Kalian yang ingin ikutan Lomba Baca Puisi Online #17anbanaranmedia Se-Kalimantan Selatan, masih punya kesempatan. Pasalnya, pihak banaranmedia memperpanjang batas akhir upload video lomba baca puisi hingga tanggal 25 Agustus 2020.

Nah, untuk mengikuti lomba yang terbuka untuk umum ini, perhatikan beberapa ketentuannya berikut ini.:

  1. Peserta membuat video baca puisi dengan memilih salah satu dari karya berikut;
    a. Eza Thabry Husano (Kaulah yang Menambat Rakit Kemerdekaan)
    b. Ahmad Fahrawi (Orang-orang Pendualng)                                                                    Kedua puisi ada di akhir tulisan ini.
  2. Peserta membacakan puisi dengan menyebut lengkap nama pembaca, kota asal, pencipta serta judul puisi yang dibacakan.
  3. Video pembacaan puisi berdurasi 3-5 menit.
  4. Peserta tidak dipungut biaya (Gratis).
  5. Peserta adalah warga Kalimantan Selatan.

Sedangkan untuk upload video, ketentuannya:

  1. Facebook pribadi dengan caption semenarik mungkin.
  2. Peserta wajib mentag akun facebook BanaranMedia.
  3. Peserta diwajibkan memfollow Fanspage BanaranMedia.com
  4. Wajib menggunakan hastag #17anbanaranmedia

Lomba ini memilih 10 pembaca terbaik dengan hadiah:

  • Uang pembinaan Rp.300.000
  • Setiap pembaca terbaik mendapatkan 1 eksemplar buku (bisa diambil di kantor redaksi BanaranMedia.com atau dikirimkan dengan biaya ongkir ditanggung masing-masing pemenang).
  • Piagam Penghargaan Cetak (bisa diambil di kantor redaksi BanaranMedia.com atau dikirimkan dengan biaya ongkir ditanggung masing-masing pemenang).

Apabila ada hal yang perlu diperjelas, calon peserta bisa mengontak narahubung:

  1. 0822-5045-5071 (Humaidi)
    2. 0815-2765-5650 (Ranggajati)

Dan berikut ini dua puisi yang bisa dipilih para peserta untuk mengikuti lomba

 

Eza Thabry Husano

Kaulah yang Menambat Rakit Kemerdekaan

Kaulah yang membawa rakit turun dari bukit
Ketika hutan terbakar. Daun daun mengibar-ngibarkan
bau mesiu. Menatap merah langit di atas negeri
terluka di sawang waktu
Kaulah yang meluncurkan rakit bambu
mengayuh mulai hulu di riak alir dan batu batu
Meniti jeram terhempas ke riam
dipijar semangat janji Kemerdekaan!

Kaulah yang lebih dahulu tiba
di pantai akanan! Menambat rakit Kemerdekaan
Tapi sayang, kau tak sempat meniduri rumah
yang tonggak rangkanya telah ditancapkan
di pantai tempat robohmu
Yang Abadi.

(1982)

 

Ahmad Fahrawi

Orang-Orang Pendulang

Dipukul kilau batu berangkatlah orang-orang pendulang
Nun ke galau pedalaman ke pendulangan yang memendam
rahasia batu
Berangkat dengan kepastian mimpi menuju
keserbamungkinanMu
Adakah kilau batu akan tenggelam tangan mereka
Adakah keserbamungkinanMu akan merebut mimpi mereka

Orang-orang pendulanglah yang membatukan tabu demi tabu
karena kilau batu adalah milik para datu
jika murka datu, batu pun akan kehilangan kilau
dan tanpa kilau makna batu akan kembali ke batu

Dipukul kilau batu orang-orang pendulang menggali lubang
demi lubang
melimbang, dulang demi dulang
sesuntuk hari demi hari sesuntuk musim demi musim
Tak hendak pulang, walau tak semua dulang melimbang batu
walau tak sebutir batu mengandung kilau
karena di lekuk bumi masih terpendam rahasia batu
karena di lekuk langit masih terpendam
keserbamungkinanMu
(Musim pun sempurna memuara
Menduyunkan orang-orang pendulang menuju kampung pulang
Walau tak lagi berkabar, yang tinggal selalu menungggu kabar
karena mereka yang pulang telah menggenggam rahasia batu
telah menempuh pedalaman saung-saung rahasia LuhMu)

Martapura, 1987

 

Facebook Comments