Michel Foucault, seorang filsuf Perancis, pernah menjelaskan tentang bagaimana praktik kekuasaan dijalankan melalui wacana. Maksudnya adalah satu pihak, sesiapapun, tak perlu menggunakan cara-cara represif penuh kekerasan untuk bisa menguasai orang lain. Ia hanya perlu mengetengahkan sebuah wacana di tengah khalayak. Terlebih dahulu ia memastikan wacana itu dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Wacana yang diakui sebagai kebenaran itu akhirnya mengarahkan pandangan para khalayak atas sesuatu. Mereka berpihak pada sesiapapun wacana itu berpihak, dan mereka menentang pada sesiapun wacana itu bertentangan. Dunia hari ini bekerja dengan cara begini. Wacana terorisme pasca (dan sebelum) 911, wacana subversif era Suharto, wacana kebebasan berekspresi, bahkan wacana film-fim Oscar.

Salah satu cara populer untuk mengarahkan khalayak membenarkan dan menyetujui wacana itu adalah rasa takut. Rasa takut muncul, mencekam, barangkali berasal dari teror, barangkali berasal dari prasangka, atau berasal dari suatu kondisi yang muncul tanpa diduga dan diketahui.  Wacana sebagai peranti kuasa lalu muncul sebagai antisipasi teror. Sesiapa pun bisa memunculkan wacana tersebut, bahkan dalam kondisi di mana ia tak menyadari bahwa ia telah memproduksi sebuah wacana. Ketakutan akan menguatkannya.

Baiklah, dua paragraf di atas adalah pembuka membosankan untuk apa yang kali ini ingin saya bicarakan. Oh ya, saya masih dalam suasana ingin membicarakan Covid-19. Mau bagaimana lagi, perihal virus ini masih sangat aktual, kita masih berada dalam lingkaran peristiwa ini dan belum tahu kapan akan bisa keluar darinya.

Covid-19 adalah teror di era kita. Ia menciptakan ketakutan yang mampu mengendalikan perilaku kita, mengubah kebiasaan-kebiasaan kita bahkan yang paling substansial. Dengan rasa takut, kita mudah dibuat melakukan dan tidak melakukan sesuatu, menyetujui dan tidak menyetujui sesuatu, membenci dan menyukai sesuatu. Itu sebabnya Loki di film The Avengers mencoba mengendalikan manusia dengan rasa takut. Lalu bagaimana bentuk pengendalian perilaku karena rasa takut di era Covid-19? Sebagai satu contoh sederhana, kita sekarang tidak menyetujui keramaian, bukan begitu? Meski sebelumnya kita tak tahan hidup jauh dari keramaian. Kita merasa perlu bersosialisasi. Namun sekarang? Kita bahkan mencela orang yang masih senang berkumpul tanpa ada jarak sosial.

Belakangan, wacana-wacana yang muncul gegara ketakutan kita pada virus ini semakin membabi buta. Entah siapa yang pertama kali memproduksinya, namun sebagian khalayak ramai sudah terarahkan untuk berpikir dalam kerangka wacana itu. Di antara wacana yang penting untuk dibahas di sini adalah bahwa orang-orang yang tertular (atau berpotensi besar tertular) Covid-19 adalah petaka yang harus dijauhi dan disingkirkan dari hidup keseharian, dan jika mereka meninggal mereka tetap petaka dan tetap harus dijauhkan dari hidup keseharian.

Sebuah wacana kontradiktif yang menunjukkan ketidakkonsistenan logika berpikir karena masalah sebagian besar masyarakat kita hari ini adalah sulitnya membuat mereka menjalankan protokol perlindungan terhadap virus ini. Mereka masih berkerumun dengan santuy, tak peduli dengan tuntutan pemerintah untuk selalu memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, enggan disuruh mencuci tangan secara berkala. Seakan-akan mereka tidak takut jika tertular, seolah-olah virus ini sesepele perkara membeli wadai untuk-untuk, kalau ingin membeli yang beli, tidak ya abaikan.

Namun,  mental superior ini justru tidak berlaku ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang positif tertular virus, baik yang hidup dan yang meninggal. Ketakutan mereka bahkan mengalahkan kejernihan berpikir dan rasa kemanusiaan. Ketakutan tidak rasional yang sama fatalnya dengan ketidaktakutan tidak rasional sebelumnya.

Jika mereka yang tak punya rasa takut kepada virus hingga mengabaikan protokol perlindungan diri terhadap virus (yang pada akhirnya akan merugikan orang selain dirinya) adalah orang yang sama dengan mereka yang ketakutan setengah mati terhadap virus ini hingga menciptakan tragedi kemanusiaan (mengusir penderita sakit karena virus dari rumahnya sendiri atau menolak penguburan jasad orang positif tertular virus ini), maka ini adalah jenis komedi slapstick kasar dan tidak lucu. Ini adalah penanda ketidakberesan kondisi mental, perilaku kontradiktif yang terjadi dalam diri seseorang dalam waktu dan perkara yang sama.

Apakah pembaca marah dan sakit hati mengetahui ada jasad seorang perawat yang meninggal dalam tugasnya merawat pasien positif Covid-19. Ia meninggal karena tertular pasien yang ia rawat, sebuah kematian heroik, tapi warga di mana ia tinggal justru menolak jasadnya dimakamkan di wilayah tersebut. Siapa memproduksi wacana yang mengikis rasa kemanusiaan macam ini? Kasus ini terasa menyakitkan bagi kita karena almarhumah adalah tenaga kesehatan. Pahlawan dan kesayangan kita khususnya di era Covid-19 diperlakukan bagai pesakitan. Jasadnya tidak inginkan. Di belakang (dan di depannya) ada jasad-jasad lain yang juga tak diinginkan.

Kita juga membaca tentang orang dengan status positif tertular atau bahkan masih dalam status dugaan kuat tertular, ditolak oleh tetangga-tetangganya, diasingkan oleh lingkungannya. Apa yang lebih memilukan daripada penolakan?

Facebook Comments