SAAT saya menulis ini, adegan menjadi tahanan rumah sukarela secara masal ini sudah memasuki hari ke-enambelas. Apa kabar kalian semua? Sebagian besar dari kita sudah merasa demikian bosan tapi tetap berusaha menjaga keoptimisan, sebagian lagi frustasi dengan keadaan, sebagian kecil barangkali sudah mulai menunjukkan gejala gangguan mental.

Yang saya maksud gangguan mental misalnya adalah perasaan kuat untuk selalu mencuci tangan dalam periode waktu yang kian lama jaraknya kian memendek. Jika dulu, sebelum tragedi Covid-19 muncul, kita tak peduli apakah tangan kita sudah dicuci atau tidak bahkan saat memasukkan makanan ke dalam mulut. Maka sekarang kita mulai rajin mencuci tangan. Paling tidak di saat-saat penting, setelah bepergian, sebelum makan.

Ritme mencuci tangan ini semakin sering frekuensinya karena kita merasa tidak aman sebelum mencuci tangan. Seakan-akan seluruh kuman, virus, dan bakteri menempel di tangan kita. Belakangan mungkin bahkan kita mencuci tangan tiap sepuluh menit sekali karena jika ritual itu tidak dilakukan, kita merasa masih belum akan bisa hidup dengan tenang.

Gangguan mental lainnya mungkin adalah detak jantung yang bertambah kencang, keringat dingin keluar tanpa kita bisa cegah, dan kita merasa terhimpit, seperti berada di tempat jauh dan terpisah dari realitas. Gejala ini muncul ketika kita membaca berita (atau opini) yang kita rasa begitu mencemaskan tentang virus itu.

Padahal awalnya kita begitu tenang. Kita muda, sehat, agaknya tak punya riwayat penyakit kecuali sesekali pernah datang ke puskesmas karena luka luar akibat kena sabet pisau tumpul pas nekat berswa-foto di tengah anak sekolah tawuran atau karena gatal-gatal yang tak kunjung sembuh. Dengan kualifikasi tersebut kita merasa aman karena Covid-19 hanya berbahaya untuk para orang tua dan orang-orang dengan riwayat penyakit berat. Namun, lagi-lagi seliweran berita di media sosial yang kita akses dalam durasi yang sangat berlebihan di masa karantina ini merusak ketenangan.

Akan muncul berita tentang kasus khusus, orang-orang muda yang terpapar parah oleh virus ini, orang-orang yang tertular untuk kedua kalinya, orang-orang yang meninggal karena virus ini meski tanpa riwayat penyakit apapun. Persentasinya tak seberapa tapi mampu meruntuhkan segala keyakinan kita atas kesiapan fisik dan mental kita sendiri menghadapi virus ini. Kita membaca itu semua, kita cemas, dan kita akhirnya kalah. Berita dan opini itu mengalahkan kita.

What we don’t know, won’t hurt us, sebuah ungkapan yang sungguh kontraproduktif. Bukankah seharusnya pengetahuan kita atas sesuatu menjadi sebuah kekuatan. Ketidaktahuan sungguh menyesatkan. Tapi mengapa anjuran untuk menjauhi berbagai sumber informasi menjadi semacam panduan keselamatan dari para pakar kejiwaan bagi mereka yang mengalami gangguan psikologis seperti gangguan cemas dan serangan panik (panic attack) seperti yang saya ilustrasikan di atas?

Jawabannya ya sederhana, tidak semua informasi itu memberikan ketenangan bagi kita karena kebenaran seringkali menyakitkan.

Dalam kondisi kali ini penting bagi kita melakukan emotional distancing terhadap perkara virus ini. Kita perlu meletakkannya dalam dimensi berbeda dari keseharian kehidupan kita meski keseluruhan ritme hidup kita sekarang berjalan dalam pengaruh masif penularan virus ini di seluruh dunia. Kita perlu meletakkan rasa takut kita di belakang kepala kita, Itu sebabnya saya tidak sependapat dengan status seorang kawan di Facebook yang menolak kampanye tidak takut Covid-19 karena menurutnya itu mengingkari kenyataan bahwa tiap hari ada ribuan orang yang meninggal dan lebih banyak lagi yang tertular akibat virus ini, bahwa di negara kita virus itu semakin meluas, bahwa penderitaan orang-orang di rumah sakit gegara virus ini nyata. Rasa takut diperlukan untuk mengontrol tindakan kita. Dengan rasa takut kita akan lebih mudah mematuhi protokol social distancing.

Terkait hal ini ada dua hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini.

Pertama, ini bukan masalah pengingkaran terhadap kenyataan mengerikan tentang penularan virus ini dan ini bukan perkara kita tak (boleh) memiliki rasa takut. Ini tentang kekuatan untuk mengendalikan rasa takut itu.

