Catatan dari Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-23 2026 di Hulu Sungai Utara
ADA banyak cara untuk mengingat sebuah perhelatan sastra. Ada yang pulang dengan membawa penghargaan, ada yang membawa buku, ada yang membawa kenangan pertemuan dengan kawan lama, dan ada pula yang pulang dengan membawa sejumlah pertanyaan. Saya kira, saya termasuk kelompok yang terakhir, meskipun tentu saja ada kebahagiaan lain yang ikut saya bawa pulang dari Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-23 di Hulu Sungai Utara.
Perhelatan ini memberi saya pengalaman yang beragam. Ada hal-hal yang patut diapresiasi, tetapi ada pula beberapa hal yang menurut saya layak menjadi bahan renungan bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah, apalagi untuk merendahkan kerja keras panitia, melainkan karena saya percaya bahwa sebuah kegiatan kebudayaan semestinya terus tumbuh melalui keberanian untuk mengevaluasi diri. Saya ingin menceritakannya dari hal yang paling sederhana: bantal.
Bantal dan Harapan yang Telanjur Nyaman
Sebelum berangkat ke Hulu Sungai Utara, ada satu hal sederhana yang sempat membuat kami berpikir tentang kenyamanan selama mengikuti kegiatan: bantal. Kami diminta membawa bantal cadangan. Namun, dalam bayangan kami, bantal yang disediakan panitia tentu bisa menjadi teman istirahat setelah seharian mengikuti kegiatan, saya akui itu memang kesalahan kami karena tidak memahami hal yang tersirat dari yang tersurat. Ternyata, sesampainya di lokasi, harapan itu harus rela rebah lebih dulu sebelum pemiliknya merebahkan badan.
Bantal yang kami bayangkan tersedia ternyata tetap harus dibawa dari rumah.
Kedengarannya memang sepele. Hanya urusan bantal, bukan urusan karya sastra, apalagi penghargaan. Tetapi, bukankah pengalaman peserta terhadap sebuah kegiatan juga dibentuk oleh hal-hal sederhana seperti ini?. Saya memahami bahwa menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan peserta dari berbagai kabupaten dan kota bukan pekerjaan mudah, ini mengumpulkan orang banyak. Ada banyak kebutuhan yang harus dipikirkan, banyak orang yang harus dilayani, dan banyak persoalan teknis yang mungkin muncul di luar perkiraan.
Namun, informasi teknis semestinya disampaikan secara jelas sejak awal. Apa yang disediakan panitia, apa yang perlu dibawa peserta, bagaimana kondisi tempat menginap, hingga fasilitas dasar yang tersedia perlu dijelaskan dengan baik. Dengan begitu, peserta dapat mempersiapkan diri tanpa harus menerka-nerka keadaan setelah tiba di lokasi. Sebab, kami datang untuk merayakan sastra, bukan mengikuti lomba menebak fasilitas apa yang tersedia. Kalau memang bantal harus dibawa sendiri, tentu tidak masalah. Asalkan sejak awal diberi tahu, sehingga yang tertinggal cukup rasa lelah setelah perjalanan, bukan harapan yang telanjur tumbuh memang sudah disampaikan namun perlu digaris bawahi bantal cadangan.
Datang Membawa Karya, Berharap Membawa Cerita
Tentu saja, saya tidak berangkat ke Aruh Sastra hanya untuk memikirkan tempat tidur dan bantal. Ada harapan yang jauh lebih besar: bertemu dengan kawan-kawan, bersilaturahmi dengan para senior, dan menikmati perjumpaan yang selama ini mungkin hanya berlangsung melalui percakapan di telepon atau media sosial. Ada Mas Al-Kalani Muhtar, Bang Hasbi Salim, Fahrurrazi Asmuni, dan Pak Dodo-Ketua Dewan Kesenian, yang termasuk tokoh-tokoh yang ingin saya temui. Namun dengan harapan yang besar itu ternyata pupus karena nama-nama yang saya sering temui di ASKS di luar HSU tidak berhadir secara utuh dalam kegiatan. Saya bertanya ada apa?
Bagi saya, pertemuan dengan para senior bukan sekadar kesempatan untuk bersalaman atau berfoto bersama. Ada kegembiraan tersendiri ketika kita bisa duduk bersama orang-orang yang telah lebih dahulu menapaki perjalanan panjang dalam dunia sastra dan kesenian. Dari pertemuan semacam itu, kita bisa bertukar cerita, belajar dari pengalaman, bahkan mungkin menemukan gagasan baru untuk perjalanan berkesenian berikutnya. Namun, pengalaman awal kami di lokasi tidak sepenuhnya seperti yang dibayangkan. Ketika tiba, kami disambut oleh kawan-kawan Liaison Officer (LO). Mereka berusaha menjalankan tugasnya mendampingi peserta. Akan tetapi, ketika hendak melakukan registrasi, kami diminta menunggu karena panitia belum siap. Padahal, berdasarkan jadwal yang kami terima, registrasi berlangsung pukul 09.00 hingga 17.00, sementara kami tiba sekitar pukul 14.00.
