BAGAIKAN kisah asmara selebrita, virus corona menjadi trending topic yang selalu hangat untuk dibicarakan di mana-mana, dari warung kopi hingga sosial media. Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang massif, menghebohkan dan menciptakan kepanikan masyarakat dunia, membuat WHO menaikkan status Corona menjadi pandemi global. Bahkan, telah mewabah ke-155 negara di seluruh dunia.

Mari kita coba simulasikan! Sebuah bola kecil bernama Corona menggelinding dari atas puncak bukit. Bermula dari satu bola. Lantas menjadi berlipat-lipat ganda, membesar dan semakin membesar menembus batas-batas teritori negara bangsa. Dia terduga, namun tidak bisa diperhitungkan batas skalanya. Pokoknya sangat besar. Dia menenggelamkan semua benda yang dilewatinya.

Saat bola Corona menggelinding meluluhlantakkan segalanya, tetiba air bah datang dengan potongan-potongan kayu beragam ukuran. Suara air bah itu dahsyat menggelegar. Seperti air bah itulah, aneka isu seputar wabah Corona memenuhi beranda sosial media kita. Hoaks virus Corona berseliweran kian merajalela, dari spekulasi jahe, bawang putih, madu, kelor, cuka aren, garam, jeruk dan lain sebagainya yang bisa menyembuhkan Corona, hingga rumor konspirasi dan perdebatan teologi Jabariyah – Qodariyah versus Ahlussunnah wal Jamaah.

Hanya di negeri ini, penyakit bisa “dipelintir” hingga menjadi sebab kepanikan dan ketakutan. Perilaku defensive dan informasi simpang siur, sepotong-sepotong, tidak komprehensip dari sejumlah pejabat, tokoh agama bahkan menteri memberikan informasi yang tidak membuat kita tenang tetapi justru gagap dan panik.

Sejak kasus pertama COVID-19 diumumkan, publik pun kaget. Masyarakat belum siap menerima kehadirannya dan tiba-tiba sudah banyak yang terinfeksi positif. Korban pun mulai berjatuhan. Fenomena panic buying terjadi dengan memborong masker dan aneka kebutuhan sehari-hari di pusat-pusat perbelanjaan.

Di tengah persoalan virus yang membuat kita setengah linglung, beragam ungkapan dan istilah baru pun muncul. Lock down misalkan. Sebelumnya kata itu tak ada dalam bahasa keseharian kita. Jika diterjemahkan pun hasilnya akan aneh, “kunci ke bawah”. Sebuah istilah yang mungkin lebih dimengerti kalau diterjemahkan sebagai “karantina wilayah”, “kandang paksa” atau “pingit massal”. Intinya pembatasan ketat terhadap akses keluar masuk dan hilir mudik manusia-barang ke/dari wilayah tertentu. Persis gambaran di banyak film-film bertema zombie.

Seiring upaya seluruh sumber daya bangsa bertempur menemukan formula medis yang tepat untuk membunuh dan membasmi Corona, beragam formula kebahasaan seperti lock down, social distancing, physical distancing ,work from home, study from home, screening, self limited disease, dan sebagainya muncul mengisi entri ruang memori awam kita.

Di ranah keberagamaan, kita juga mengamati aneka terminologi teologis pun turut meningkat drastis melalui jejaring sosial berbasis jaringan internet. Terutama sekali, riwayat dan hadits-hadits tentang pandemi global, lebih spesifik lagi tentang tha’un. Riwayat tentang kisah-kisah Nabi dan para sahabat melakukan social distancing maupun physical distancing, hingga riwayat tentang model lockdown pada masa sahabat menjadi dikenal luas oleh masyarakat yang tidak pernah kuliah di jurusan Ilmu Hadits sekalipun.

Namun “ambyar”nya, peningkatan melek hadits itu tidak disertai dengan meningkatnya pemahaman intertekstual tentang istilah-istilah dalam ilmu hadits. Akibatnya, riwayat dan hadits-hadits itu menyebar begitu saja, berseliweran, dan massif seperti halnya penyebaran wabah Corona itu sendiri.

Gagal paham kerap juga terjadi pada perspektif Fiqih, saat kita keliru memahami prinsip dasar dalam syariat (yang dikenal sebagai ad-Dhoruriyyatul khoms) yaitu hifzhunnafs; prinsip menjaga keselamatan jiwa, serta kaidah fiqih “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” (menghindari kerusakan didahulukan daripada melakukan kebaikan).

Facebook Comments