TENTU kedua-duanya (dari pertanyaan judul di tulisan ini) bukanlah pilihan yang harus dipilih. Tidak ada pilihan yang lebih baik dari pilihan lainnya. Namun di atas semua itu, nyawa manusia tentu adalah lebih berharga—karena tidak pernah sepadan dengan apapun, termasuk sepakbola.

Kenapa (mesti) ada pertanyaan semacam itu?

Ya, tetapi pertanyaan itu memang ada, dilontarkan seorang pencinta sepakbola. Bahkan pertanyaan itu ditulis sebelum terjadi peristiwa memilukan dengan tewasnya seorang suporter Jackmania saat akan menyaksikan laga Persib Bandung vs Persija Jakarta pada pekan ke-23 Liga 1 2018 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu, (23/9/18).

Adalah akun @m_fu4d yang menulis: “Sepakat! Kalo masih ada yang meninggal karena sepakbola, ya baiklah sepakbola itu saja yg dimatikan.”

Bambang Pamungkas lewat akunnya @bepe20 memberikan tanggapan: “Agak ngilu sih bayangin tidak ada sepakbola di Republik, tapi saya setuju.”

Dan ternyata, wanti-wanti itu terjadi. Lantas, apakah sepakbola (Indonesia) memang sebaiknya (harus) dimatikan saja? Agar tidak ada lagi korban-korban berjatuhan—yang menurut catatan Indosport.com sudah 6 orang tewas sepanjang “perseteruan” antara The Jackmania dengan Bobotoh, dari tahun 2012 hingga 2018. Jumlah korban yang tidak sedikit, sebab satu nyawa saja hilang itu sudah terlalu banyak.

Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang penggila bola, lebih-lebih menjadi pendukung fanatik tim pujaan, terutama kesebelasan yang berasal dari kota atau provinsi sendiri. Sebagai orang Banjar dan berdiam di Banjar, saya hanya pernah sekali menonton Barito Putera berlaga di Lapangan 17 Mei, Banjarmasin—itu pun karena diajak paksa seorang teman pencinta bola.

Saya termasuk tipe pencinta bola musiman, yakni hanya cukup antusias ketika Piala Dunia. Tim bola Prancis adalah favorite saya—bukan karena kebetulan mereka Juara Piala Dunia 2018 tadi. Selebihnya, saya hanya suka menonton laga Real Madrid atau Manchester United di layar kaca. Atau pas kebetulan Tim Bola Indonesia sedang tanding dengan tim negara lain.Tentu saya selalu mendukung dan berharap Indonesia menang—sialan lah saya bila tidak begitu.

Entah kenapa, saya pesimistis dengan sepakbola kita. Terutama dengan liga-liga yang mempertandingkan klub-klub bola di Indonesia. Bagaimanapun, sesekali saya secara tidak sengaja menyaksikan juga pertandingan bola antar klub itu di televisi. Dan yang mengherankan saya, mengapa ada begitu banyak wajah bule?

Rata-rata mereka adalah penyerang, yang otomatis paling sering bikin gol. Begitu dia selebrasi, dan dirayakan oleh rekan setimnya yang juga bule, saya kadang terperangah dan bertanya-tanya, “Ini sepakbola Indonesia apa bukan?”

Tentu saja ada aturan yang membolehkan merekrut pemain asing dengan jumlah tertentu ke dalam satu klub. Namun saya tidak ingin mencari tahu apalagi mempelajarinya lebih jauh, beserta apa alasannya. Yang pasti, sebagai seorang yang bukan penggila bola dan tidak mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, hal itu terasa aneh bagi saya pribadi. Okeh, mungkin di negara lain juga ada peraturan yang sama, yakni adanya ketentuan membolehkan merekrut pemain luar untuk bermain di liga negara bersangkutan.

Sudah itu, pelatihnya juga ada yang bule! Bahkan di semua lini, pemain asing selalu ada yang bermain. Terkecuali kiper, saya belum pernah melihat ada pemain asing yang menjadi kiper di liga kita—koreksi saya bila salah.

