DEWAN kesenian bukanlah sekadar sebuah forum atau kepanitiaan yang dibentuk untuk menyelenggarakan pertunjukan, lomba, atau festival. Ia adalah lembaga strategis kebudayaan yang seharusnya memainkan peran penting dalam membangun ekosistem seni dan budaya di suatu daerah. Jika kita merujuk pada konteks Kota Banjarbaru yang sedang tumbuh sebagai kota multiidentitas dan berorientasi masa depan kehadiran dewan kesenian bukan hanya penting, tapi mendesak untuk ditata ulang secara menyeluruh.

Dewan kesenian bukanlah sekadar sebuah forum atau kepanitiaan yang dibentuk untuk menyelenggarakan pertunjukan, lomba, atau festival. Ia bukan pula pelengkap acara resmi pemerintah daerah, yang hadir hanya saat kalender seremonial membutuhkan hiburan. Lebih dari itu, ia adalah lembaga strategis kebudayaan, sebuah simpul pengetahuan, ruang partisipasi, dan wadah pengorganisasian kerja seni yang bertumpu pada kebutuhan kultural masyarakat. Fungsi utamanya bukan pada penyelenggaraan acara, melainkan pada pembentukan ekosistem seni dan budaya yang berkelanjutan, adil, dan terbuka.

Dalam konteks Kota Banjarbaru yang sedang tumbuh sebagai kota multiidentitas, urban, dan terbuka terhadap migrasi gagasan, keberadaan dewan kesenian menjadi urgensi struktural dan kultural. Kota ini bukan hanya berhadapan dengan tantangan modernitas, tetapi juga peluang untuk memposisikan budaya sebagai penguat karakter kota. Dewan kesenian harus menjadi infrastruktur kultural yang sanggup membaca arah zaman, sekaligus merawat akar lokal yang menjadi pondasi nilai. Maka, keberadaannya tidak bisa dibiarkan berjalan dengan logika lama yang seremonial dan tertutup. Diperlukan penataan ulang baik secara kelembagaan, cara kerja, hingga orientasi agar dewan kesenian Banjarbaru dapat benar-benar menjadi ruang kolektif yang relevan dan visioner.
Penataan ulang ini bukan sekadar restrukturisasi nama, logo atau jabatan, melainkan perubahan mendasar dalam cara berpikir dan cara bergerak. Dewan kesenian harus dipahami sebagai mitra strategis-kritis pemerintah, penggerak komunitas, dan fasilitator antar pelaku budaya. Ia menjadi jembatan antara gagasan dan aksi, antara potensi lokal dan akses publik, antara seniman dan kebijakan. Dari sinilah peran strategisnya menemukan bentuk; sebagai lembaga yang menumbuhkan kreativitas warga, bukan sekadar menyalurkan anggaran; sebagai penyusun arah kebudayaan kota, bukan sekadar pelaksana program musiman.

Selama ini, banyak dewan kesenian di berbagai daerah mengalami persoalan mendasar dalam fungsinya. Mereka kerap diposisikan sebagai lembaga simbolik yang keberadaannya hanya diaktifkan saat acara-acara seremonial. Di sisi lain, struktur pengurusnya acap kali dipenuhi oleh figur-figur birokratis atau non-seniman yang tidak memiliki kedekatan langsung dengan dunia seni budaya. Hal ini berakibat pada kaburnya orientasi kerja, program yang tidak menyentuh kebutuhan komunitas, dan hilangnya independensi lembaga itu sendiri. Padahal, agar sebuah dewan kesenian dapat berfungsi secara relevan, ia harus memiliki dua syarat utama: independensi kelembagaan dan kedalaman pemahaman terhadap ekosistem seni-budaya lokal.

Berdasarkan pada kerangka inilah, peran dewan kesenian perlu ditegaskan kembali. Ia harus menjadi ruang kerja kolektif yang menampung inisiatif, menyusun strategi kebudayaan jangka panjang, dan menjadi penghubung aktif antara seniman, komunitas, pemerintah, swasta, dan publik. Perannya tidak lagi bersifat reaktif atau permukaan, tetapi masuk ke dalam wilayah yang lebih substansial: pendidikan seni, pembinaan regenerasi, penciptaan ruang ekspresi alternatif, distribusi karya, riset kebudayaan, dan diplomasi budaya.

Fungsi dewan kesenian bukan hanya melaksanakan kegiatan seni, melainkan merancang ekosistem yang memungkinkan seni untuk tumbuh, hidup, dan berdampak sosial.

Ia menjadi simpul yang mampu merespons dinamika zaman dan tantangan lokal dengan pendekatan kolaboratif. Di sinilah pentingnya prinsip kerja seperti Wabul Sawi wani baidabul, sanggup manggawi. Sebuah gagasan yang bahkan lebih tua dan yang mendasari lahirnya kota Banjarbaru ini dijadikan dasar metodologis, agar setiap program yang disusun tidak berhenti pada rencana, melainkan diwujudkan dengan keberanian, tanggung jawab, dan partisipasi publik yang luas.

Lebih dari itu, dewan kesenian harus berani menjadi mitra strategis pemerintah dalam perumusan kebijakan budaya, tanpa harus kehilangan posisi independennya. Dengan bersikap kritis namun kolaboratif, dewan kesenian dapat menjadi jembatan yang adil dan efektif antara kepentingan negara dan kebutuhan masyarakat budaya. Hal ini akan meminimalkan potensi konflik kepentingan, sekaligus mendorong pemerintah daerah untuk memandang kebudayaan bukan sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas hidup warga.

Oleh karena itu, penting bagi setiap daerah, termasuk Kota Banjarbaru, untuk merumuskan ulang tata kelola dewan keseniannya. Ia harus dihidupkan sebagai institusi pengetahuan, advokasi, dan pengorganisasi seni, bukan sebagai alat seremoni belaka. Ia harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas, pengalaman lapangan, dan visi kebudayaan yang berpihak pada publik. Dan yang terpenting, ia harus menjadi rumah bersama bagi seluruh pelaku seni, lintas disiplin, lintas generasi, dan lintas latar.

Maka penting agar dewan kesenian dapat menjalankan peran dan fungsinya secara utuh bukan sekadar ada, tetapi bermakna. Bukan sebagai penonton pembangunan kota, melainkan sebagai bagian dari arsitek kebudayaan lokal yang terus menjaga nyala kreativitas, merawat nilai, dan memandu arah hidup estetik masyarakatnya. Itulah dewan kesenian yang kita butuhkan hari ini. Karena Dewan Kesenian adalah ruang tamu, bukan kursi megah raja. Ia bukan tempat untuk mendudukkan kuasa, melainkan ruang terbuka untuk menyambut gagasan, menyeduhkan dialog, dan menghidangkan kerja bersama. Di sanalah seniman, komunitas, pemangku kepentingan, dan warga kota duduk sejajar berbagi keresahan, membangun rencana, dan menata harapan kultural ke depan. Jika ia dikelola dengan semangat keterbukaan, tanpa ego dan hirarki kaku, maka Dewan Kesenian akan tumbuh menjadi rumah bersama yang hangat: tempat kreativitas hidup, solidaritas berakar, dan kebudayaan Banjarbaru menemukan masa depannya.@