalam hidup ini mati bukanlah hal baru, tetapi, tentu saja, tak ada hal baru dalam hidup.”

Tak lama setelah peristiwa bunuh diri Yesenin, para penyair terkemuka Rusia diundang untuk memperingati kematiannya. Mayakovsky yang juga hadir dalam peringatan itu, dengan kesedihan yang tak tertahankan, menulis puisi “Kepada Sergei Yesenin” dengan larik terakhir yang ia variasikan dari puisi Yesenin sendiri.

“Di planet kita ini, kebahagiaan sangat langka.
Kita harus merebutnya dari masa depan selagi kita bisa.
Dalam hidup ini, mati bukanlah hal yang sulit.
Tetapi membangun dunia yang layak bagi manusia itu sulit.”

Beberapa tahun kemudian, 14 April 1930, Mayakovsky, pun mengakhiri hidup dengan menembakkan pistol, tepat di jantungnya.@