Hari Pertama
Pesawat menukik turun menuju landasan bandar udara yang dinamai berdasarkan nama dua proklamator Indonesia. Kakiku menapak tanah Jakarta, kering, dan padat oleh kuda besi di jalan-jalan bertingkat. Aku tidak asing dengan tanah ini; aku lahir di sisi timur Jakarta. Namun, baru sekali seumur hidupku Tuhan mengizinkan aku mengenali kota ini saat mataku sudah mengerti arti ketimpangan. Bagiku, kota ini tidak asing sebab manusia-manusia di sini tetaplah saudara sepuakku. Saudaraku yang juga mengecap kerasnya kota, layaknya di Banjarmasin, di Balikpapan, atau di kota-kota besar lain yang pernah aku kunjungi.
Siang itu, dipayungi langit abu, aku menuju Bogor. Konon, di sanalah sumber air bah yang menghantui Jakarta. Hujan Bogor turun syahdu, menyuburkan rumputan hijau untuk makanan rusa di istana tempat presiden-presiden memikirkan kepentingannya. Aku kedinginan.
Malam tiba dan hujan masih belum reda sepenuhnya. Seorang kawan menjemputku, mengantarkanku ke Universitas Pakuan, sebuah universitas swasta yang sudah berusia 44 tahun. Tidak banyak yang berbeda antara kampus di Bogor dan di Kalimantan: pola kehidupan mahasiswa, penuh kegiatan organisasi mahasiswa, dan beberapa lingkaran diskursus kecil yang mengobrolkan revolusi. Kadang, diselingi satu atau dua botol intisari.
Hans, adalah kawanku yang berkuliah di Universitas Pakuan. Ia tumbuh besar di kota yang sama denganku. Kami menempuh pendidikan di SMP yang sama sebelum ia pindah mengikuti orang tuanya ke Bogor. Sebagaimana mahasiswa yang aktif dalam pergerakan, ia menyodorkan pembicaraan seputar gerakan mahasiswa Bogor. Begitu serius ia membahas satu patologi organisasi mahasiswa: senioritas.
“Di sini, banyak senior-senior organisasi yang suka ikut-ikutan ngatur urusan juniornya. Intervensinya mau gak mau harus diturutin meski belum tentu benar,” ujar Hans dengan jengkel. “Feodal!”, tambahnya lagi.
Hidup ini adalah misteri, ucap Eysuer dalam judul lagunya yang bernuansa Papua. Selepas dari kampus itu, kami menuju Surya Kencana, sebuah daerah ala China Town, penuh warna merah dan ornamen Tionghoa. Aku menemui dua kawan dari Kalimantan Tengah, mengobrol panjang lebar, mengikuti magrib berjalan menuju isya, dari isya menuju tengah malam. Tidak banyak yang bisa aku tulis, selain tentang orang-orang tunawisma yang tidur di emperan toko pinggir jalan. Di sudut gelap tak terjamah lampu Botani Mal Square, mereka bersembunyi, mencoba menutup mata, berharap waktu menutup kisah pilu hari ini.
“Kota ini menyimpan ketimpangan. Di balik bangunan megah, banyak tempat yang menyedihkan untuk dilihat. Tunawisma dan kampung yang terhimpit,” sahut Hans setelah kukatakan banyak sekali tunawisma di jalanan kota.
Bogor menambah episode ketimpangan yang terpampang di mataku. Ia disalahkan sebab mengirim air bah ke Jakarta, sedangkan kita lupa bahwa intensitas banjir meningkat ketika fungsi penyerapan air menurun di daerah puncak, di lereng Gunung Salak yang sudah terurbanisasi. Kita lupa tentang investasi mewah berwujud vila yang tidak pernah kita jamah karena uang kita tidak cukup untuk menyewa satu kamar. Fungsi serapan air tidak lagi optimal, sementara hujan selalu turun di Bogor. Di tengah kota, orang-orang bersikeras membangun hidupnya, meski hidup tidak pernah ramah. Kini, Jakarta, besok aku datang lagi untuk lebih mengenalimu melalui mulut-mulut orang yang tidak pernah kau dengar.
Bogor, 29 Oktober 2025

Hari Kedua
Pagi-pagi sekali, matahari langit Bogor menyombongkan zatnya dengan sinarnya yang menembus jendela kamarku. Tak terhalangi sedikit pun oleh gedung rumah sakit Siloam yang kokoh tinggi berdiri. Aku menuju Jakarta hari ini. Ke kota yang menyambutku pertama kali setelah kutinggalkan Pulau Kalimantan.
Truk-truk entah membawa apa berlarian di Jagorawi. Entah pula ia berasal dari mana, yang jelas tujuannya adalah Jakarta, sudah pasti. Di Jakarta, aku menuju sisi utaranya, tepatnya Pademangan. Mataku melihat visual kota yang sungguh tidak pernah mati.
