PELUKIS Misbach Tamrin dan Badri Hurmansyah menggelar pameran di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bertempat di Badri Gallery, Jalan Kinibalu, Kota Palangka Raya. Pameran yang berlangsung 27 Juni hingga 08 Agustus 2026 itu mengangkat tema “Menubuh Waktu”.
Misbach dan Badri adalah dua generasi seniman seni rupa yang berjarak waktu cukup jauh. Misbach, lahir di kampung Kabun, Amuntai, 25 Agustus 1941, telah menggores kanvas kehidupan seninya sejak tahun 60-an. Sementara Badri, lahir di Barito Selatan 1 Januari 1995, adalah seorang seniman muda yang mulai mengetengahkan karyanya tahun 2020-an.
Tema “Menubuh Waktu” barangkali merefleksikan waktu pada perjalanan panjang yang telah ditempuh seorang Misbach dalam dunia warna, pun pada Badri sebagai yang bakal menempuh dunia yang sama pada masa-masa yang datang.
“’Menubuh Waktu’ menjadi semacam bingkai yang mencoba menghadirkan kembali, atau memadatkan, waktu sebagai sesuatu yang niscaya meruang, menjadi bagian dari perjalanan bahkan identitas tubuh itu sendiri,” tulis Hajriansyah, dalam catatan kuratorialnya.
Dalam pameran ini, lanjut Hajri, tubuh waktu tersebut terwakili oleh karya-karya seniman yang berpameran. Pengalaman, perasaan dan cara bersikap dibentuk terus menerus seiring waktu yang berjalan, di antaranya melalui karya yang dihasilkan, yang merupakan respons atas pengalaman di dalam waktu tersebut. Semangat, lalu pengalaman susah-senang, kegelisahan, kegetiran tertentu membentuk cara pandang seseorang atau seniman yang terekspresikan melalui karyanya.
Menurut Hajri, seseorang yang pernah larut dalam arus besar pemikiran dalam dinamika sejarah bangsanya, lalu kemudian menjalani suatu “konsekuensi” atas sikap-tindakannya dalam payah getir kehidupan, akan membuat karya-karya yang khas, yang autentik berdasar pengalamannya tersebut.
“Misbach contohnya, dengan ‘realisme revolusioner’ yang diusungnya sebagai suatu aliran atau ideologi kesenian, menghasilkan karya-karya realis yang memiliki muatan idelogi ‘revolusioner’. Yang tidak diam melihat ketidakadilan atau ketimpangan sosial, yang menggugat atau mengkritik bentuk-bentuk dominasi sosial yang timpang,” jelasnya.
Sebaliknya Badri, lanjut Hajri, yang lahir dan tumbuh dalam alam ‘liar’ Kalimantan dengan hutan dan sungai-sungainya, lalu kemudian belajar kesenian di alam metropolitan yang kompleks, ia membawa kenangan dan refleksi masa lalunya atas kenyataan sosial, persoalan lingkungan hari ini yang saling berbenturan. Antara yang virtual-imajinal dengan kebutuhan-kebutuhan hiburan yang niscaya.
Pameran kali ini bagi Misbach barangkali adalah semacam “pertarungan ulang”, atau ia sebenarnya “petarung tangguh”, setelah beberapa pameran yang dijalaninya seakan diyakininya sebagai pameran terakhir. Betapa tidak, seperti pada pamerannya di Galeri Nasional (Galnas) Jakarta, Juni 2024, bersama karya-karya kawannya di Sanggar Bumi Tarung (SBT) seperti Amrus Natalsya, Djoko Pekik, dll, ia memberi judul “Sampai Batas Tarung”, seakan itu menandakan batas dari pertarungan dirinya dalam berkarya dan berpameran.
Tak sekali dua Misbach berucap perihal usia senjanya, dan kawan-kawannya di SBT yang telah “habis”—satu persatu meninggalkannya sendiri, terakhir yang wafat adalah Gumelar, yang sempat ditemuinya saat berpameran di Galnas pada 2024 lalu itu. Tetapi rupanya waktu belum berhenti pada tubuh seorang Misbach. Hingga usianya menjelang 85 tahun, ia masih tegap dan berkarya. Bahkan ingatannya pun masih tajam dan jernih, hanya pendengarannya yang melemah.