Jika ada posisi pemain (klub) di Indonesia yang mampu membuat saya bangga, tidak salah lagi itu adalah posisi kiper.

Baiklah, kembali ke persoalan krusial soal korban nyawa dalam sepakbola Indonesia; lalu apakah ada solusi bagaimana agar tidak sampai ada lagi yang mati?

Yang tersulit soal urusan nyawa ini adalah karena itu sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha. Okeh, jadi apa usahanya?  Apa solusinya? Kalian yang penggila dan fanatik bola tentu lebih paham dan lebih pantas mencoba memberikan jalan keluarnya.

Tapi, bagaimana jika salah satu solusi itu seperti yang disampaikan di atas dan disepakti oleh Bambang Pamungkas? Yakni: ”Kalo masih ada yang meninggal karena sepakbola, ya baiklah sepakbola itu saja yg dimatikan.”

Kalian boleh berdebat soal itu.

Termasuk juga apakah memang suporter-suporter kita begitu brutal?

Tetapi kita tahu, suporter sepakbola paling terkenal brutal di dunia adalah Hooligan, sebutan untuk fans sepak bola di Inggris sejak 1960an. Sebutan ini diberikan pada sekelompok pendukung klub sepakbola Inggris yang gemar melakukan tur mengikuti tim pujaan mereka bermain di luar kota. Ya, sama seperti di kita, mereka juga punya tradisi away day mengawal tim kesayangan. Mereka membentuk kelompok-kelompok,  beberapa yang terkenal, disegani bahkan ditakuti, di antaranya Gooners, The Herd, Villa Hardcore, Zulu’s Army, Headhunters, The Army, dan The Urchins. Kehidupan para Hooligan ini sampai difilmkan dengan judul Green Stree Hooligans dengan bintang Elijah Wood dan Charlie Hunnam.

Hooligan terkenal urakan, suka minum-minum, bernyanyi, hingga melakukan kerusuhan. Tak jarang aksi mereka memakan korban. Insiden penusukan antar kelompok Hooligan mewarnai sepakbola Inggris. Termasuk di antaranya tragedi Heysel, pada 29 Mei 1985, yang terjadi saat pertandingan antara Liverpool dan Juventus di Piala Champions (kini Liga Champions)—dan menjadi sejarah buram sepakbola Inggris. Peristiwa ini bermula dari fans masing-masing klub yang saling mengejek dan melecehkan. Sekitar satu jam sebelum kick off, kelompok hooligan Liverpool menerobos pembatas masuk ke wilayah tifosi Juventus. Kerusuhan tak terhindarkan. Sebanyak 39 suporter sepakbola tewas.

Menyikapi kejadian itu, pemerintah Inggris pun secara resmi melarang kegiatan Hooliganisme dalam bentuk apapun. Para Hooligan tidak bisa mengenakan kostum tim kesayangan mereka saat menonton. Mereka akhirnya hanya mengenakan pakaian kaus atau kasual.

Indonesia bisa berkaca dari kasus suporter di Inggris ini, yang jauh lebih kelam sejarahnya. Inggris tidak otomatis “mematikan” sepakbolanya, kendati puluhan nyawa melayang.

Barangkali, kita hanya perlu “Jeda Sepakbola”. Bukan “Mematikan Sepakbola”, sebab kalau mati maka tidak bisa hidup lagi, kalaupun hidup jadinya zombie. Jeda di sini dalam artian berhenti untuk sekian waktu sembari memikirkan ulang apa yang telah “salah kelola” dalam sepakbola kita. Kalau aktivis lingkungan biasa menyebutnya “Moratorium”, yakni jeda menebang pohon (hutan) atau menambang batubara.

Sebab boleh jadi, sepakbola kita memang sama runyamnya dengan kondisi hutan dan penambangan batubara saat [email protected]

Facebook Comments