Di sisi kanan ITC Mangga Dua, kakiku melangkah. Ada penjual es gerobak yang menarik perhatianku. Ramai dengan tukang bajaj dan ojek yang asyik berbincang dan tentunya es yang menyegarkan. Cuaca Jakarta begitu panas, membuat kering tenggorokan. Segelas es cincau lebih berharga ketimbang batu bara dalam situasi ini, meski sama-sama hitam. Terdengar dialek Jawa Ngapak ketika mereka berbincang.
Aku mengajak dua di antara mereka untuk berbincang. Warjo, pria 70 tahun dari Pamulang, Jawa Tengah, yang berprofesi sebagai tukang bajaj. Ia sudah hijrah ke Jakarta sejak tahun 80-an.
“Dulu, sebelum Mangga Dua dipenuhi gedung beton, di sini hanyalah kampung yang cenderung kumuh,” ucapnya dengan kesan seolah memiliki arsip sejarah Jakarta.
Begitu lama di Jakarta, tentulah ia menyaksikan betapa wajah kota ini berubah dari masa ke masa. Urusan pendapatan, misalnya, dulu sekali ia bisa mendapatkan tujuh ratus hingga delapan ratus ribu per hari. Kini, dua ratus ribu sudah menjadi target maksimal. “Itu pun empot-empotan,” tuturnya lagi.
Rokok terbakar diam di mulutnya yang siap berbicara kapan pun. Ia mengakui Jakarta begitu keras untuk dihadapi sendiri. Berbincang adalah obat yang paling mudah didapat tanpa harus dibeli.
Bernard, kawanku berbincang selain Warjo. Ia adalah seorang tukang ojek, berusia kurang lebih 30-an. Ia pun berasal dari Jawa Tengah yang hijrah ke Jakarta sejak tahun 2000-an, entah kapan pastinya. Ia banyak bertanya tentang Dayak dan kabar IKN (Ibu Kota Nusantara), penuh rasa penasaran. Aku tidak hanya bertanya, namun akhirnya aku juga harus menjawab. Syukurnya, ia juga menanyakan hal sederhana. “Abis ini mau ke mana, Bang?” tanyanya.
Kujelaskan aku ingin menuju Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan. Terkekeh ia sebab ujarnya di sekitar pukul 4 sampai 5 sore, menuju Mampang akan memakan waktu hampir atau bahkan satu jam. Macet adalah hantu di sini.
Ia melihat Jakarta sebagai kota yang siap menampung siapa pun, namun tetap dengan seleksi alam yang berjalan. Bekerja adalah keharusan. Menjual diri (melacur) pun dilakukan asal piring penuh nasi. Bernard menantangku untuk membuktikan bahwa ucapannya benar. “Berjalanlah nanti di sekitar penginapan tepat setelah isya,” ujarnya.
Malam tiba. Di bilik kamarku, hampir tidak dapat kubedakan apakah sedang siang atau malam sebab suaranya hampir tidak berbeda: bising. Jakarta hujan malam ini, deras tapi ragu. Memainkan waktu, seolah akan reda namun beberapa saat ia kembali berlagu.
Aku menuluskan niatku untuk berangkat ke Mampang Prapatan. Kupesan taksi daring dan menentukan titik jemput serta titik antar. Roy, nama pengemudiku malam ini. Seorang Betawi berusia 66 tahun. Jarak yang akan kami tempuh hanyalah sejauh 15 kilometer, namun estimasi perjalanannya adalah 67 menit. Sungguh gila Jakarta, ujarku.
Roy berpengalaman delapan tahun sebagai pengemudi daring. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh proyek di beberapa perusahaan. Aku tidak terlalu menyoal pengalaman kerjanya, selama ia asyik diajak mengobrol. Menempuh jalanan Jakarta yang suram dan beringas. Aku banyak bertanya tentang gedung di kiri kanan kami. Bagaimana bisa gedung ini tumbuh subur.
Roy, orang yang hidup dan mungkin matinya akan dikubur di Jakarta, menjelaskan secara tidak gamblang. Ia juga kebingungan. “Dulu, kagak ada yang lebih tinggi ketimbang Monas, sekarang kayanya Monas udah cebol,” kelakarnya.
Sebagai warga Jakarta, ia tidak pernah masuk bahkan ke lantai dasar gedung-gedung tinggi itu. Sawah bahkan tidak lagi ia temui. “Sekarang gue tinggal di Tangerang Selatan, ya lebih bisa napas ketimbang di tengah Jakarta,” tambah Roy.
“Jadi, Persija Jakarta atau Persita Tangerang?” ucapku memancingnya. “Ahh, gue gak ngikutin bola lokal, banyak mafianya!” balas Roy sebelum kami tertawa bersama melihat nasib liga tempat dua klub sepak bola yang kotanya memiliki Sungai Ciliwung di Jakarta dan Cisadane di Tangerang. Ia tipe pria yang menyenangkan dan sedikit rebel.
