KALAU tak salah, pada 5 Juni 2025 silam Puja Mandela menulis di halaman surat kabar Radar Banjarmasin menyoal pekerjaan penulis, dengan judul yang agak bombastis menurut saya: Kontraktor Literasi dan Sastra yang Tak Menghidupi. Di dalamnya dia menyinggung soal ketidakmampuan penulis dalam mencari ruang kreatif menghasilkan duit dari sastra. Sebuah analisa yang menurut saya cukup menarik meski dia tak cukup, untuk tak menyebutnya sangat kurang, dalam menjelaskan akar masalah dari apa yang dia pikirkan.
Puja memulai paragraf sebagai orang ketiga, orang di luar dunia yang dia tulis, pemerhati–katakanlah begitu–yang terbuai akan ramainya keributan sastrawan atas berita yang menjadi headline Koran Kompas beberapa waktu sebelumnya, bahwa sastra tidak menghidupi. Sebagian sastrawan kita, tulisnya di kalimat pembuka, sepertinya tak pernah kehabisan bahan untuk membuat keributan di negeri ini. Bergerak dari sana Puja menyodorkan saran pergerakan progresif kepada para penulis dalam hal mendapatkan uang, harus multitasking, dan mencari proyekan buku dari pemerintah.
Lucu dan terasa lugu. Saya hampir tersedak akibat terbahak saat membaca saran tersebut.
Fakta bahwa di akhir tulisan tersebut Puja sempat menyinggung perihal rasa kasihannya kepada penulis muda yang menjajakan buku mereka, tentu, tidak bisa didustakan, itu adalah saya. Dan jujur saya tak masalah atas rasa kasihan itu–Puja bukan satu-satunya yang saya todong untuk membeli Kiat-kiat Menyelesaikan Masalah Asmara, dan tentu karena itu, dia bukan satu-satunya orang yang membeli sebab kasihan, beberapa yang lain justru karena terpaksa, dan saya tak memedulikan alasan di balik keputusan orang membeli buku kami karena membeli adalah membeli, bahkan jika buku tersebut lantas dijadikan alas kaki meja makan yang tidak seimbang pun tak jadi soal berarti. Tidak apa. Tidak masalah sama sekali. Saya justru tertarik pada narasi yang Puja bawa, sebuah opini yang saya baca sekali terus saya simpan-pija dalam kepala, seperti ikan wadi: semakin lama semakin asam, busuk, tulisan itu sejujurnya bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda diserang belatung, tapi sayang untuk dibuang karena bagi saya wadi merupakan makanan terenak yang dimiliki budaya kami, Banjar–setidaknya salah satu yang terenak.
Begini:
Pertama-tama saya membaca opini tersebut jelas sebagai satire kepada mereka yang berlaku seperti yang Puja bilang: mengerjakan proyek pemerintahan. Dan karena hal tersebut makanya saya tertawa, karena menurut saya, meskipun sedikit cacat, narasi yang dia bawa cukup berhasil mengelabui pembaca umum yang tak berpikir secara matang saat membaca tulisan tersebut. Beberapa kawan saya tersinggung dan meminta saya melakukan sesuatu untuk itu, saya bilang tidak, itu satire, dan tulisan tersebut berhasil dalam berbagai aspek di lingkup sastrawan kita yang menolak kere lalu memutuskan hidup dalam dunia proyekan. Sah-sah saja. Apalagi kalau mereka tak bisa mengerjakan hal lain di luar bidang tersebut, di mana menulis adalah satu-satunya kemampuan yang dikasih Tuhan kepadanya dan sastra, mau bagaimana pun, kenyataannya memang tak mampu memberi banyak.
Akan tetapi, bilamana teks itu kemudian dilihat sebagai saran yang memang datang untuk para sastrawan, maka saya kira Puja sedikit keliru, sebab nyatanya sastra–dalam sejarah panjangnya di negeri ini–memang mengharuskan pelakunya agar selalu kreatif dalam mengepulkan dapur. Perut lapar mana mempan dikasih puisi, kata Jason Ranti. Dan benar. Tetapi keengganan mengerjakan proyekan bukan semata datang karena idealisme semata, beberapa orang tidak melakukannya karena memang tidak wajib melakukannya. Banyak pelaku sastra yang saya kenal menjadikan sastra sebagai profesi dan bukan satu kerjaan, sebagaimana halnya juga menjadi guru honorer, atau pekerjaan lain–menjadi petani, barangkali. Bayangkan jika narasi serupa kita pindahkan ke guru honorer: Bahwa mereka tak cukup kreatif dalam mencari uang, padahal bisa mengerjakan hal lain, misalnya mengandalkan jualan buku LKS kepada murid dengan harga yang dinaikkan sedikit, atau wajib membeli dagangan, atau mengerjakan proyek pemerintahan.
