DI RUAS Jalan Gotong Royong, Kelurahan Loktabat Utara, Kota Banjarbaru, pada 30–31 Juli 2025, sepanjang jalannya dihiasi warna-warni spanduk Aruh Pemuda Kalimantan Youth Conference 2025. Lokasi kegiatan ini tak kalah bermakna, yaitu Gedung Pangeran Antasari di kawasan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Selatan, tempat perjumpaan gagasan-gagasan muda yang membangun.
Mengusung tema “Gawi Baimbai Bangun Banua: Aksi Pemuda Bersuara, Pemuda yang Berdaya”, forum ini menjadi ruang bersama bagi anak-anak muda dari berbagai penjuru Kalimantan. Diinisiasi oleh BASAkalimantan Wiki (BkW) dan didukung pemangku kebijakan, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong masih berdenyut dalam nadi generasi muda Kalimantan.
Hudan Nur, Koordinator Program BkW, menjelaskan bahwa forum ini dirancang sebagai inovasi partisipatif. “Aruh Pemuda Kalimantan 2025 adalah tempat di mana pemuda bersuara membahas isu-isu strategis serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah dan nasional,” ucapnya dengan yakin.

Sekitar 160 peserta dan 20 co-initiator dari beragam latar belakang berkumpul, lalu dibagi dalam 10 kelompok diskusi. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten III Administrasi Umum Setdaprov Kalsel, Dinansyah. Hari pertama diisi dua agenda utama: sesi plenari tentang gerakan pemuda Kalimantan, dan panel peningkatan kapasitas yang membekali peserta dengan kemampuan problem solving, critical thinking, dan persuasive writing.
Sri Mariati Soraidah membuka sesi dengan pemaparan lugas mengenai penyelesaian masalah. Hajriansyah melanjutkan dengan mengurai teknik menulis persuasif, seni meyakinkan dengan logika dan empati. Terakhir, Harla Sarra Octara membicarakan daya pikir kritis sebagai bekal penting untuk generasi masa depan. Suasana diskusi semakin hidup kala suara pertanyaan peserta menggema, menciptakan ruang yang tak hanya menyimak, tapi juga menantang pemikiran.

Di antara deretan peserta muda, Andri Fawas (16), pelajar SMAN 1 Banjarmasin, menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi Pegunungan Meratus yang mengalami degradasi ekologis buntut aktivitas industri ekstraktif, yaitu pertambangan. “Sangat disayangkan gunung-gunung yang indah dan bagus malah ditambang. Forum ini menjadi wadah bersuara dan motivasi pemuda untuk bangkit. Diharapkan ruang-ruang diskusi seperti ini diperbanyak lagi,” ujarnya, dengan semangat kelestarian yang tergambar jelas lewat seragam sasirangan hijau yang ia kenakan.
Sementara itu, Maudy Pramitha (21) dari NewLevelU.id mengangkat isu inklusivitas dan kolaborasi lintas sektor. Ia menyambut baik atmosfer kegiatan. “Kegiatannya menarik, inklusif, dan cukup mengakomodir pandangan peserta. Semoga hasilnya membawa dampak nyata bagi masyarakat dan peningkatan kualitas intelektual pemuda Kalimantan, agar tak sekadar terlatih tampil, tetapi benar-benar mampu bersaing,” katanya.
Tak hanya sesi formal, kegiatan juga diramaikan dengan interaksi santai seperti permainan Pesta Kosakata. Di tengah era digital, permainan tanpa gawai ini jadi bukti bahwa kesenangan tak harus bersandar pada layar. Ia merangsang daya pikir dan membangun koneksi antar peserta, terutama mereka yang masih dalam masa pertumbuhan.
Salah satu isu hangat datang dari kelompok yang difasilitasi oleh Deavindy Amanda Gresita (21) dari Pepelingasih Literasi Kalsel. Kelompoknya mengangkat masalah pernikahan usia anak. “Pernikahan anak di Kalimantan Selatan melibatkan usia 15–19 tahun. Di beberapa daerah, angkanya bahkan di atas 30%, dan ini berkaitan erat dengan tingginya angka stunting,” ujar Dea, mengenakan sasirangan merah hati. Ia menekankan bahwa suara anak muda dibutuhkan untuk memutus mata rantai isu krusial ini.
Hari kedua menjadi momentum penting. BASAibu Wiki membuka ruang “Kesempatan Bersuara”, lalu dilanjutkan sesi voting dan perumusan kesepakatan bersama.
Hasil dari proses ini akan dituangkan dalam bentuk rekomendasi aksi dan deklarasi komitmen pemuda untuk masa depan Banua.
Aruh Pemuda Kalimantan 2025 bukan hanya forum. Ia adalah cermin harapan, ladang bertumbuhnya gagasan, dan ruang di mana suara anak muda tak hanya didengar, tetapi juga diolah menjadi pijakan langkah.
Di balik forum ini, BASAkalimantan Wiki layak mendapat apresiasi tinggi. Konsistensinya membangun ruang belajar dan bersuara bagi pemuda di Kalimantan patut dijadikan teladan sebuah karya kolektif yang menjahit masa depan dengan benang partisipasi dan semangat gotong royong.@























