AsyikAsyik.Com – Menjadi jomblo (bakunya: jomlo) tiadalah hina. Bukan pula aib. Itu pasti. Jadi, jangan merasa sedih kalau masih belum memiliki pasangan (pacar, suami atau istri). Dan mesti diketahui juga, menjadi jomblo (kadang) bukanlah kehendak sendiri. Barangkali sudah usaha sekuat hati dan tenaga, ternyata belum dapat juga. Kan, itu artinya memang belum dikasih sama Yang Maha Kuasa—dan itu bisa berarti, kamu diminta atau dilatih untuk bersabar, atau itu demi kebaikan kamu agar fokus sekolah/kuliah, dan juga mungkin kamu memang belum siap untuk itu—misalnya, kamu dikasih pacar, eh kamu malah jadi nakal.

Jadi, bawa santai aja…

Kalaupun ada sindiran atau semacam candaan karena kamu jomblo, senyumin aja. Jangan kira, yang suka nyindir-nyindir itu (karena sudah punya pasangan) otomatis hidupnya bahagia, bisa aja sebenarnya dia itu bahagiaaaaaaa banget… Bukan. Bukan itu maksudnya. Ya, bisa aja dia itu cuma cemburu karena kamu jomblo, yang karenanya kamu masih bisa pilih-pilih calon pasanganmu. Nah, sementara dia, kan, nggak bisa lagi. Mau selingkuh, takut dosa, atau takut sama pasangan. Sudah itu, eh, ternyata dia nggak bahagia pula. Karena nggak bahagia, lalu pura-pura bahagia karena sudah punya pasangan, dan lantas nyindir-nyindir yang masih jomblo.

Percayalah, dengan menjomblo sebenarnya bisa sangat bahagia. Bisa jalan ke sana kemari, bisa lirik sana sini, tanpa ada yang ngelarang atau ngemarahi. Bebas sesuka hati. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang ngingatin mandi, makan, pulang, dll.

Hanya pada malam Minggu memang, seolah-olah ada serangan perasaan yang mendadak. Mendadak berasa sepi, mendadak merasa sendiri, mendadak merasa nggak ada yang peduli. Teman-teman yang pada hari normal bisa diajak jalan, ngobrol, dan main-main, pada malam Minggu mereka dapat jatah ngurusin pasangannya masing-masing. Bahkan yang sebenarnya nggak punya pasangan pun, ada pula yang pura-pura punya pasangan, biar nggak disangka nggak laku aja.

Tiadalah mengapa, kan itu cuma malam Minggu saja. Pada hari-hari normal biasa, perasaan semacam itu sangat jarang terjadi. Para jomblo bisa menjalani kehidupannya dengan lebih menyenangkan tanpa banyak aturan daripada seandainya memiliki pasangan. Iya kan, kalau punya pasangan, sebentar-sebentar ditanyain, “Lagi di Mana? Sama siapa? Sedang apa?”—udah kayak lagu Si Babang Tamvan Kangen Band aja. Belum lagi pertanyaan rutin lainnya semisal, “Sudah makan belum? Ntar sakit lho…” atau, “Sudah bobo, belum?”, “Jemputin ya…”, “Ajak makan, dong..”, dll—yang kadang semua itu nggak diperlukan, nggak penting, dan tidak pada waktu yang tepat.

Dan yang paling sulit dari memiliki memiliki pasangan itu adalah, menjaga perasaannya (menjaga perasaan pasangan). Wuih…, ini paling berat. Maksud kamu begitu, dia nganggapnya begini. Maksudmu begini, dia nganggapnya begitu. Serba salah. Iya sih…, tidak semua begitu. Ada juga yang lancar-lancar aja hubungannya, harmonis, serasi, dan kadang bikin iri—tapi jangan salah, kadang itu hanya permukaannya saja, penampakannya saja, dalamannya.., iya bisa juga sih memang begitu. Tapi, ada lho yang kelihatannya mesra, eh, nggak lama udah kawin aja, kalau nggak bubar sih..

Jadi bagaimana?

Bawa santai aja…

Pernah dengar kan ungkapan begini, “Lebih baik terlambat, daripada cepat tapi salah pilih pasangan.”

Nah, barangkali kamu (mblo) memang begitu. Sengaja jodohmu dilambatkan, karena sedang dipersiapkan untuk mendapat pasangan yang baik, benar, pokoknya the best, lah….

Tapi hati-hati. Jangan terlalu ditelan mentah-mentah juga ungkapan itu. Karena bisa saja jadinya begini; sudah terlambat, eh salah pula pilih pasangan. Kan, celaka duabelas.

Jadinya, kok, serba salah?

Sebenarnya bisa saja serba benar. Kamu sekarang masih ngejomblo itu barangkali memang sudah benar aja. Asalkan kamu berprasangka baik sama Tuhan. Kan Tuhan itu sesuai dengan prasangka hambanya. Nah, dengan berprasangka baik, maka baiklah apapun statusmu saat ini, baik sedang jomblo maupun sudah memiliki pasangan. Yang nggak baik itu adalah, bila hati dan pikiranmu menganggap statusmu saat ini nggak baik. Simpel, kan… Sesimpel tulisan ini. Yang berat itu, nurunin berat badan.

Okeh. Cukup.@

Facebook Comments