MENGUSUNG cerita rakyat ke panggung teater modern tidak-lah sesederhana membalik halaman buku. Melainkan seperti menyeberangi sungai dengan arus yang tak bisa diduga; kadang deras, kadang tenang, tapi selalu menguji keseimbangan. Begitupun ketika seorang pekalu pencipta seni (homokreator) mencoba menulis atau menggarap teater yang bersumber dari kisah cerita Si Palui, tokoh cerita rakyat milik masyarakat Banjar yang ditulis oleh Yustan Azidin (Alm). Di sana ada tantangan yang lebih dari sekadar menafsirkan cerita. Ada tanggung jawab untuk menghidupkan kembali denyut kehidupan yang pernah hidup di antara tawa masyarakat kampung, dan menjadikannya relevan bagi manusia hari ini; seperti halnya tema kekaryaan dalam festival “Teater Si Palui” ke 8 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (Sanggar Seni Titian Barantai) UNISKA, dan akan dilaksankan pada akhir bulan November 2025.
Proses penciptaan teater “ Si Palui” dalam bentuk garapan modern mestilah melalui perjalanan yang panjang dan berlapis. Kerja seorang homokreator akan dimulai jauh sebelum naskah ditulis, bahkan sebelum panggung dipikirkan. Proses ini akan berawal dari satu hal yang sederhana sebagai langkah pertama: rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang mendorong seorang homokreator untuk menggali lebih dalam, mencari tahu siapa Si Palui sebenarnya, darimana Si Palui itu “datang”, apa yang membuatnya begitu melekat dalam memori kolektif masyarakat Banjar, dan mengapa kisahnya masih terasa hidup di tengah kehidupan yang semakin modern ini.
Langkah pertama yang musti ditempuh tentu adalah riset. Dalam dunia teater, riset bukan sekadar tahap administratif untuk memperkaya referensi, melainkan napas pertama dari keseluruhan proses kreatif. Melalui riset, kreator mencoba memahami konteks sosial dan budaya tempat cerita itu lahir hingga cerita itu tumbuh berkembang. Dalam kasus penciptaan teater Si Palui, riset berarti menyelami dunia tek yang sudah ditulis sang ”empunya”, menyelami dunia masyarakat Banjar, mengenal bahasa mereka, menafsirkan cara mereka tertawa, menangkap cara mereka menertawakan diri sendiri, dan membaca bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan, alam, serta kehidupan sehari-hari (budaya) masyarakat pemiliknya. Riset semacam ini sering kali membawa pencipta pada ruang-ruang yang tidak diduga: obrolan santai di warung kopi, kisah para orang tua di tepi sungai, atau potongan humor yang ternyata menyimpan kearifan hidup yang dalam. Dari sanalah dunia Si Palui mulai akan terkuak, bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai realitas sosial yang bisa dihirup dan dirasakan.
Setelah memahami akar budayanya, proses berikutnya adalah membaca teks sumber secara lebih mendalam. Membaca di sini bukan hanya mengurai cerita, tetapi mencari roh yang bersembunyi di balik kata-kata. Yustan Azidin (Alm) tidak menulis Si Palui hanya untuk membuat orang tertawa. Melainkan di balik keluguan tokohnya, ada percakapan panjang antara rakyat kecil dan nasibnya, antara kebenaran dan kelicikan, antara doa dan kelakar. Ketika seorang seniman teater membaca teks semacam ini, ia tidak sekadar menemukan bahan cerita, tetapi menemukan wajah-wajah manusia di dalamnya; manusia yang jujur, rapuh, lucu, tapi juga sangat bijaksana. Inilah tahap di mana riset beralih menjadi kesadaran.
Dari hasil riset dan pembacaan ini, kreator akan memulai merumuskan arah garapannya: untuk apa pertunjukan ini dibuat? Pertanyaan ini sederhana memang, tapi jawabannya bisa menentukan seluruh bentuk karya. Teater modern bukan hanya memanggungkan kisah lama, tetapi mengajukan pertanyaan baru atas kisah itu. Maka, penting untuk membaca konteks zaman di mana pertunjukan itu akan tampil menyatu dengan kehidupan masyarakatnya dan membumi. Apa yang sedang terjadi di masyarakat? Apa yang sedang diperbincangkan? Apa yang membuat sumber kegelisahan hidup dalam kehidupan masyarakat? Bagaimana kondisi sosial, politik, dan budaya saat ini dapat memberi makna baru bagi kisah Palui? “teater bukan sebatas nostalgia”.
Bisa jadi Si Palui hadir sebagai cermin untuk menertawakan realitas sosial hari ini. Bisa juga sebagai peringatan lembut tentang kehilangan nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran di tengah dunia yang serba cepat dan bising.
Dalam proses ini, seorang kreator mesti peka pada peristiwa dan momentum: apakah karya ini dipentaskan dalam festival budaya lokal, forum teater nasional, atau program edukasi? Tema besar dari penyelenggaraan event sering kali memengaruhi cara pandang kreator dalam menafsirkan ulang cerita. Teater, pada akhirnya, bukan hanya pertunjukan artistik, tetapi juga bagian dari percakapan sosial yang lebih luas dengan penuh makna.
