Ariffin Noor Hasby

HALLO BANJARBARU, APA KABAR

(bagi: Pak Walikota)

aku mencari lenganmu berpuluh tahun
di antara percakapan musim
yang mengantarkanmu berdzikir
mengasuh masjid-masjid-Nya

tapi, beratus surat telah kutulis
kepada cakrawala yang menjanjikan
selalu saja irama matahari
mengembalikan kata-kata
yang kutulis dengan wangi tubuhmu

hallo Banjarbaru, apa kabar?
suaramu menggamitku untuk berkemas
membuka pintu untuk tamu yang datang
membagi senyuman dan pengalaman!

Banjarbaru, Maret 2000

 

Sekilas tentang Sejarah Perjalanan Sastra Kalimantan Selatan 

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa. Dengan pengertian dasar itu, tampak bahwa objek sejarah sastra adalah segala peristiwa yang terjadi pada rentang masa pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa. Sejarah sastra itu bisa menyangkut karya sastra, pengarang/sastrawan, penerbit, kritik sastra, aliran-aliran sastra, pengajaran sastra, dan lain-lain.

Hingga hari ini, sejarah perjalanan Kalimantan Selatan telah berlangsung relatif panjang dengan perkembangannya yang terbilang pesat dengan berbagai dinamikanya, sehinggga dapat ditulis secara panjang lebar. Hal itu dapat dipandang sebagai tantangan besar bagi para ahli sastra, akademisi sastra, dan para sastrawan sendiri untuk melakukan penelitian, menulis, dan menerbitkannya menjadi sebuah buku sejarah sastra yang lengkap dan representatif.

Pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia modern di Kalimantan Selatan sesungguhnya dimulai sebelum perang dunia kedua, di sekitar pertengahan atau akhir tahun 1930-an, atau hampir bersamaan dengan kurun waktu kegiatan penulisan yang dilakukan oleh para sastrawan Angkatan 1930-an (Angkatan Pujangga Baru). Meskipun pada kurun waktu awal penulisan para sastrawan Kalimantan Selatan tidak setenar Angkatan Pujangga Baru, karena sastrawan Kalsel pada umumnya menulis pada penerbitan (majalah dan koran) lokal, tidak sebagaimana sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang karyanya menjadi karya monumental karena menulis dan dimuat di majalah Pujangga Baru – satu-satunya penerbitan penting yang memuat karya sastra para sastrawan di zamannya.

Para sastrawan Kalsel yang memulai kegiatan penulisan karya sastra pada periode 1930-1942 (sastrawan generasi zaman penjajahan Belanda) ini antara lain: Abdul Hamid Utir, Abdul Jabbar, Abdul Muin Cuty, Abdurrahman Karim, Ahmad Basuni, Amir Hassan Bondan, Anak Martapura, Arsyad Manan, Artum Artha, Asmail Gafuri, Asnawi Rais, Darmawi Saruji, Gusti Abdul Malik Thaha, Gusti Abdurrahman, Gusti Abubakar, Gusti Mayur, Hadharyah M. Sulaiman, Hamdi Redwansyah, Harun Muhammad Arsyad, Haspan Hadna, Hassan Basry, HMAS Amandit, Kasyful Anwar (Kesuma Amandit), Masdari, Merah Daniel Bangsawan, Merah Johansyah, Merayu Sukma, Muhammad Yusuf Aziddin, Ramlan Marlim, Sarasakti, dan Zafry Zamzam (ayahnya penyair Fitry Zamzam atau Dewa Pahuluan). Para sastrawan inilah diklaim sebagai generasi sastrawan perintis kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan.

Kemudian, pada kurun waktu 1942 s.d. awal 1950-an, kesusastraan Indonesia diisi oleh generasi atau yang dikenal dengan Angkatan ’45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Beberapa nama sastrawan yang berkiprah di khasanah kesusastraan Kalsel, terutama pada kurun waktu 1942-1945 (sastrawan generasi zaman penjajahan Jepang), antara lain: Abubakar Razi, Ahmad Samidri, Ahmad Zakaria, Aliansyah Ludji, Anggraini Antemas (Yusni Antemas), Asyikin Noor Zuhri, Fahruddin Mohani, Gusti Maswan, Husien Razak, Ilham Se Banjar, Maseri Matali (yang sajak-sajaknya pernah dipuji oleh kritikus sastra HB. Jassin), SM Darul, Sir Rosihan, Syahran Syahdan, Tamar Eka, Zafury Zumri, dan Zainal.

Setelah Angkatan ’45, sebuah angkatan baru dicetuskan lagi di Yogyakarta, yaitu Angkatan 50 yang dipelopori oleh WS Rendra, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, dan lain-lain. Para sastrawan Kalsel yang muncul dan mulai aktif menulis dalam berbagai genre penulisan (puisi, cerpen, novel, dan naskah drama), adalah Hijaz Yamani, Ramta Martha (Rahmat Marlim), Azn. Ariffin, Dachry Oskandar, Darmansyah Zauhidhie, Taufiqurrahman, Nawawi Hanafiah (Nawhan), Yustan Aziddin, Salim Fachry, Sholihin Hasan, Rustam Effendi Karel, Adjim Arijadi, Korsen Salman, Imran Mansyur, Abdul Kadir Ahmad, Syamsul Suhud, Syamsur Bahriar AA, Syamsiar Seman, Goemberan Saleh, dan lain-lain.

