AsyikAsyik.Com – Akhir-akhir ini saya selalu saja melihat video ketakziman perilaku murid kepada guru di salah satu pondok pesantren di Kalimantan. Video yang berdurasi kurang dari semenit itu berseliweran di timeline akun-akun media sosial. Terlebih akun instagram yang konsisten di jalur dakwah. Bahkan sampai ke beberapa ke halaman jamaah fesbukiah. Asyik, ya. Ditambah lagi lagu latar “laukana bainana habib” (saya lupa judulnya) semakin menambah rasa haru para penonton, bapak-bapak, ibu-ibu, semuanya.

Gak cukup sampai di sana, video itu juga ramai menghiasi obrolan-obrolan di grup WA. Masing-masing anggota menanggapi dengan emot sedih, mungkin dia sedang tersentuh. Ada lagi yang komentar betapa ia sangat merindukan masa-masa di pondok. Ingin rasanya kembali ke masa menuntut ilmu.

Melihat angka tayangan dan jumlah share yang bombastis, saya bergumam dalam hati, video-video yang sejenisnya akan muncul. Mempertontonkan adab dan mulianya akhlak para santri kepada ustadz. Benar saja, tak kurang dari 2×24 jam, video Guru Zarkasyi (para santri biasa menyebut Ayah Zarkasyi) menyuapi anak muridnya viral lagi di AIGI (instagram, maksud saya) dan fesbukiah. Respect yang luar biasa salut. Eh, lo kok saya tau nama guru yang dimaksud?

Di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, kami lebih terbiasa menyebut para pengajar dengan sebutan guru ketimbang ustadz. Dan itu cukup sebagai ketakziman kami para santri kepada alim ulama di Tanah Banjar, sebagimana yang kita ketahui masyarakat (kita) lebih akrab menyebut para ulama dengan sebutan Guru Sekumpul, Guru Zuhdi, Guru Kapuh, Guru Danau, Guru Bakhiet, dan sekumlah ulama panutan lainnya.

Di pesantren, terkhusus mungkin Pondok Pesantren Darussalam yang sedang ramai di pertontonkan itu, adalah hal yang lumrah. Biasa saja. Udah jadi kebiasaan para penuntut ilmu kepada gurunya. Saya rasa pesantren yang tersebar di beberapa wilayah lain pun demikian.

Saya menjadi pondokan (sebutan para santri Darussalam) pada awal 2004 sampai akhir 2010. Ya waktu di awal-awal belum ada smartphone, gak ada kesempatan buat rekam sana rekam sini apalagi posting-memosting. halaman sekolahan yang sekarang berjejer mobil-mobil guru dulunya halaman sepeda ribuan unit termasuk sepeda guru-gurunya juga. Santri lebih banyak yang jalan kaki. Banyak hal yang sebenarnya bisa dibagikan meski tak sedikit pula yang mesti disembunyikan.

Sebagian kacamata netizen yang awam dengan dunia pesantren, video itu tentu saja menjadi hal yang luar biasa disaat tontonan mereka di Internet lebih kepada ujaran kebencian, politikal praktis mehe mehe, aplikasi yang leyeh-leyeh, ditambah lagi aksi-aksi yang tidak manusiawi.

Di Darussalam, para santri selalu memberikan jalan atau tidak lewat di hadapan ketika guru sedang lewat. Setiap pagi, syair Aqidatul Awam dibaca sebagai tanda dimulainya proses ajar mengajar. Guru membaca kitab, para murid mendabit. Sepulangnya, kami bersalaman mencium tangan bolak balik. Ada beberapa yang menyilakan murid keluar lebih dulu. Ada guru yang lebih dulu keluar ruangan, dan pada bagian ini mengasyikan, kopi dan kue yang tadinya menjadi suguhan untuk guru, menjadi rebutan kami untuk tabarruk, mengambil berkat. Saya merindukan masa-masa ini.

Begitu pun pengajian atau majelis taklim halaqoh yang digelar para guru di mushola/rumah-rumah pribadi. Ada yang memulainya dengan maulid/burdah ada pula yang langsung baca kitab. Selesai, cium tangan bolak-balik, dan rebutan sisa kopi dan makanan yang tadi di makan. Lucunya, ada guru yang paham menggigit sedikit saja kuenya, dan sedikit saja meminum air kopinya, sisanya dikasihkan untuk anak murid. Tapi ada juga kok guru yang gak ingat, kopi dan kue ludes semuanya. Mungkin saat beliau sedang lapar.

Dan, video ini ternyata berhasil membongkar lagi ingatan kami para santri untuk mengutamakan akhak dan adab di atas ilmu. Video itu berhasil, membuat para santri yang sedang asyik-asyik mengejar dunia dengan apa pun pekerjaannya. Video itu berhasil, membuat jalan yang saya pilih menjadi penulis agar tau diri dan tidak semaunya. Video itu berhasil, menahan saya untuk tidak melulu membicarakan cawapres yang sudah dipilih oleh presiden saat ini, karena di pesantren, kami ditanamkan sami’na wa atho’na sejak dini. Kami, dicekoki Akhlakul lilbanin empat jilid dari kelas 1 sampai 4 awaaliyah. Ya Rabbana, terima kasih saya kepada yang bikin dan upload video itu. Kamu juara, dek.

Akibat era digital yang merajalela, video itu pun hiperbola sampai merajai angka-angka viewer yang amazing. Saya senang, sekaligus sedih, sedih kini waktu kami yang segenerasi disibukkan oleh kewajiban mencari nafkah. Senang, jika memang video itu diapresiasi sukur-sukur menginspirasi dan bermanfaat bagi yang telah menonton. Tanpa gengsi, kami katakan, kami memang merindukan para guru-guru di Martapura.

Allahu alam bisawab. Pada ujung kitab, kami menuliskan shalawat sebagai batas pelajaran. Agar besok saat diajarkan, kami tidak gelabakan mencari jati [email protected]