Tiadanya rasa takut membuat kita ceroboh,. Merasa tidak mungkin tertular virus atau merasa baik-baik saja jika tertular virus itu lalu menjadi carrier bagi orang lain adalah sesuatu yang fatal. Sebagian masyarakat kita seperti ini. Mereka masih menjalani kehidupan normalnya seolah-olah tidak pernah mendengar tentang virus ini. Barangkali mereka pikir ini semua hanya cerita fiksi gegara negeri ini memang dipenuhi cerita-cerita fiksi sehingga mereka mungkin menganggap Covid-19 adalah cerita fiksi lainnya. Meski demikian, menghadapi orang-orang tanpa rasa takut ini juga tak bisa demikian menghakimi apalagi mencaci maki. Kita mungkin harus lebih sabar mengedukasi.

Yah, masalahnya kita lebih suka bertengkar tentang apa saja (di medsos) daripada berusaha untuk mengedukasi masyarakat yang kita anggap belum paham tentang pentingnya menjalani sejumlah protokol perlambatan penularan virus. Maka alih-alih tak memiliki rasa takut, kita memerlukan itu sekaligus mampu mengontrolnya.

Seperti apa kira-kira orang-orang yang bisa mengendalikan rasa takutnya? Saya menemukannya pada banyak teman-teman saya. Mereka melakukan semua protokol pencegahan penyebaran virus dengan sangat disiplin. Mereka melakukan social distancing dengan ketat, mereka melakukan protokol keamanan dari virus saat bepergian, dan saya yakin seandainya total lockdown dilakukan, mereka akan menjalaninya dengan penuh kekhusyukan.

Mereka melakukan semua itu sambil masih bisa melakukan hal-hal bermanfaat dan menyenangkan untuk mereka. Mereka belajar, membaca, menulis, menonton film, membuat konten apalah, memasak resep baru. Mereka juga masih bisa membuat lelucon, bergurau, tertawa, menertawakan kebodohan diri sendiri dan orang lain. Mereka produktif, dan mereka tidak terlalu melibatkan diri dalam perdebatan tak berkesudahan di media sosial tentang virus ini. Barangkali menurut mereka hal ihwal perdebatan di media sosial itu justru menurunkan imunitas. Hehe…

Dan mereka bukannya tidak memiliki rasa takut. Mereka takut, tapi seperti seorang ustadz kenalan saya pernah mengatakan, jangan seperti tidak punya Tuhan. Maksudnya, kita harus melakukan semua usaha untuk mencegah penularan atas diri, keluarga,dan lingkungan tinggal kita, tapi setelahnya ya mau bagaimana lagi? Ketakutan yang terlalu hanya akan menurunkan imunitas karena ia adalah emosi negatif yang berimplikasi pada fisik kita.

Setelah ikhtiar, ya bertawakal. Maksud sang ustadz adalah lepaskan rasa takut itu. Setelah usaha pencegahan maksimal, serahkan sisanya pada Allah. Demikian bijaknya nasihat itu.

Kedua, rasa takut adalah alat kontrol yang sangat efektif. Rasa takut adalah peranti kuasa. Coba lihat perubahan drastis pada kehidupan manusia karena ketakutannya pada virus ini? Memangkas habis kegemaran bersosialisasi, kumpul-kumpul. Seorang sahabat perempuan saya, misalnya, mengalami derita yang begitu rupa karena sudah berminggu-minggu tidak bisa nongkrong di kafe, padahal itu adalah kebebasannya.  Kita sukarela menyusahkan diri sendiri dengan mencuci tangan secara berkala, mengenakan masker ke mana-mana. Langsung mandi dan mencuci pakaian setelah bepergian adalah nestapa para pemalas. Tapi rasa takut mengontrol keinginan kita. Kita bersedia melakukan semua itu, terpaksa atau sukarela.

Kita telah membiarkan rasa takut mengontrol kebiasaan fisik kita, janganlah sampai pula ia mengontrol pikiran-pikiran positif kita: harapan, optimisme, keyakinan.  Kita perlu menjaga semua itu dari infeksi rasa takut. Oleh karena itu, jangan takut untuk berpaling dari rasa takut. Tak perlu merasa bersalah merasa ingin melucu di saat keadaan tampak menyeramkan. Bukan, bukan menganggap remeh tapi sekadar menghilangkan ketegangan akibat gelombang informasi mencemaskan yang datang silih berganti. Tak perlu juga saling menyalahkan, yang takut menyalahkan yang (kelihatan) tidak takut, yang tidak takut menertawakan yang takut, yang bimbang untuk takut atau tidak takut menyalahkan entah siapa untuk kebimbangannya.

Semua kondisi itu (takut, tidak takut, takut tapi terkontrol) sah saja adanya, hanya saja kita punya satu batasan, jangan sampai ketakutan kita, ketidaktakutan kita, ketakut-tapi-terkontrolan kita membuat kita mengancam keselamatan orang lain. Terakhir, be tough, all of us. May Allah keep us safe.

Wallahua’lam.@

Facebook Comments