Generasi sastrawan tahun 1960-an yang dikenal dengan Angkatan 66 (dideklarasikan oleh H.B. Jassin). Para sastrawan Kalsel yang berkiprah pada periode ini, antara lain M.H. Hadharyah Roch, A.S. Ibahy, Ardiansyah M. Murjani Bawi, Bachtar Suryani, Andi Amrullah, Gusti Muhammad Farid, M. Sulaiman Najam, Amir Husaini Zamzam, dan lain-lain. Pada tahun 1963 untuk pertama kali terbit antologi puisi penyair se- Kalimantan, yaitu Perkenalan di Dalam Sajak Penyair Kalimantan. Kemudian terbit pula beberapa antologi puisi perorangan dari penyair D. Zauhidhie (Imajinasi, 1960), Bachtar Suryani (Kalender, 1967), Syamsiar Seman (Bingkisan, 1968), dan Maseri Matali (Nyala, 1968).

Pada periode 1970-an, perkembangan sastra(wan) di Kalimantan Selatan terbilang sangat pesat, sebagaimana ramainya percaturan sastra di tanah air. Sastrawan Kalsel yang muncul pada periode ini adalah Eza Thabry Husano, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Ajamuddin Tifani, M. Syarkawi Mar’ie, Yuniar M. Ary, A. Rasyidi Umar, Bakhtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo, Syukrani Maswan, H.M. Nansi, Ibrahim Yati, Sofyan Surya, A. Mudjahidin S, Ulie S. Sebastian, Ibramsyah Amandit, Iberamsyah Barbary, Roeck Syamsuri Saberi, A. Dimyati Riesma, Syarkian Noor Hadie, Jaka Mustika (Maskuni), Alfian Noor, Johan Kalayan, Yan Pieter A.K. (Nayan van Houten), Dardy C. Hendrawan, Mas Husaini Maratus, Abdul Karim Amar, dan lain-lain.

Periode 1980-an hingga pertengahan 1990-an adalah ‘puncak’ perkembangan sastra di Kalsel. Namun pada periode ini karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Generasi sastrawan periode ini adalah Ahmad Fahrawi, M. Rifani Djamhari, Rizhanuddin Rangga, Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, Y.S. Agus Suseno, Ersis Warmansyah Abbas, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Fahrurrazi Asmuni, Eko Suryadi WS, Radius Ardanias Hadariah, Maman S. Tawie, Jamal T. Suryanata, Iwan Yusi, Aria Patrajaya, Muhammad Radi, Zain Noktah, MS. Sailillah, Antung Kusairi, Ahmad Syarmidin, Rosydi Aryadi Saleh, Samsuni Sarman, Rietna Imran, Sri Supeni, Nellawati Agen, Lilies Martadiana, Abdul Karim, dan lain-lain untuk menyebut hanya beberapa nama.

Pertengahan 1990-an hingga memasuki abad 21, yaitu awal 2000-an dan menjelang akhir tahun 2019 ini, iklim bersastra di Kalsel makin semarak. Denyut kehidupan dan kegairahan para sastrawan untuk berkarya tidak pernah mengalami stagnasi atau kemandekan. Para sastrawan terkini dari generasi 2000-an atau generasi sastrawan muda milenial yang sedang berproses, kreatif dan produktif mulai bermunculan ikut menyumbangkan bentuk, warna dan pengucapan literer, dan mereka pun bersemangat merayakan kreativitas bersastra, bersaing bersama sastrawan generasi sebelumnya (sastrawan generasi 1990-an serta disokong oleh generasi 1980-an dan beberapa dari generasi 1970-an yang masih menunjukkan vitalitas berkarya).