Barangkali ada kesibukan di balik layar yang tidak kami ketahui. Saya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Namun, jadwal yang sudah disampaikan kepada peserta semestinya menjadi pegangan bersama, baik bagi peserta maupun penyelenggara.
Hal-hal semacam ini mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Akan tetapi, ketika beberapa persoalan teknis muncul bersamaan, pengalaman peserta tentu ikut terpengaruh. Saya juga merasakan bahwa kesempatan bertemu dengan sejumlah tokoh yang saya harapkan tidak sebanyak yang dibayangkan. Mas Al-Kalani Muhtar menjadi salah satu tokoh yang saya lihat hadir dalam beberapa kesempatan, termasuk pembukaan, kegiatan yang kami sebut Mawarung yang diinisiasi bung ASA di gelaran ASKS Batola 2025 dilanjutkan oleh HSU, dan penutupan. Sementara itu, perjumpaan dengan beberapa tokoh lainnya tidak berlangsung seperti yang saya harapkan.
Di sinilah saya mulai berpikir bahwa Aruh Sastra seharusnya bukan sekadar tempat orang-orang berkumpul pada waktu dan lokasi yang sama. Ia semestinya menjadi ruang pertemuan yang hidup, tempat hubungan antarsastrawan dipererat, pengetahuan dipertukarkan, dan generasi yang berbeda dapat saling mengenal. Sebab, terkadang, percakapan singkat dengan seorang senior bisa lebih lama tinggal dalam ingatan daripada serangkaian acara yang kita ikuti sepanjang hari.

Ramahnya Panitia dan Catatan tentang Fasilitas
Di tengah sejumlah catatan tersebut, ada hal baik yang tidak boleh saya abaikan: keramahan panitia. Sepanjang pengalaman saya, kawan-kawan panitia tetap berusaha melayani dengan ramah dan senyum. Saya menghargai itu. Menghadapi banyak peserta dengan kebutuhan yang berbeda tentu membutuhkan kesabaran dan tenaga yang tidak sedikit.
Kritik terhadap penyelenggaraan tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap kerja keras orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun, keramahan dan kesiapan teknis adalah dua hal yang berbeda. Keduanya sama-sama penting, tetapi tidak bisa saling menggantikan.
Senyum panitia tentu membuat suasana lebih nyaman. Akan tetapi, senyum itu tidak serta-merta membuat fasilitas yang kurang memadai menjadi lebih baik. Salah satu persoalan yang saya rasakan adalah tempat menginap. Peserta laki-laki dari berbagai kabupaten dan kota ditempatkan bersama dalam satu aula, tanpa sekat antarpeserta. Bagi saya, kondisi ini mengingatkan pada suasana p******n (teeeeetttttttt ada kereta lewat hehehehe), meskipun tentu saja konteks dan tujuannya berbeda.
Saya memahami bahwa menyediakan penginapan bagi banyak peserta bukan perkara gampang. Namun, kenyamanan dan privasi tetap perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan kegiatan, terutama ketika peserta harus beristirahat setelah mengikuti rangkaian acara. Persoalan fasilitas sanitasi juga patut diperhatikan. Air yang terkadang mengalir dan terkadang mati membuat kebutuhan dasar peserta tidak selalu dapat dipenuhi dengan nyaman.
Saya tidak mengetahui secara pasti apakah persoalan tersebut sudah diketahui oleh pimpinan daerah atau bagaimana koordinasi penyediaan fasilitas dilakukan. Karena itu, saya tidak ingin berspekulasi tentang siapa yang bertanggung jawab atas setiap kekurangan. Yang ingin saya sampaikan sederhana: ke depan, survei lokasi, kesiapan fasilitas, dan komunikasi antara penyelenggara dengan pihak terkait perlu direncanakan secara lebih matang.
Kita boleh saja datang ke sebuah perhelatan sastra dengan semangat yang tinggi. Tetapi, semangat itu tidak menghilangkan kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat dengan layak dan menggunakan fasilitas sanitasi yang memadai. Bagaimanapun, sastrawan tetap manusia. Mereka bisa membicarakan metafora sampai tengah malam, tetapi urusan buang air kecil dan buang air besar tidak bisa diselesaikan hanya dengan metafora.
