Hari-hari ini, jika menyebut nama “Jokowi”—ya, siapa lagi kalau bukan Presiden Joko Widodo—mesti hati-hati, tengok kanan-kiri. Dan pastikan juga, dengan siapa kamu bicara.  Bila tidak, alih-alih pembicaraan berlangsung menyenangkan, bisa-bisa malah justru menjadi debat panjang tak ada ujung dan kesimpulan.

Namun, sebelumnya pastikan juga kamu sebagai apa berbicara tentang Jokowi. Biar mudah saja, pastikan dulu kamu sebagai “cebong” atau “kampret”—sungguh, saya tidak enak menggunakan nama dua  binatang yang sama sekali tak ada bagus-bagusnya ini. Tapi apa boleh buat, kedua nama itulah yang menjadi pembeda untuk dua kubu; pro dan kontra Jokowi. Dan belum ada juga yang merasa keberatan. Sebaliknya, kedua kubu malah asyikasyik aja dengan sebutan itu.

Kita tahu, terutama di media sosial macam fesbuk, setiap ada yang memuji-muji Presiden Jokowi pasti disebut “cebong”. Begitu sebalik, setiap ada yang menjelek-jelekkan Jokowi maka dikatain “kampret”. Seru. Absurd juga kadang-kadang. Mereka yang bukan terang-terangan sebagai “cebong” atau “kampret” pasti senyam-senyum membaca pernyataan dan komentar-komentar dua kubu itu.

Sepertinya, sebutan “cebong” dan “kampret” ini hanya dilontarkan secara vulgar di dunia maya saat mereka menjadi manusia netizen. Tidak di dunia nyata, manakala mereka benar-benar manusia yang berjalan di atas muka bumi. Syukurlah. Kita mungkin tak bisa membayangkan apabila nama dua binatang itu diteriakkan dalam ruang tak hampa udara ini, entah di jalan, entah di pasar, entah di kantor, bandara, atau sekadar sekadar jalan-jalan dengan memakai kaus #2019GantiPresiden tiba-tiba ada yang teriak, “Hoi… Kampret…” Lalu dibalas, “Hoi… Cebong…” Kan, nggak asyik.

Kata “cebong” dan “kampret” ini juga sudah menjadi semacam kutukan. Saling kutuk antara dua kubu berseberangan, atau istilah lain: tetanggaan. Untung saja kita tidak hidup di zaman Malin Kundang (jika benar legenda itu ada), bisa-bisa jadi cebong dan kampret benaran. Nggak lucu, kan… Sudah itu, cebong dan kampret ini saling kutuk pula. Ribet.

Tidak heran, karena sudah saking parahnya, banyak kalangan netizen yang berharap agar sebutan “cebong” dan “kampret” ini dihentikan. Stop. Cukup sudah. Bahkan, tidak kurang, Aa Gym meminta agar jangan lagi memanggil dengan panggilan yang jelek ini.

“Jangan panggil-memanggil dengan gelaran-gelaran yang buruk. Satu panggil kecebong, satu panggil kampret. Kita ini manusia. Allah memuliakan kita dengan menjadi manusia,” pesan Aa Gym dalam ceramahnya pada Kajian Tauhid, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (8/7) bulan lalu.

Lalu, dari manakah datangnya (sebutan) “cebong” dan “kampret” ini? Sudah pasti bukan dari mata turun ke hati.

Konon, istilah “cebong” itu tenar lantaran sang Presiden Jokowi suka piara cebong di instana. Bahkan, beliau memiliki satu kolam yang isinya cebong semua. Nah, barangkali inilah mengapa para pendukung Jokowi ini lantas disebut “cebong”.

Sementara, sebutan “Kampret” sedikit berbau sejarah. Ceritanya, waktu Prabowo kalah dalam Pilpres 2014, dibentuklah kelompok oposisi dengan nama Koalisi Merah Putih alias KMP. Lantas, singkatan KMP ini diutak-atik, dimodifikasi—tentu saja oleh para “cebong”, eh, pendukung Jokowi maksudnya, maka jadilah “kampret”.

Begitulah awal mula “kisah cebong dan kampret”, yang sampai hari ini selalu rajin bertengkar, dan mudah-mudahan juga rajin ibadah. Karena kita tahu, kedua kubu itu tentu memiliki tujuan yang sama, yakni Indonesia yang sejahtera. Hanya saja beda cara, beda jalan, beda orang (pilihan pemimpin), beda pikiran. Meski berbeda-beda, semoga kita tetap satu.

Hanya saja ya, bagaimanapun, kutukan-kutukan dengan sebutan “cebong” dan “kampret” itu tidak ada baik-baiknya. Tapi, andai dengan itu mereka tetap merasa bahagia, apa mau dikata…[email protected]

Facebook Comments