sebuah bendera hanyut dalam mimpiku
warnanya luntur di sela telaga
mengaduk-aduk ingatan yang urung kujaga
: kaulah yang berlayar ke tepi kemerdekaan itu!
KEHADIRAN Nissa Rengganis dalam MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival yang digelar di Balairung Sari, Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Kamis (6/8/2026), tidak saja sebagai Stafsus Menteri Kebudayaan Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, tetapi juga sebagai penyair.
Menariknya, Nissa bahkan berkolaborasi dengan seniman Kalsel, Buzack (panting) dan Novyandi Saputra (sarantam), sehingga penampilan mereka diberi nama BuNiNo (akronim dari Buzack, Nissa, dan Novyandi), dengan menghadirkan musikalisasi puisi. Mereka juga dibantu dua seniman; Anang memainkan alat pukul tarbang dan Wahyu meniup suling.
Penampilan Nissa dan grup ini sebenarnya dadakan. “Kami sama sekali tidak latihan,” ucap Nissa di atas panggung, sebelum memulai. “Kami begitu saja diminta melakukan penampilan musikalisasi puisi. Namun saya percaya, teman-teman yang mengiringi pembacaan puisi saya sudah ahli,” kata Nissa, yang pernah meraih Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015 lewat buku puisinya Manuskrip Sepi.
“Sebuah Bendera” karya Hudan Nur, penyair asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi musikalisasi puisi pertama yang ditampilkan BUNINO. Puisi ini terasa tepat sekali di saat menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia.

Kucium bendera itu
aromanya luntur dilibas musim yang dikendalikan orang-orangan negeri
kucari bilur merah-putih ke dalam kamu yang haus mencari
kubuka album warna yang entah menyimpang ke mana
Bahwa tidak ada persiapan atau latihan, ternyata penampilan BuNiNo cukup apik. Panting yang dimainkan Buzack menjadi pusat bunyi musik yang mampu diiringi secara harmonis pemusik lainnya. Pun Nissa, mampu menempatkan vokalnya dalam nada ketukan. Ketika tempo musik merambat cepat, Nissa juga meningkatkan vokal pembacaan puisinya.
Tepuk tangan memenuhi ruang Balairung Sari Taman Budaya begitu usai penampilan pertama.
“Wah, ternyata lumaya juga,” kata Nissa mengomentari penampilan mereka sendiri, yang lantas mengajukan tangan ‘tos’ kepada teman-teman musiknya. Selanjutnya, penampilan kedua, BuNiNo membawakan pusi karya Nissa Rengganis sendiri berjudul Apa Kabar Palestina.
Masih terlalu pagi
untuk mengabarkan duka
airmata sore kemarin masih belum mengering
membasahi tanah gersang
tanah yang sudah dibumi-hanguskan
Penampilan kedua BuNiNo ini kembali mendapatkan tepuk tangan meriah.
“Sebenarnya ini latihan saja. Penampilannya nanti,” ucap Novyandi sembari tertawa, sebelum kemudian mereka mengucapka terima kasih dan bersiap meninggalkan panggung.
“Mungkin dari sini kita bisa melanjutkan kolaborasi untuk penampilan selanjutnya,” timpal Nissa, yang juga mengaku kangen tampil sebagai penyair seperti yang baru dilakukan.
Penampilan Nissa Rengganis dengan kelompok barunya BuNiNo memberi warna tersendiri terhadap pelaksanaan MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival yang mengangkat tema “Lapah”, akronim dari bahasa Inggris, yaitu; Local Art and Persistance of Act Herritage yang secara harfiah diejawantahkan sebagai sastra lokal yang terus tumbuh dan konsisten melestarikan warisan seni.@






