Ketika Buku Terbit, tetapi Apresiasi Kehilangan Panggung
Persoalan lain yang mengganjal dalam pikiran saya adalah peluncuran buku. Bagi saya, peluncuran buku dalam sebuah perhelatan sastra bukan sekadar mata acara seremonial. Ia merupakan kesempatan untuk memperkenalkan karya, merayakan proses kreatif, dan memberikan ruang kepada para penulis agar karya mereka dikenal lebih luas.
Dari apa yang saya lihat, buku sudah siap dan tampaknya siap diperkenalkan kepada publik. Saya pun membayangkan bahwa buku-buku hasil perlombaan yang berkaitan dengan Aruh Sastra dapat memperoleh tempat dalam momentum tersebut. Namun, buku-buku yang diluncurkan justru bukan buku yang secara langsung berkaitan dengan rangkaian perlombaan Aruh Sastra, sementara karya-karya yang dihasilkan melalui ASKS tersebut tidak mendapatkan ruang peluncuran sebagaimana yang saya harapkan. Di sinilah saya merasa ada kesempatan yang terlewatkan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa buku-buku yang diluncurkan tidak layak mendapatkan apresiasi. Karena salah satu karya yang di-launching adalah buku saya Angin Tak Berkabar Di Angkara Bumi. Setiap karya memiliki perjalanan dan nilai tersendiri. Akan tetapi, ketika sebuah kegiatan diselenggarakan untuk merayakan sastra daerah, bukankah karya yang lahir dari kegiatan itu juga pantas mendapatkan panggung? Ada hal lain yang membuat saya bertanya-tanya. Informasi mengenai para pemenang belum disampaikan secara terbuka pada saat yang saya harapkan, sementara buku-buku yang berkaitan dengan hasil tersebut kemudian dibagikan.
Bagi saya, akan lebih baik apabila pengumuman pemenang, pengenalan karya, dan peluncuran buku dirancang sebagai rangkaian yang saling melengkapi.
Dengan demikian, di awal kegiatan peserta dapat mengetahui siapa yang memperoleh penghargaan, karya apa yang mendapat apresiasi, dan bagaimana hasil perlombaan menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan sastra daerah. Saya kira, salah satu usulan yang patut dipertimbangkan adalah mengumumkan para pemenang dan meluncurkan buku hasil perlombaan pada hari pertama kegiatan. Mengapa hari pertama?
Karena ada sesuatu yang istimewa dalam momen ketika seseorang akhirnya mengetahui bahwa karya yang telah ia persiapkan selama berbulan-bulan mendapatkan penghargaan. Ada kegembiraan yang layak dirayakan bersama, ada penulis yang patut diperkenalkan, dan ada karya yang pantas mendapat perhatian. Para peserta telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menulis. Mereka mengirimkan karya dengan harapan bahwa tulisan mereka akan dibaca dan dinilai secara layak. Penghargaan terhadap proses itu semestinya tidak berhenti pada pemberian predikat juara.
Tentu, pelaksanaan dan jadwal pengumuman pemenang perlu disesuaikan dengan kesiapan teknis serta ketentuan perlombaan. Namun, perencanaan yang matang dapat membuat penghargaan terhadap peserta menjadi bagian penting dari pengalaman Aruh Sastra. Sebab, menerbitkan buku saja belum cukup. Karya juga perlu diperkenalkan, penulisnya perlu diberi ruang, dan proses kreatif di baliknya layak dirayakan.
Bahasa Banjar, Identitas yang Tidak Boleh Kehilangan Rumah
Di antara berbagai pengalaman tersebut, ada satu hal yang justru membuat saya merasa bangga: penampilan syair Banjar yang dihadirkan oleh Hulu Sungai Utara, mungkin karena saya seorang penggemar syair banjar. Bagi saya, inilah salah satu bagian yang menarik dan patut diapresiasi. Ada upaya menghadirkan sastra yang berakar pada tradisi daerah sendiri. Ada bahasa, ekspresi, dan kekayaan budaya yang tidak sekadar menjadi latar belakang kegiatan, tetapi benar-benar tampil di hadapan peserta.
Penampilan tersebut mengingatkan saya bahwa Aruh Sastra Kalimantan Selatan memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan perlombaan menulis. Roh utamanya adalah bagaimana sastra daerah terus maju, berkembang, dan memiliki tempat dalam perjalanan kebudayaan Kalimantan Selatan.
