Tua muda menari dalam lingkaran, memantulkan ruhui Ampat Lima Lantunan Keroncong Banua; senyum Embie C Noer berbinar dalam rentak Paris Barantai, rambut putihnya melengkapi kebahagiaan. Juara boleh diumumkan, tetapi ini adalah malam kemenangan kita semua.

RUANG Balairung Sari penuh; senian, tua muda berebut kursi yang sudah miring ke depan karena usia. Mereka yang tidak kebagian tempat, terpaksa melantai. Inilah yang ditunggu-tunggu, malam pengumuman juara Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) II 2026, Minggu (26/10).

Siapa yang menang?

Jika saat itu Anda di sana, bertanya kepada para seniman atau penonton awam, Anda akan menenumukan: tidak ada satu pun jawban yang sama. Mungkin seperti telah saya ceritakan sebelumnya, menonton teater ternyata adalah pengalaman yang asyik—unik. Karena, Anda bisa saja merasakan kesan yang kontras dengan penonton yang berada persis di sebelah Anda.

“Film itu mengunci, sutradara bisa dengan presisi mengarahkan interpretasi penonton. Tetapi kalau teater terbuka, penonton bisa memilih fokus,” kata komponis teater legendaris Embie C Noer.
Lepas Isya, Lantunan Keroncong Banua naik ke atas panggung. Alunan keroncong Banjar, senyum di wajah para musisi, pelan-pelan melepas ketegangan siapa yang layak mengangkat piiala; kepala penonton bergoyang-goyang; dua, tiga, empat lagu dibawakan berurutan.

Atmosfer ruhui semakin mengental ketika panggung mempersilakan dari bangku penonton naik menyumbang suara. Dan, puncaknya… lagu klasik lejen Ampat Lima dan Nasib Pambatangan mengubah balairung menjadi cermin egaliter Urang Banjar: tua muda turun dari kursi, menari-nari dalam lingkaran, berpegangan tangan; jilbab dan rambut gadis-gadis Melayu melambai-lambai seiring gerak alamiah tubuh mereka yang lahir dari jiwa yang sedang bergembira; ke mana pun Anda memalingkan wajah, yang terlihat hanya kebahagiaan.

Oke! Bukankah ini momentum terbaik para juri keluar dari ruang pertapaannya, mengumumkan nama-nama pemenang?

“Tepuk  tangan dulu untuk kita semua! Kami baru dapat kabar, para juri masih berdebat menentukan siapa yang terbaik!” gemuruh menyambut kabar dari pembawa acara.

Membunuh watu, selain keroncong, pembawa acara juga melakukan wawancara singkat dengan beberapa tamu. Salah satunya Embie C Noer yang sejak hari pertama FTBB telah hadir menonton festival.

Embie yang sempat menyumbang suara lewat lagu Paris Barantai mengatakan, selama ini empat hari di Banjarmasin, dia merasakan Balairung Sari Taman Budaya adalah tempat untuk pulang.

“Teruskan yang seperti ini. Dan malam ini, saya pikir adalah malam kebahagiaan kita bersama,” ujarnya.

Malam penutupan FTBB II 20226. (Foto: zal)

REFLEKSI
Waktu berlalu. Namun juri belum juga ke luar. Saya sempat dua kali melipir ke penjual kebab dan mie rebus, di luar balairung. Barulah jelang tengah malam, Riza Rahim Banua, Moh Zakir Maulidi dan Muhammad Ramadhani Albanjari muncul dan naik ke atas panggung.

Wajah ketiga juri terlihat lelah.

“Tentu penilaian tidak bisa lepas dari subjektivitas. Dalam hal ini, kami mencari titik temu dengan komparasi,” kata Riza.

Terlepas dari persoalan teknis yang disampaikan ketiga juri, Riza melempar semacam keresahan. “Banyak pementasan mengangkat kekerasan. Bukankah karakter Banjar itu ngalah dan cinta damai? Atau apakah ini yang sedang terjadi, yang kemudian masuk ke ruang karya para seniman.”

Riza menyebutnya sebagai tanda bahaya. Tanda bahaya dalam pemahaman: refleksi kita akan kondisi masyarakat Banjar dewasa ini.