Saya sendiri, celakanya, memiliki tiga pekerjaan itu: Penulis, guru honorer, juga petani. Sebuah kombinasi yang acapkali menjadi landasan kekuatan iman saya sebab hanya itulah satu-satunya yang saya punya.
Maka dari itu, bagi saya tulisan Puja (jika dibaca bukan sebagai satire) tak lain simplifikasi yang menyesatkan. Jika diteruskan maka yang terjadi hanya kekacauan: guru tidak profesional, penulis berkarya atas desakan pemerintahan, wartawan jadi tumpul sebab mengandalkan berita rilis yang datang.
Sastra yang tidak bisa memberi kemapanan bagi pelakunya tidak terjadi di semua negara, sebagian negara justru mampu membuat penulis kaya–setidaknya cukup, bahkan jika tulisannya sangat nyastra, bukan pop. Kritik atas sastra yang kurang menghasilkan tidak bisa hanya ditujukan kepada pelaku sastra itu sendiri, kritik harus dilayangkan kepada negara: Mengapa biaya cetak mahal? Kenapa pajak buku berat? Kenapa akses terhadap buku tidak dipermudah? Kenapa biaya ongkir dari pulau Jawa ke luar pulau amat menyiksa?
Mari berangkat dari pertanyaan sistemik itu dulu, nanti kalau sudah terjawab, mari kita bicara lagi soal sastrawan yang tidak kreatif. Karena kalau opini atas ketidakberdayaan sastrawan dalam menghadapi tuntutan ekonomi hanya diarahkan pada pelakunya, maka alangkah sama belaka dengan kita mengkritik tukang nasi goreng yang ngedumel elpiji habis sebagai orang tidak kreatif padahal alasan di balik perasaan dongkolnya adalah kelangkaan gas yang secara sistematis tak bisa dibijaki pemerintah.
Bagi saya jelas, kegagalan negara harus dikembalikan pada negara, bukan kepada masyarakatnya. Mereka, atau saya sendiri, toh pada akhirnya akan sekuat tenaga-sabudubangkit mencari cara agar dapur tetap ngebul, entah mencari kayu bakar atau mengerjakan proyek kayu dari dinas. Keduanya sah, tetapi kritik atas kegagalan struktural itu harus ada. Jangan hanya memberikan kritik-saran kepada tukang nasi goreng yang tak sanggup menggoreng nasi.
Dalam hal musik, saya kira begitulah yang terjadi pada lagu Polisi yang Baik Hati oleh Slank.
Bagi saya, pelaku seni, apapun jenisnya, harus bersepakat bahwa ada yang tak beres dalam ekosistem kesenian kita. Baik lokal atau nasional.
Tentu, saya tak menampik bahwa beberapa kesalahan justru datang dari pelaku-penikmat seni, tapi banyak kesalahan justru datang dari negara yang kita tinggali. Jadi, kalau nanti Puja menulis lagi, semoga bukan soal rasa kasihan kepada penulis muda, tapi soal bagaimana negara bisa dipaksa ikut bertanggung jawab atas hidup matinya buku. Karena kalau tidak, bukan cuma sastrawan yang akan terus kere—pembaca pun akan makin sedikit, sebab yang dijual hanya rasa, bukan nalar.
Tetapi, tentu saja, saya tak ingin mengakhiri tulisan ini dengan nada yang begitu heroik seolah saya si paling garda terdepan dalam perjuangan atas kesusasteraan. Saya mau mengakhirinya begini saja:
Sampai sini, saya masih sangat yakin Puja menulis satire, dan dia berhasil, hanya saja beberapa orang saya kira salah memahami apa yang dia maksud. Bahwa akhir tulisan tersebut terasa tidak koheren atau apalah, biarkan saja, itu mungkin kesadaran estetik yang dia punya, dan kita tak berhak menolak pilihan orang lain. Lagipula Puja toh pelaku seni juga. Seni Musik. Saya mendengar karya terbarunya yang berjudul Lagu untuk Nada, dan menyukai karakter suara yang dia miliki. Kalau nanti kami bertemu, saya tidak ingin menyarankan dirinya untuk mengganti lirik Lagu untuk Nada menjadi Lagu untuk Mega. Tidak mau. Sekian.@
Juli | 2025




