Karena itu, keberadaan bahasa Banjar dalam ruang-ruang sastra perlu mendapatkan perhatian serius. Bahasa daerah bukan sekadar alat untuk menyampaikan cerita. Di dalamnya hidup cara pandang masyarakat, ungkapan keseharian, humor, ingatan kolektif, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika bahasa Banjar digunakan dalam karya sastra, yang hadir bukan hanya rangkaian kata. Ada pengalaman kebudayaan yang ikut berbicara. Tentu, saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap karya yang tampil di Aruh Sastra harus menggunakan bahasa Banjar. Karya berbahasa Indonesia juga memiliki tempat dan nilai kesastraannya sendiri. Namun, sebagai perhelatan yang membawa nama sastra Kalimantan Selatan, Aruh Sastra semestinya memberi ruang yang kuat bagi pertumbuhan sastra berbahasa daerah.
Kita perlu bertanya: bagaimana sastra Banjar dapat terus berkembang jika ruang-ruang yang seharusnya menjadi tempat pertumbuhannya tidak secara konsisten memberikan perhatian terhadap karya berbahasa Banjar?
Pertanyaan ini bukan untuk membatasi kreativitas penulis. Sebaliknya, ini merupakan ajakan untuk memperluas kemungkinan kreatif tanpa kehilangan akar kebudayaan. Saya juga berharap keterlibatan sastrawan lokal di daerah penyelenggara dapat dibuat lebih nyata. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari suasana atau sekadar nama yang disebut dalam sambutan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk membacakan karya, berbagi pengalaman, menjadi narasumber, berdiskusi, dan terlibat dalam proses penyelenggaraan.
Ketika Aruh Sastra berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain, perpindahan itu seharusnya membawa kesempatan bagi tuan rumah untuk memperkenalkan kekayaan sastra dan budayanya. Dengan begitu, Aruh Sastra bukan hanya kegiatan yang kebetulan diselenggarakan di suatu daerah, melainkan perjumpaan yang benar-benar melibatkan daerah tersebut.
AI, Karya Sastra, dan Keadilan Penilaian
Perkembangan teknologi juga menghadirkan pertanyaan baru bagi dunia sastra. Salah satunya adalah penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses penciptaan karya. Dalam sebuah diskusi, persoalan ini menjadi bahan pembicaraan. Saya kira, pertanyaan tersebut penting untuk diperhatikan, terutama ketika AI semakin mudah digunakan dalam proses penulisan.
Namun, saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa sebuah karya merupakan hasil AI hanya berdasarkan kesan ketika membacanya. Dugaan tetaplah dugaan, sedangkan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan membutuhkan dasar yang lebih kuat. Saya juga tidak sedang meragukan kapabilitas para juri. Mereka tentu memiliki pengalaman dan pertimbangan kesastraan masing-masing. Yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana proses penilaian dapat terus menjaga keadilan ketika teknologi menghadirkan tantangan baru.
Apakah penggunaan AI diperbolehkan dalam perlombaan? Jika diperbolehkan, sampai sejauh mana? Apakah AI hanya boleh digunakan untuk membantu penyuntingan bahasa, atau peserta boleh menggunakannya dalam menyusun sebagian isi karya? Bagaimana aturan tersebut disampaikan kepada peserta sejak awal? Pemeriksaan menggunakan perangkat seperti Turnitin atau alat pendeteksi AI lainnya mungkin dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan.
Hasil alat pendeteksi tidak semestinya menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah karya dibuat oleh AI. Perangkat semacam itu memiliki keterbatasan dan dapat menghasilkan penilaian yang keliru.
Karena itu, yang lebih penting bukan sekadar menghadirkan aplikasi pemeriksa, melainkan membangun mekanisme penilaian yang transparan, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Juri perlu memiliki pedoman yang jelas, peserta perlu mengetahui aturan sejak awal, dan proses penilaian harus tetap berpusat pada kualitas karya sesuai kriteria yang telah ditetapkan.
Sebab, penghargaan dalam sebuah perlombaan bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang gelar juara. Penghargaan juga menyangkut kepercayaan peserta terhadap proses, penghormatan terhadap kreativitas, dan keyakinan bahwa setiap karya dinilai secara adil. Bagi saya, teknologi tidak harus dijauhi dari dunia sastra. Namun, kemajuan teknologi juga tidak boleh membuat kita kehilangan perhatian terhadap orisinalitas, proses kreatif, dan tanggung jawab seorang penulis terhadap karyanya.