Barajah Bala dari Sanggar Mentari adalah salah satu pementasan yang mengangkat tragedi ke atas panggung. Sutradara Muh Irwan Aprialdy kepada wartawan mengaku, cerita itu memang berangkat dari keresahannya sebagai seniman.

“Kami hanya ingin berkarya dengan jujur. Bahasa yang para aktor gunakan di atas pentas adalah bahasa yang sehari-hari digunakan masyarakat Banjar. Kami tidak berusaha menyaringnya,” kata Irwan.

Bergeser ke seni panggung, para juri juga menemukan beberapa pementasan yang memperlihatkan adanya kebaruan. Yang menurut mereka bisa menjadi wacana bentuk teater Banjar ke depan—salah satunya adalah Basaung Buntut garapan Seni Teater Tanaharum.

Di titik Banjar sebagai sebuah identitas, Zakir dan Ramadhani (Abe) mengajak para seniman untuk sejenak bergeser dari panggung ke ruang dialektika yang menjadi rangkaian penting dari FTBB.

“Sarasehan tadi pagi, interkulturalitas dalam teater bahasa Banjar bisa menjadi wacana kita ke depan,” kata Zakir.

Sekadar diketahui, dalam sarasehan tersebut FTBB menghadirkan berbagai narasumber lintas disiplin ilmu, bukan hanya seniman seperti Embie C Noer dan Aminuddin, juga ada antropologi Dr Setia Buhdi dan Arif Rahman Hakim serta etnolinguis Dr Ida Komalasari.

Zakir menegaskan, dalam modernitas berkesenian, moral yang menjadi warisan tradisi tetap harus dijaga.

SIAPA KITA

Di atas panggung, inisiator FTBB sekaligus pendiri Teater Matahari, Edi Sutardi merangkul malam penganugerahan dengan janji: tahun depan FTBB III kembali akan digelar!

Gemuruh tepuk tangan seniman.

Kang Edi, begitu ia biasa disapa, berharap festival ini dapat menjadi wadah berkumpul para seniman, laboratorium kebudayaan, untuk terus menggali identitas Banjar dalam seni panggung, khususnya teater.
Poinnya kemudian FTBB bukan sebagai titik akhir, melainkan menjadi ruang pertemuan dari proses panjang pembacaan, penciptaan, dialog, evaluasi dan pengembangan berikutnya.

“Siapa kita, di mana kita, dan akan ke mana kita,” ujarnya.

Sebagai gambaran, pada festival pertama ada sebelas grup yang ikut. Tahun ini meningkat menjadi delapan belas grup teater, dari berbagai daerah di Kalimantan.

Festival Teater Bahasa Banjar II 2026 yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2026 telah mengumumkan berbagai sanggar dan komunitas teater terbaik.

Untuk kategori Penyaji Terbaik, KS3B Kalsel berhasil meraih penghargaan sebagai Penyaji Terbaik I. Disusul oleh SBA yang menempati posisi Penyaji Terbaik II, serta Sanggar Seni Tanaharum HSU sebagai Penyaji Terbaik III. Selain itu, Sanggar Mentari juga sukses membawa pulang penghargaan sebagai Penyaji Terfavorit.

Dalam kategori penghargaan individu dan artistik utama, dominasi ditunjukkan oleh KS3B Kalsel yang memborong penghargaan Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Musik Terbaik, serta Manajemen Stage Terbaik. Sementara itu, penghargaan untuk Aktris Terbaik dan Artistik Terbaik berhasil diraih oleh SBA.

Apresiasi juga diberikan kepada talenta-talenta pelajar melalui Teater Langit Jingga, yang menyapu bersih kategori pelajar dengan meraih penghargaan Sutradara Pelajar Terbaik, Aktor Pelajar Terbaik, dan Aktris Pelajar Terbaik. Terakhir, penghargaan untuk kategori Poster Terbaik sukses diraih oleh Teater Tanah Laut.

FTBB terselenggara atas dukungan banyak pihak, di antaranya MTN Seni Budaya, Pemprov Kalsel dan Kesultanan Banjar@