Kursi penonton Balairung Sari penuh. Sejak awal, Pocong Bencong garapan Sanggar Prisma telah mengundang penasaran kawula muda.
“DI KAMPUNG ini, lidah cepat menghakim, telinga menolak bisikan nurani. Halim dan Putri menemukan cinta di tengah hinaan dan luka; namun, cinta mereka berakhir tragis.”
Begitu narasi mencekam dalam pamflet Sanggar Prisma di akun Instagram mereka, kontras dengan foto wajah komikal para pemain, seakan ingin mengabarkan bahwa penampilan mereka bakal menggocok perut—komedi horor.
Pamflet pun ditutup dengan caption penuh sesumbar: “Siap meolah panggung rami! Pocong Wan Bencong!”
Nyaris seratus akun ikut meneruskan sesumbar sanggar asal Poltekkes Kemenkes Banjarmasin ini.
Benar saja. Pada hari kedua Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB) II 2026, Jumat (23/10) malam, Balairung Sari Taman Budaya penuh penonton. Mayoritasnya anak muda.
Lampu padam. Layar terbuka.
Lampu perlahan menyala. Di atas panggung, dua wanita berdaster dengan riasan tebal asyik menata dagangan di sebuah warung kopi khas pedesaan. Datang dua orang pria, salah satunya berteriak:
“Cil, kopi dua! Nang gasan Pambakal kopi manis jambu kaya Ading Tipeh. Nang gasan ulun kopi manis kaya senyum pian, Cil, ae. Akaaay! Rabah pulang rapun waluh!”
Penonton tergelak.
Begitulah, cerita berjalan dengan dialog-dialog Banjar yang biasa kita dengar dalam keseharian di warung kopi desa. Cerita mulai memanas dengan kemunculan tiga karakter utama: Halim, lelaki bergaya seperti wanita; Putri, perawan desa; dan Burhan, si penggoda wanita.
Burhan berhasil memikat hati Putri. Namun, kisah mereka tak bertahan lama. Putri akhirnya tahu bahwa kerjaan Burhan hanya berjudi online dan main perempuan.

Mendapati Putri sudah putus, Halim yang jatuh hati sejak pandangan pertama akhirnya memberanikan diri menyatakan cinta. Berlawanan dengan anggapan orang kampung bahwa Halim tidak normal alias bencong, Putri mau menerima cintanya dengan satu syarat: harus nikah—ogah pacaran lagi.
Gosip menyebar secepat embusan asap.
Burhan yang mendengar kabar, tidak terima dan langsung memburu mereka. Marah besar, ia mengeluarkan belati dan membunuh Halim dan Putri tanpa saksi mata. Orang tua Halim yang tak terima memeras limau nipis di atas darah korban.
Babak selanjutnya diisi adegan komedi: pocong Halim dan kunti Putri memburu Burhan. Kedua arwah gentayangan itu sukses membalas dendam: Burhan tewas. Namun, keduanya tetap menghantui desa. Rupanya, Halim belum puas. Ia masih menyimpan dendam kepada orang kampung yang menyebutnya bencong!
Babak terakhir. Masuklah Nini Kinang, wanita tua yang nampaknya sakti. Sembari membaca mantra, ia menikahkan Halim dan Putri. Tepuk tangan penonton mengiringi perubahan pocong dan kunti menjadi sepasang mempelai lewat ilusi teatrikal panggung yang manis.
Lampu padam.
Secara umum, Pocong Bencong menawarkan hiburan yang segar. Meski begitu, selain penggunaan bahasa Banjar, saya tidak menemukan banyak penanda budaya Banjar lainnya. Yang paling terasa justru mawarung—kebiasaan berkumpul dan bersosialisasi di warung. Suasana itu diperkuat oleh karakter-karakter warga yang jenaka.
Sebagai ilustrasi, dalam lakon Naf’s oleh IB Production yang dipentaskan pada hari pertama FTTB II, cerita juga digarap tragis untuk membangun dramatisasi. Namun, ada lebih banyak penanda budaya Banjar di sana. Selain penggambaran karakter-karakter khas Banjar di kawasan pendulangan intan, dialog-dialog Naf’s juga membingkai wajah urang Banjar yang lekat dengan Islam namun masih bersentuhan dengan kepercayaan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Juga ada lakon Sasangga Hidup dari Sanggar Seni Rufaidah (Universitas Muhammadiyah Banjarmasin) di hari pertama. Pun mendramatisasi kehidupan keluarga, tetapi membawa realitas yang menggelisahkan: pergeseran nilai-nilai remaja Banjar di Kota Seribu Sungai. Sasangga Hidup nampak hendak menjalankan fungsi teater sebagai cermin kehidupan.
Tentu, ini bukan perbandingan tema. Dari judul Pocong Bencong saja, lakon ini tampaknya memang lebih mengutamakan hiburan, dengan mitos urban sebagai salah satu daya tariknya.
Melihat apresiasi penonton muda, saya mau bilang: terima kasih, Sanggar Prisma!@





