Aruh Sastra yang Terus Belajar
Setelah mengikuti Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke-23 di Hulu Sungai Utara, saya pulang dengan perasaan yang beragam. Ada kebahagiaan, ada rasa bangga, tetapi ada pula sejumlah pertanyaan yang masih tertinggal. Salah satu kebahagiaan itu datang secara tidak terduga ketika saya mengetahui bahwa saya memperoleh juara ketiga dalam lomba penulisan naskah drama. Penghargaan tersebut berada di luar ekspektasi saya. Tentu, saya bersyukur dan mengapresiasi kesempatan yang telah diberikan.
Namun, kebahagiaan pribadi itu tidak membuat saya berhenti memikirkan hal-hal yang menurut saya masih bisa diperbaiki. Saya percaya, kita dapat menghargai kerja keras panitia sekaligus menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru karena kita peduli terhadap keberlanjutan Aruh Sastra, kita perlu berani membicarakan kekurangannya dengan cara yang bertanggung jawab.
Untuk pelaksanaan berikutnya, saya berharap panitia dapat berkonsultasi dan berkoordinasi lebih awal dengan Dewan Sastra Aruh Sastra Kalimantan Selatan yang diketuai oleh Bung Ali Samsudin Arsyi. Koordinasi semacam ini penting agar perencanaan kegiatan, pemilihan agenda, dan pengelolaan ruang apresiasi dapat dilakukan secara lebih matang mungkin kalau boleh mencontohkan seperti Barito Kuala yang digawangi oleh bang Bajau Malela.
Saya juga berharap peluncuran buku hasil perlombaan dan pengumuman pemenang dapat direncanakan sejak awal, dengan mempertimbangkan kemungkinan pelaksanaannya pada hari pertama. Dengan begitu, peserta yang telah menunggu berbulan-bulan memperoleh kesempatan untuk merayakan hasil kerja kreatif mereka bersama-sama.
Selain itu, informasi mengenai fasilitas, jadwal, dan kebutuhan peserta perlu disampaikan secara jelas. Keterlibatan sastrawan lokal di daerah penyelenggara juga perlu diperkuat agar Aruh Sastra benar-benar menjadi ruang pertemuan yang hidup, bukan sekadar kegiatan yang berlangsung di suatu tempat. Satu hal mungkin jangan sampai hilang membaca sastrawan di lokasi ASKS. Dan yang tidak kalah penting, sastra berbahasa daerah perlu terus mendapat ruang yang memadai. Penampilan syair Banjar di Hulu Sungai Utara telah menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi bagian menarik dari sebuah perhelatan sastra. Hal-hal semacam inilah yang layak terus dikembangkan.
Pada akhirnya, saya tidak berharap Aruh Sastra menjadi kegiatan yang sempurna tanpa kekurangan. Saya hanya berharap ia menjadi kegiatan yang mau belajar dari pengalaman, mendengar suara peserta, dan memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki. Sebab, kebudayaan tidak tumbuh hanya karena sebuah acara berhasil dilaksanakan. Kebudayaan tumbuh ketika orang-orang di dalamnya bersedia merawat proses, membuka ruang dialog, dan memperbaiki cara mereka bekerja bersama.
Bantal mungkin hanya urusan kecil. Buku mungkin hanya salah satu mata acara. Bahasa Banjar mungkin hanya salah satu dari sekian banyak ekspresi sastra yang dapat kita hadirkan. Namun, ketika ketiganya kita renungkan bersama, ada satu hal yang terasa penting: bagaimana kita memperlakukan manusia yang datang, menghargai karya yang dilahirkan, dan menjaga identitas kebudayaan yang kita perjuangkan.
Saya pulang dari Aruh Sastra dengan penghargaan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, juga dengan sejumlah catatan yang semoga dapat menjadi bahan perbaikan. Saya tetap percaya bahwa Aruh Sastra memiliki arti penting bagi perjalanan sastra Kalimantan Selatan. Dan justru karena itulah, kita perlu terus bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan kritik. Bukan untuk menjatuhkan Aruh Sastra, melainkan agar perhelatan berikutnya tidak hanya lebih baik dalam penyelenggaraan, tetapi juga lebih kuat dalam merawat sastra daerah.
Sebab, pada akhirnya, yang ingin kita bawa pulang dari Aruh Sastra bukan hanya bantal yang nyaman, buku yang tercetak, atau piagam penghargaan. Kita ingin membawa pulang pengalaman yang bermakna, pertemuan yang menghidupkan, dan keyakinan bahwa sastra daerah kita sedang berjalan menuju masa depan yang lebih baik.@
Bati-Bati, 2 November 2026, Setelah pulang dan merayakan Juara 1 Gelar Sastra.





























