BANJARBARU, 31 Juli 2025‒Matahari pagi perlahan menyibak tabir gelap cakrawala subuh yang masih menyelimuti Kota Banjarbaru. Lelap berganti terjaga. Di sela hiruk-pikuk kendaraan yang menjemput rezeki, dan langkah para pelajar yang menyusun masa depan, semangat juga tumbuh dari Gedung Pangeran Antasari, kawasan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalsel, Jalan Gotong Royong. Di sanalah 160 peserta dan 20 co-initiator Aruh Pemuda Kalimantan 2025 kembali melanjutkan lembaran sejarahnya, membicarakan masa depan Kalimantan lewat suara pemudanya.
Agenda hari kedua adalah diskusi kelompok. Sepuluh kelompok terbentuk, masing-masing didampingi dua co-initiator, untuk menggali lima isu penting: partisipasi dan kepemimpinan, perkawinan usia anak, kelompok NEET (Not in Education, Employment, or Training), kesehatan mental, serta keterampilan dan kecerdasan buatan (AI). Gedung itu berubah menjadi panggung orkestra gagasan. Kadang hening dalam renungan, kadang riuh oleh lontaran ide. Gelombang sunyi dan semangat dari setiap meja-meja kelompok itu mengalun hingga akhir sesi diskusi.
Satu per satu, dua perwakilan dari tiap kelompok naik ke panggung. Masing-masing diberi waktu tiga menit untuk menyampaikan rekomendasi serta menanggapi pertanyaan dari kelompok lain.
Di antara semua topik yang dibawakan dengan menarik, salah satunya berasal dari kelompok 3 dengan isu NEET. Rudi Silaban (35), dari PRSPD Iskaya Banaran, menyoroti kesenjangan yang dihadapi kelompok disabilitas pasca pelatihan keterampilan.
“Kawan-kawan disabilitas yang mengikuti pelatihan tata boga, bengkel, menjahit, dan pangkas rambut selama enam bulan kesulitan mencari pasar. Seperti ada keraguan dari masyarakat untuk menggunakan produk atau jasa mereka,” ujar Rudi.
Ia membawa secercah harapan melalui Aruh Pemuda Kalimantan 2025 inisiasi BASAkalimantan Wiki (BkW), yaitu gerakan membeli produk atau menggunakan jasa kelompok disabilitas satu bulan sekali.
“Banyak jasa dan produk bermanfaat yang mereka hasilkan, seperti jasa pijat, tas buatan tangan, hingga makanan olahan,” imbuhnya bangga.
Rudi juga memberikan masukan penting bagi seluruh pihak dalam penyelenggaraan kegiatan yang diproyeksikan berkelanjutan itu. “Dari dua hari ini, saya kira persoalan kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai kita bicara besar, tapi lupa akan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya,” tutupnya sambil tersenyum.
Selain diskusi, peserta juga mengikuti voting untuk memilih isu prioritas yang akan diangkat oleh BkW dalam Wikithon Partisipasi Publik 2025–2026. Hasilnya 21,5% memilih kesehatan mental, disusul kelompok NEET (20,8%), partisipasi dan kepemimpinan (20%), serta perkawinan usia anak (19,2%).
Sebelum kegiatan ditutup, peserta mengisi survei kegiatan. Lalu Diang Anggrek, tim BkW selaku pembawa acara, mengucapkan salam penutup beserta harapan pertemuan yang berlanjut.
Kegiatan pun berakhir dengan gemuruh suara pemuda. Anggrek menyerukan jargon khas BkW: “Pemuda bersuara, berdaya!” Dan disambut pekik serempak dari seluruh peserta. Mengiringi matahari terbenam di ufuk barat langit Banjarbaru.@


























