AULA Pangeran Samudera di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Selatan pagi itu menyambut para pemuda dengan udara segar dan hangat matahari pagi seolah ingin memastikan setiap wajah terlihat jelas, wajah yang membawa harapan sekaligus strategi akan masa depan. Pada Selasa, (25/11/2025), deretan kursi mulai terisi sejak pukul 08.30 Wita, sementara panitia dari BASAkalimantan Wiki menyambut peserta satu per satu, mengulang kalimat yang sama: “silakan isi presensi digital” dengan gestur ramah.

Di balik suasana yang tampak teratur itu, hari ini memikul tiga agenda besar: pembagian hadiah juara Wikithon Partisipasi Publik 4 isu kesehatan mental, dialog kebijakan tentang kesehatan mental, dan pengukuhan Dewan Pemuda Kalimantan oleh Ketua DPRD Banjarbaru. Tiga mata acara yang sederhana jika dituliskan, tetapi panjang jika ditarik ke persoalan yang melatarinya bahwa pemuda Kalimantan sedang berdiri di tengah rimba informasi, tekanan sosial, dan urgensi untuk terlibat dalam kebijakan publik.

Sambutan yang Membawa Harapan

Acara dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Rizana Mirza, yang mewakili Wali Kota Banjarbaru. Ia berdiri di podium dengan naskah sambutan yang sudah ditandatangani sebelumnya. “Ibu Wali Kota menyampaikan salam dan permohonan maaf karena tak dapat hadir,” ujarnya, sebelum melanjutkan pesan tertulis yang menekankan pentingnya ruang dialog pemuda untuk merumuskan solusi inovatif persoalan kesehatan mental di Kalimantan Selatan.

Tidak lupa, Wali Kota Banjarbaru memberi apresiasi bangga hingga ajakan kolaborasi pada Dewan Pemuda Kalimantan. “Selamat mengemban tugas dan pemerintah siap berkolaborasi dengan adik-adik yang dikukuhkan hari ini.

Ia menyanjung BkW bukan hanya karena pelestarian bahasa Banjar, tetapi juga karena menjadi penggerak partisipasi publik. “Kami siap mendukung ekosistem digital yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat,” lanjutnya. Kalimat penutupnya menggema, menyinggung harapan besar: menjadikan Kalimantan Selatan sebagai daerah yang berdaya dan berbudaya.

Para pemenang Wikithon Partisipasi Publik isu Kesehatan Mental berfoto bersama. (foto:BkW)

428 Suara dan Empat Pemenang

Direktur Program BkW, Hudan Nur, berdiri di podium. Ia memulai dengan mengingatkan kembali bahwa kegiatan hari ini merupakan lanjutan dari Konferensi Pemuda. “Wikithon Partisipasi Publik diikuti 428 entri,” ujarnya, “dan empat terbaik dipilih, untuk kategori umum juara pertama berasal dari Balangan dan juara kedua dari Lombok, NTB, yang sayangnya tidak bisa hadir hari ini.”

Suasana riuh sejenak ketika para pemenang lain dipanggil naik: siswa SMKN 3 Banjarbaru sebagai juara pertama dan SMA GIBS Barito Kuala sebagai juara kedua untuk kategori pelajar. Mereka menerima hadiah sembari dipotret oleh panitia, dilempari senyum bangga pendamping dari barisan bangku peserta.

Hudan membawa data yang membuat hadirin mesti memikirkan ini secara khusyuk. “RSJ Sambang Lihum mencatat ada sepuluh ribu kasus permasalahan kesehatan mental sejak pandemi Covid-19. Kasus bunuh diri juga terjadi di Banjarbaru.” Kalimatnya jatuh berat, nyaris seperti penanda bahwa dialog hari ini bukan sekadar formalitas.

Dialog Dua Rotasi: Mencari Titik Implementasi

Dialog kebijakan dimulai setelah pembagian hadiah selesai. Meja-meja sudah disiapkan sejak pagi, ditempeli nomor kelompok dan notes tempel beragam warna. “Dialog dilakukan untuk mempertajam ide-ide para pemenang dan melihat potensi peran dari setiap perwakilan yang hadir,” ucapnya.

Para fasilitator, notulen, dan time keeper bergerak teratur. Dari satu sisi aula, terdengar salah satu kelompok membahas tekanan akademik dan informasi digital yang berlebihan. Di sisi lain, sebuah kelompok berbicara tentang akses psikolog yang belum merata. Peserta mencatat, mencoret, menambahkan kalimat pada notes tempel.

Suasana dialog isu Kesehatan Mental yang melibatkan berbagai unsur, pemuda, komunitas, dan pemerintah. (foto: BkW)

Penyerahan SK dan Sebuah Ikrar

Menjelang tengah hari, tiba agenda paling ditunggu: pengukuhan Dewan Pemuda Kalimantan. Ketua DPRD Banjarbaru, Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera naik ke panggung bersama Hudan yang membacakan SK. Ia menyerahkan SK pada ketua Dewan Pemuda Kalimantan, Nada Kamilah sebagai simbolis, sebuah ritual kecil yang menandai lahirnya wadah baru bagi pemuda Kalimantan, yang diwakili oleh 12 pemuda hari ini.

“DPK ini berkesesuaian dengan kondisi zaman,” ujarnya. “Kita punya misi bersama mengawal pemuda, khususnya dalam isu-isu sekitar yang nanti bisa dirumuskan menjadi kebijakan.” Ia menambahkan bahwa Badan Pembentukan Perda Banjarbaru siap dihadirkan untuk mendengar langsung masukan pemuda. “Tahun 2026 ada 16 perda yang akan dicanangkan. Bisa saja isu yang kalian bawa masuk prioritas.”

Ketua DPK yang baru dilantik menyatakan kesiapannya. “Kami siap menjadi tempat para pemuda untuk belajar, berlatih, dan terlibat aktif melalui metode partisipasi publik.”

Menutup Hari yang Padat

Setelah dialog, panitia mempersilakan peserta untuk menikmati makan siang yang disiapkan. Banyak peserta belum pulang bahkan setengah jam setelah acara selesai; mereka terlihat mengobrol, berdiskusi, atau bertukar kontak media sosial. Seolah-olah hari ini menyisakan ruang yang belum ingin mereka tutup.

Sebelum bubar, Hudan kembali menyampaikan bahwa Konferensi Pemuda kedua akan digelar pada 2026. Sebagian peserta mengangguk—mungkin membayangkan bahwa pada tahun itu, ide-ide kecil yang dituliskan di notes tempel hari ini sudah menjelma rekomendasi kebijakan yang lebih matang.

Di luar aula, udara siang terasa lebih hangat. Dan barangkali di situlah harapan itu berdiam: bahwa suara-suara muda hari ini bukan hanya gema dalam ruangan, tetapi langkah awal menuju perubahan yang lebih luas.(red)