Sederet nama sastrawan baru dari generasi 1990-an hingga 2000-an ini antara lain: Sandi Firly, Hajriansyah, M. Hasbi Salim, Mahmud Jauhari Ali, Sainul Hermawan, Aliansyah Jumbawuya, Randu Alamsyah, Harie Insani Putra, Abdurrahman El Husaini, M. Nahdiansyah Abdi, Muhammad Fuad Rahman, Andi Jamaluddin AR. AK, Bram Lesmana (Syibram Mulsi), Taberi Lipani, Joni Wijaya, M. Johansyah, Arief Rahman Heriansyah, Aspihan N. Hidin, Gusti Indra Setyawan, Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara, Tato Setyawan, Abdillah Mubarak Nurin, Aan Setiawan, Aliman Syahrani, M. Amin Mustika Muda Ginting, Isuur Loeweng, Mulyadi Razak, Ahmad Husaini, M. Irwan Aprialdy, Muhammad Daffa, dan beberapa nama sastrawan muda lainnya. Pada periode ini bermunculan pula para penulis perempuan yang cukup produktif, seperti Hudan Nur, Agustina Thamrin, Trisia Chandra, Nina Idhiana, Rahmatiah, Nonon Jazouly, Ratih Ayuningrum, Dewi Alfianti, Nailiya Nikmah JKF, Imraatul Jannah, Syafiqotul Machmudah, Rahmiyati, Erika Adriani, Rismiyana, Farah Hidayati, Kalsum Belgis, Seroja Murni, Helwatin Najwa, Mariyana, Rika Hadi, Sri Naida, dan beberapa lagi nama baru penulis perempuan lainnya. Di antara para sastrawati perempuan yang menulis berbagai genre sastra ini (puisi, cerpen, novel, dan esai sastra), ada beberapa nama penulis yang pintar, cerdas dan memiliki potensi hebat dalam mengeksplorasi sumber-sumber penciptaan yang beraneka-warna, menjelajahi berbagai kemungkinan bentuk maupun gaya pengucapan atau gaya Bahasa. Kehadiran maupun peran para sastrawan dan sastrawati generasi baru ini setidaknya turut pula memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia modern di Kalimantan Selatan. Apalagi kehadiran generasi baru ini disemarakkan lagi dengan gencarnya penerbitan karya sastra mereka berupa antologi puisi dan cerpen (antologi tunggal maupun antologi bersama), serta penerbitan buku-buku novel.

Berkaca pada pengalaman, hanya sastrawan yang memang benar-benar mempunyai ketangguhan dan kesungguhan yang terus-menerus untuk menciptakan karya yang berkualitas secara estetik maupun tematik, gigih, tekun dan konsistenlah yang kemudian mampu memertahankan eksistensi kesastrawanannya.

Sastra Banjarbaru sebagai Barometer dan Puncak Sastra Kalimantan Selatan

Sastra(wan) di Kalimantan Selatan tentu tidak bernama sastra(wan) Kalimantan Selatan tanpa adanya sastra(wan) di daerah Kabupaten/Kota, dalam konteks ini termasuk keberadaan sastra dan sastrawan Kota Banjarbaru. Tersebab tak bisa dimungkiri bahwasanya sastrawan Banjarbaru juga ikut membentuk historisnya kesusastraan Kalimantan Selatan. Pada konteks ini, tersirat bahwa sastrawan Banjarbaru memiliki peran penting dalam membentuk eksistensi dan perjalanan sastra di Kalsel, serta lebih luas lagi memiliki andil yang besar dalam memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia. Artinya, bahwa keberadaan sastra(wan) Banjarbaru, juga sastra(wan) di kabupaten/kota lainnya merupakan puncak-puncak kesusastraan Kalimantan Selatan. Diakui ataupun tidak, pertumbuhan dan perkembangan sastra Banjarbaru yang diasumsikan sebagai salah satu barometer sastra Kalsel sampai hari ini tetap terjaga eksistensinya.

Setengah abad sudah perjalanan sastra Banjarbaru, bukanlah waktu yang singkat. Ia adalah perjalanan yang sangat panjang, mengiringi perjalanan sejarah sastra Kalimantan Selatan yang mulai tumbuh dan berkembang selama 89 tahun (1930 – 2019).

Dalam rekaman perjalanan 50 tahun sastra Banjarbaru ini, tentu masih ada beberapa momentum peristiwa maupun para pelaku sastra Banjarbaru yang tercecer, tak terekam dan tak sempat tercatat tersebab minimnya data serta terbatasnya informasi yang diperoleh oleh tim penyusun/penulis buku ini. Semoga pada edisi penerbitan berikutnya (kalau ada), segala kekurangannya bisa lebih disempurnakan atau dilengkapi lagi sehingga menjadi sebuah buku sejarah sastra Banjarbaru yang representatif.

Di dalam Bab II buku ini, penyusunnya menetapkan bahwa tonggak historis perjalanan sastra di Banjarbaru dimulai sejak akhir dasawarsa 1960-an. Bahkan saya pun memprediksi bahwa pertumbuhan dan aktivitas bersastra di Banjarbaru malahan sudah ada sejak awal 1960-an. Prediksi ini berdasarkan informasi yang pernah saya dengar tentang adanya penerbitan buku antologi puisi seorang penyair yang namanya tak tersebutkan dan bermukim di kota ini. Mungkin masih ada lagi beberapa penyair Banjarbaru di masa itu yang menerbitkan buku puisinya secara tunggal dengan format sederhana (dicetak secara stensilan) namun juga tak bisa dilacak siapa saja nama para penyair tersebut. Dalam konteks ini, bisa diasumsikan (tapi saya tak berani untuk menyimpulkan) bahwa penetapan tonggak sejarah sastra Banjarbaru bisa ditarik mundur ke awal dasawarsa tahun 1960-an. Akan tetapi saya harus setuju dengan pernyataan para penyusun buku ini, bahwa penetapan tonggak sejarah sastra adalah adanya bukti secara fiksi berupa naskah/manuskrip karya sastra itu sendiri. Kalaupun para penyusun buku ini memperoleh informasi penting lainnya mengenai adanya penerbitan Majalah Sastra Anjung (terbit antara tahun 1965-1969), bukti fisik majalah sastra itupun juga tak bisa ditemukan.

Facebook Comments