Penyair dan pekerja seni budaya Kalteng, Kusni Sulang, rekan seangkatan Misbach di Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat), menyinggung pula perkara tentang tubuh dan waktu ini saat memberikan sambutan pada pembukaan pameran “Menubuh Waktu” di Badri Gallery, Palangka Raya.
“Misbach tidak mau mati. Hanya dia sadar bahwa waktu tidak terelakkan menambah umur kita. Tapi, bicara umur tidak berarti harus bicara mati. Tidak. Seribu tahun lagi, misal. Karena ada banyak hal yang harus dikerjakan. Pameran kali ini adalah untuk kesekian kalinya Misbach menjawab permintaan saya agar tidak memikirkan mati. Hiduplah untuk berkarya,” ucap Kusni, yang di usianya menjelang 86 pada September 2026 nanti ini masih terlihat bersemangat.
Pada pameran “Menubuh Waktu” Misbach Tamrin menampilkan 9 karya lukisnya yang rata-rata berukuran besar, sementara Badri menampilkan 3 karya lukis yang juga berukuran besar, dan 6 karya instalasi. Sejumlah karya baru Misbach berlini masa tahun 2026 di antaranya berjudul “Pejuang Keadilan”, “Tulak Sholat Subuh Berjamaah”, “Tokoh DPR Berorasi”, dan “Perang Iran”.

Misbach masih setia pada gaya yang dinamakannya “realisme revolusioner” dengan garis-garis vertical terang-gelap. Semisal pada lukisan“Tokoh DPR Berorasi” yang memperlihatkan seseorang tengah berpidato sembari memegang gambar neraca keadikan dengan disaksikakan barisan orang-orang, sementara beberapa “rakyat” mendekat seakan ingin protes. Tampak latar Gedung Senayan, Monas, dan gedung-gedung menjulang.

Juga ada lukisan berjudul “Perang Banjar”—berukuran besar, 250 cm X 130 cm, yang memperlihatkan sosok Pangeran Antasari berada di tengah rakyat Banjar, seolah sedang menggelorakan perlawanan terhadap kolonialisme.
Adapun Badri menyuguhkan karya di antaranya berjudul “Tubuh dan Akar Alam” (2026, Cat Akrilik di Kanvas, 150 cm x 200 cm), yang memvisualkan banyak pasang mata di antara sepasang mata wajah seorang anak kecil dan burung hantu. Obyek mata sepertinya menjadi pilihan khas Badri, karena juga kerap terlihat pada lukisan-lukisannya yan lain. Juga ada lukisan lawasnya (2019) berjudul “Keinginan” dan “Ketenangan”, masing-masing adalah wajah masa kecil Badri sendiri. Selebihnya, Badri menghadirkan karya-karya instalasi dengan nuansa “kekinian”.


“Beberapa karya yang saya tampilkan ada lukisan dan instalasi. Dalam pameran ini saya menampilkan karya yang mewakili tentang pentingnya pengaruh tempat tinggal, tentang alam. Yang berperan penting bagi tubuh. Bagi saya alam adalah bagian dari bentuk tubuh kita,” ujarnya kepada asyikasyik.com di sela penjurian seni rupa mahasiswa di kampus Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Kamis (25/06/2026).
Badri tak menutupi rasa bangganya bisa berpameran berdua dengan Misbach Machtrin. “Sebuah kesempatan pameran yang sangat berharga bagi saya bisa berpameran dengan seorang maestro senir rupa Indonesia, Pak Misbach Tamrin,” ucapnya.
“Menubuh Waktu” telah dibuka dan terbuka untuk dimasuki. Menyaksikan karya-karya di sana, merenangi alam pikiran kedua seniman yang mewujud pada bentuk. Sekaligus waktu.@
