Kami tak bisa menuju Mampang malam itu. Banjir menghalangi kami. Total, ada lima puluh empat RT terendam banjir dengan kedalaman air 160 cm di sekitar daerah yang kami tuju. Sialan. Kami tidak ingin memaksakan, balik kanan dan mencari warung makan adalah hal yang kami pilih. Bernard benar, Mampang tidak mudah dituju ketika sore menjelang malam, apalagi bila banjir datang. Syukurnya, Roy adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Namun, soal dunia malam yang dikatakan Bernard, aku tidak ingin tahu. Pun jika aku tahu, aku tidak akan menulisnya di sini.
Kota ini adalah kota pekerja, baik formal atau informal. Jakarta memaksa manusia berkorban waktu untuk rupiah yang tak pasti. Berangkat bekerja lebih awal, pulang lebih larut adalah strategi bagi pekerja informal seperti Warjo, Bernard, dan Roy. Jakarta memang didesain cepat untuk orang-orang yang memiliki akses dan sumber daya melimpah. Sementara untuk orang-orang kecil, hidupnya dituntut cepat meski ia tahu kakinya begitu lambat.
Sekian catatan hari pertama di Jakarta. Aku bertukar Instagram dengan Bernard sebab hidup adalah misteri, mungkin ia akan ke Kalimantan atau aku yang ke Jakarta lagi. Besok, masih ada satu hari di Jakarta sebelum kembali ke Kalimantan.
Jakarta, 30 Oktober 2025

Hari Ketiga
Hari kedua di Jakarta. Sebagai pelancong, aku tidak punya alasan untuk bangun lebih pagi. Biarlah bermalas-malasan, membiarkan dering alarm ponselku sibuk sendiri. Pukul 09.30 WIB, mataku terbuka sepenuhnya. Waktu bangun yang jarang kutemukan di hari kerja.
Jumat, tujuanku lebih ringan. Hanya ke Masjid Istiqlal dan beberapa tempat dekat Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, di Istiqlal, aku hanya berkeliling dan mengobrol.
Adit, anak gaul dari Jakarta Barat yang seusia denganku. Mengenakan baggy jeans hitam enam kantong, tshirt dikemas flanel merah, dan topi korduroi. Kesamaan usia membuat kami lebih lancar berinteraksi. Aku menemuinya duduk sendiri di seberang Gereja Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Kuamati, ia sibuk dengan gawainya. Gawai itu ia gunakan dengan penuh harapan sebab ia sedang mencari pekerjaan dengan upah layak. “Kerja mah banyak, cuma upahnya yang layak susah banget nyarinya,” keluh Adit sambil mengembuskan asap rokok. Ia balik bertanya soal pekerjaan di Kalimantan. Menarik baginya yang muda untuk bekerja di luar daerah.
Obrolan kami begitu singkat. Ia bergegas untuk salat Jumat. “Bray gue duluan ya, gue udah absen dua minggu,” tutupnya sebelum kami bersalaman. Tidak lupa, aku menyarankan aplikasi pencari kerja yang kiranya akan bermanfaat baginya, bagiku pula kelak.
Waktu salat Jumat usai. Aku melanjutkan perjalanan ke Bandara sambil mengamati dan sedikit berkeliling. Di sepanjang jalan tol menuju Bandara yang tidak kuketahui nama daerahnya, aku melihat rumah-rumah berjejeran di bawah jalan. Lebih tampak seperti gubuk yang bertumpuk sampah plastik di halamannya. Dibelah sungai yang kotor, manusia di kampung-kampung itu merayakan hidupnya. Ada sepetak tanah dengan menara listrik menjulang tinggi di tengah kampung itu. Di sisi kaki menara, ada warga yang bertani. Sungguh hijau dan subur. Indah, bukan? Gedung-gedung tinggi tidak bisa menutup keindahan itu.
Keadaan inilah yang menjadi benang merah dari seluruh perjalanan ini. Dari Bogor yang syahdu dengan kabutnya yang menyembunyikan vila-vila mewah di lereng Gunung Salak, hingga Jakarta yang bising di mana gubuk-gubuk di bawah jalan tol bersanding dengan menara kaca pencakar langit. Aku datang untuk mengenal kota-kota ini dari mulut orang-orang kecil, dan kini, aku pergi membawa satu kesimpulan: kota-kota ini adalah panggung sandiwara yang besar, tempat pengisapan dan ketimpangan berlomba dalam satu bingkai yang sama, memaksa setiap aktor, baik tunawisma, buruh proyek, atau tukang ojek, untuk terus berjuang demi mendapatkan peran utama, yaitu “layak hidup.”
Di akhir, aku tidak ingin melabeli tulisan ini sebagai karya jurnalistik atau karya apa pun. Aku juga tidak mendapuk diri sebagai jurnalis atau penulis. Tulisan hanyalah sekadar tulisan. Aku tidak menyertakan data dan angka, karena sudah cukup bagi mataku melihat tunawisma, melihat orang lanjut usia harus bekerja. Itu adalah sebenar-benarnya data. Cukup. Ujar Sapardi: Jakarta itu kasih sayang. Kembalilah pada peraduan dan pemaknaan masing-masing.
Kalimantan, aku datang.
Jakarta, 31 Oktober 2025






