Tahapan berikutnya adalah mengenali idiom-idiom daerah dan bahasa yang menjadi jiwa dari cerita. Dalam kisah Si Palui, bahasa Banjar bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah sistem nilai, cara berpikir, sekaligus cara berhubungan dengan orang lain. Bahasa ini penuh dengan kelakar, sindiran halus, dan permainan makna yang khas. Membawa bahasa Banjar ke teater modern berarti membawa seluruh dunia yang ada di dalamnya; intonasi, ritme, gestur, bahkan logika sosial yang mengiringinya. Di sinilah peran riset tubuh dan ruang menjadi penting. Aktor bukan hanya membaca teks, tetapi juga menghidupkan ritme dan rasa yang terkandung dalam kebiasaan orang Banjar: cara berjalan yang tenang, tawa yang tak pernah benar-benar meledak, tatapan yang lebih sering menyiratkan daripada menyatakan. Semuanya adalah bagian dari karakter yang membentuk dunia Palui di atas panggung.
Setelah bahasa dan idiom ditemukan, barulah bentuk pertunjukan mulai dirancang. Di tahap ini, imajinasi dan pemahaman intelektual mulai berpadu. Teater “ Si Palui” bisa digarap dengan gaya realis yang menampilkan kehidupan rakyat sehari-hari secara jujur dan apa adanya atau juga bisa diarahkan ke gaya epik yang menonjolkan narasi dan jarak dramatik, sehingga penonton bisa berpikir sambil menonton. Atau bahkan bisa diolah dalam bentuk absurd, menampilkan kehidupan yang berputar di antara tawa dan kebingungan, seperti dunia kita sendiri yang sering tak masuk akal tapi terus berjalan. Ada banyak konvensi dalam teater berdasar gaya/ gendrenya; dan itu menjadi kunci dasar untuk dipahami oleh seorang kreator, agar tidak salah jalan untuk menuju pada akhirnya.
Proses ini juga melibatkan kerja kolaboratif antarbidang: sutradara, penulis naskah, aktor, perancang panggung, tata musik, tata cahaya, hingga penata kostum. Semua unsur ini menyatu membentuk tekstur pertunjukan. Musik, misalnya, bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas: irama panting, petikan gambus, atau bunyi dayung jukung bisa digabung dengan bunyi-bunyian kontemporer untuk menciptakan suasana yang baru tapi tetap berakar. Tata panggung bisa menampilkan ruang-ruang khas Banjar; serambi rumah kayu, perahu di tepian sungai, atau warung kopi tempat tawa dan berita bersilang. Sementara cahaya dan gerak tubuh bisa menuntun penonton masuk ke dalam perasaan yang kadang lucu, kadang getir, kadang ironis, kadang konyol, kadang penuh doa. Semua dari kerumitan artistik itu pada akhirnya akan kembali pada satu hal: kesadaran. Penciptaan teater “Si Palui” bukan hanya upaya menghidupkan karya lama, tapi juga bagaimana bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengenali diri dan masyarakat kita sendiri. Dalam proses panjangnya, seniman belajar bahwa riset bukan hanya tentang mengumpulkan data, melainkan tentang mendengarkan kehidupan. Seorang homo kreator mestilah menyadari, bahwa dirinya belajar bahwa menulis naskah bukan hanya menata dialog, tapi menata ulang hubungan antara manusia, sejarah, dan nilai-nilai yang mulai terlupakan.
Proses seperti ini memang melelahkan, tapi justru di situlah letak keindahannya. Sebab dalam dunia teater, setiap langkah pencarian adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Riset menjadi adegan pertama. Latihan menjadi monolog panjang tentang kesetiaan pada proses. Dan pementasan hanyalah klimaks dari perjalanan menuju pemahaman baru tentang kehidupan.
Yustan Azidin (Alm) menulis Si Palui dengan kesederhanaan yang jujur. Ia tahu bahwa tawa bisa lebih tajam dari kritik, dan keluguan kadang lebih berani dari keberanian itu sendiri. Maka ketika teater modern mencoba mengangkat Si Palui ke panggung, seharusnya ia tidak kehilangan kesederhanaan itu. Justru di tengah gemerlap teknologi dan bentuk artistik yang rumit, teater ini harus kembali kepada sumbernya: manusia. Manusia Banjar yang tertawa sambil berpikir, yang bersyukur sambil mengeluh, yang terus hidup meski hidup tidak selalu mudah.
Mungkin di situlah esensi dari seluruh proses penciptaan teater “Si Palui”. Ia bukan sekadar upaya artistik untuk memanggungkan cerita rakyat, melainkan perjalanan untuk memahami kehidupan yang sesungguhnya; hidup yang jujur, apa adanya, dan selalu mencari keseimbangan antara kesedihan dan tawa. Dalam perjalanan itu, kita akhirnya mengerti bahwa seni teater tidak pernah hanya tentang pentas, tapi tentang perjalanan batin yang membuat kita sedikit lebih me-manusia dari sebelumnya. Teater bukan barang murahan, bukan kitek. Teater mesti menuju pada harapannya, seperti buah pikiran yang di cetuskan oleh Ki Hadjar Dewantora; taater/ sandiwara; harus hadir sebagai ruang tontonan, tuntunan, dan tatanan dalam kehidupan masyarakatnya.@





























