SUATU hari Michelangelo sang perupa pernah membuat pengakuan kepada seseorang, “Seandainya orang tahu betapa kerasnya usaha saya dalam mencapai tingkat keahlian sekarang, apa yang saya hasilkan tidak akan tampak begitu menakjubkan.” Seseorang tadi bergeming dan menelan ludah. Selain garis keturunan, acapkali yang memerlukan pencarian adalah pencarian dalam diri; apa diri–apa mau, seiring waktu diri akan mendapatkan jati dan dengan lema tertentu orang-orang akan mengenalinya.

1/

Secara konvensional orang akan mengenali seseorang atas apa yang dia lakukan berulang-ulang, dan yang nampak terlihat jamak. Berangkat dari kebiasaan yang senantiasa dilakukan itulah diri manusia menandai dirinya. Demikian dengan eksistensi Yose S. Beal di madah kepenulisan nusantara. Sepengamatan saya yang bersangkutan mulai menulis prosa setidaknya dua dekade silam, tepatnya tahun 2001. Lelaki yang lahir pada pertengahan Mei 1962 ini mulai intens di dunia literasi sewindu terakhir, Yose seakan mendapat wangsit untuk mengenalkan budaya nusantara, suara-suara sumbar, dan beberapa kali menyadarkan pembaca agar bangga dengan sejarahnya.

Analekta cerpen ini adalah serpihan kecil bila dibandingkan novel yang sebelumnya pernah ditulis Yose S. Beal. Bila melihat fenomena prosa, khususnya cerpen yang dibukukan maka nalar umum yang tandang adalah penyatuan cerpen-cerpen yang pernah menghiasi media cetak, kolom sastra minggu. Cerpenis akan bersukacita bila cerpennya yang bersliweran dirumahpadukan dalam satu ruang kumpulan cerpen. Namun asumsi jamak ini, agaknya bagi sebagian kalangan penulis tertentu terabaikan. Mengingat nasib penjualan setiap buku tidak bergantung dari nama besar seorang penulis, tetapi dari nasib bukunya sendiri-sendiri. Saya percaya setiap karya menenteng ruhnya masing-masinh. Terlepas karya itu akan diminati pembaca, ketakutan memiliki magnet atau tidak ketika dilempar ke khalayak.

Menakar dari sebuah masalah dari produksi film pada cerpen Rembulan di Martapura menjadi nadir yang menyinyalir Alimah untuk merenung. Yose S. Beal berupaya keras menggenjot pembaca untuk merenangi kisah ini dengan pernak-pernik dari rekonstruksi–stereotif cerpen yang tak lazim. Agaknya penulis memberangkatkan triwikrama kehidupan agar memoar bisa menjadi hikmah yang layak untuk dihayati. Di sini, bagaimana seorang manusia menyebut takdir yang terpilih dari pilihan yang memilihkan menggenapi pertemuan, warisan orang tua bukan pilihan yang lantas gegas diteruskan. Ada pergulatan implisit yang dikobarkan agar sebagai manusia bisa menghayati setiap lembar peristiwa walau sekedar lalu.

2/

Lewat kumpulan cerita pendek ini, Yose S. Beal merambah tema menyusupi penguatan informatif dari pelbagai soal. Agaknya science fiction juga mendapat tempat untuk didedah, dan ini sangat melegakan. Kandungan makanan dari sumber tertentu mendapat perhatian khusus, bagaimana seseorang bisa bertahan hidup dari bayang-bayang yang menghantuinya selama ini. Kesangsian atas unsur penyedap makanan yang bisa membuat nyawa melayang diakomodir oleh hipotesa berbagai sumber. Menarik!

Enam cerita pendek yang takzim dengan bumbu beraroma masa lalu ini menghadirkan bahasa yang lugas, apa yang sebenarnya ingin dituju oleh penulisnya dengan hanya menghadirkan enam judul adalah sinyal prerogatif di luar kebiasaan kumpulan cerpen pada jamaknya. Batas yang menjadi pengetahuan lazim hanyalah ketidaktahuan, di luar konteks benar dan tidak yang akan memulangkan semuanya sebagai anggapan.

Facebook Comments