setengah lima
di samping jendela
ibu memasak
ayah di mana?
luka air mata
menjadi doa
di Batulicin
ombak menjaga
Itulah penggalan lagu bagian chorus 1 lagu”Batulicin” karya musisi Puja Mandela yang juga jurnalis. Lagu folk yang baru dirilis ini merekam kenangan tentang kota yang membesarkannya melalui fragmen-fragmen kehidupan sehari-hari.
Lirik sederhana dengan musik yang juga sederhana, didominasi gitar akustik dan harmonika, “Batulicin” mengalun seakan menghadirkan potongan-potongan kehidupan yang berkelindan dengan kenangan.
“Batulicin mungkin bukan tempat paling nyaman untuk tinggal, tapi ia sudah menjadi kota kecil yang menghidupi, dan terus tumbuh hingga hari ini,” ujar Puja Mandela kepada asyikasyik, Minggu (09/97/2026).
Bagi pria kelahiran Banjarmasin, 13 April 1989 itu, Batulicin menyimpan jejak kehidupan paling penting dalam dirinya. Di era 1990-an, katanya, riuh panggung musik anak muda, rental PlayStation dengan tarif Rp2.000 per jam, aroma laut yang terbawa angin, jalanan berlumpur saat hujan, debu yang beterbangan ketika matahari terik, para perantau yang datang membawa harapan, hingga dua insan yang kembali bertemu di sebuah dermaga.
Bagi Puja, salah satu ruang yang paling membekas adalah kawasan Pasar Lama Batulicin, tempat almarhum ibunya dilahirkan dan dibesarkan.

“Kawasan itu menjadi saksi berbagai kenangan masa kecil, kehidupan keluarga, persahabatan, hingga pengalaman-pengalaman sederhana yang kemudian menginspirasi lahirnya lagu ini,” tuturnya.
Penulis buku esai “Tak Semua Hal Harus Masuk Akal” itu memainkan sendiri gitar, harmonika, serta mengisi vokal. Sementara proses rekaman, mixing, dan mastering dikerjakan oleh Prima Yuda Prawira. Seluruh proses produksi lagu ini diselesaikan dalam waktu sekitar tiga jam.
Alih-alih meromantisasi kampung halaman, “Batulicin” memilih merekam kota sebagaimana adanya. Kota ini tidak digambarkan sebagai tempat yang sempurna, melainkan sebagai ruang hidup yang membentuk orang-orang di dalamnya.
Salah satu kekuatan “Batulicin” terletak pada cara Puja membangun cerita melalui detail-detail kecil. Hampir setiap bait menghadirkan adegan baru sehingga lagu bergerak layaknya sebuah film pendek yang berpindah dari satu kenangan ke kenangan berikutnya.
Baris “Setengah lima/di samping jendela/ibu memasak/ayah di mana?” menjadi salah satu contohnya. Tanpa banyak penjelasan, empat baris itu justru membuka ruang tafsir yang luas.
Tidak ada pengulangan bait dari awal hingga menjelang akhir. Repetisi baru muncul pada penutup melalui kalimat “Di Batulicin, kita bertemu”, yang menjadi penegasan emosional atas seluruh perjalanan yang diceritakan sebelumnya.
Melalui detail-detail yang sederhana itu, “Batulicin” tidak hanya bercerita tentang satu kota, tetapi juga tentang pengalaman yang akrab bagi banyak orang: tumbuh, pergi, pulang, dan mengenang.
Puja Mandela berharap lagu ini tidak hanya menjadi cerita tentang satu kota. “Saya ingin mengajak pendengar mengingat kampung halaman, masa muda, dan orang-orang yang pernah memberi arti dalam hidup mereka,” ucapnya.
“Batulicin” kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital, termasuk Spotify, YouTube Music, dan Apple Music. Video musiknya juga sudah bisa disaksikan melalui channel Puja Mandela Official.(red)
BATULICIN
Penulis lirik: Puja Mandela
bising suara
gitar meraung
para pemuda
naik ke panggung
asin angin laut
masuk ke hidung
di batulicin
ego bertarung
pulang sekolah
kawan menunggu
sewa satu jam
cuma dua ribu
tawa yang renyah
tergilas waktu
di Batulicin
roda melaju
Chorus 1
setengah lima
di samping jendela
ibu memasak
ayah di mana?
luka air mata
menjadi doa
di Batulicin
ombak menjaga
Interlude
hujan berlumpur
panas berdebu
kisah yang dulu
kita yang tahu
perantau datang
mengangkut mimpi
di Batulicin
peluh berlari
Chorus 2
kau pegang tanganku
di dermaga itu
senyum tak palsu
menjelma lagu
hitam rambutmu
selalu mengganggu
di batulicin
kita bertemu
di Batulicin
kita bertemu
Sabtu, 11 Juli 2026























