ASAP tipis mengepul dari cangkir kertas di tangan pelanggan yang berdiri di tepi Jalan Rambai, Loktabat Utara, Kota Banjarbaru. Di balik meja kayu kecil dan espresso maker yang sederhana, Mansyur (21), warga Antasan Senor, Kabupaten Banjar menakar kopi dan susu dengan gerak cepat. Di depan meja barnya, deretan kursi sederhana menampung obrolan ringan anak-anak muda yang datang menjelang sore menuju malam.

Cofbuls berdiri pada Desember 2022, di masa ketika kedai kopi mulai menjamur. Mansyur memulai usahanya dari konsep street coffee, model jualan beroda yang bisa berpindah tempat. Bagi lulusan sekolah yang ingin mandiri tanpa modal besar, cara ini terasa paling masuk akal. “Saat itu, aku masih pelajar. Mencoba street coffee adalah hal menarik dan mudah dilakukan,” ujarnya.

Ia tidak menyebut dirinya barista. Baginya, barista adalah profesi yang bekerja di kafe besar dengan sertifikasi dan standar tertentu. Sedangkan dirinya lebih memilih istilah “penjual kopi” yaitu orang yang menyeduh dan melayani pelanggan tanpa sekat. “Aku ingin interaksi dengan pelanggan, lebih nyaman jika dilabeli penjual kopi saja.”

Namun dari kedekatan itulah muncul keunikan. Di Cofbuls, pelanggan bukan sekadar pembeli. Obrolan di sela seduhan sering kali berubah jadi ruang berbagi cerita. “Ada pelanggan yang bilang bahwa Cofbuls ini seperti jasa psikolog, ruang bercerita,” tambahnya.

Kedai Cofbuls, tak sekadar tempat ngopi, tapi juga ruang interaksi. (foto: kingking/asyikasyik.com)

Budaya ngopi, kata Mansyur, kini tumbuh cepat di kalangan anak muda Banjarbaru. Kopi menjadi simbol energi, sekaligus pelarian dari rutinitas yang penat. “Anak muda perlu dorongan energi untuk aktivitas. Aku sendiri rutin konsumsi americano sekali dalam sehari.”

Dalam sehari, Cofbuls bisa menjual sekitar 50 cangkir kopi, kebanyakan kepada pelanggan muda. Menu andalan mereka adalah kopi susu original, hasil racikan sendiri yang diuji langsung ke pelanggan. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa rasa kopi bukan hanya soal resep, tapi juga soal komunikasi. “Aku bolak-balik mengulik resep, dan selalu mengandalkan pelanggan agar tahu apa sih yang diinginkan oleh konsumen. Interaksi dan komunikasi adalah bagian dari strategi bertahan,” ia menjelaskan.

Namun perjalanan usaha tak selalu mulus. Hujan menjadi tantangan rutin bagi kedai tanpa kanopi. Persaingan pun semakin ketat, terutama saat muncul kedai baru yang viral di media sosial. “Tantangannya aku rasa sama, dari street coffee sampai sekarang, hujan selalu jadi penghalang berjualan. Kami juga harus bermain di media sosial untuk menjangkau perhatian publik,” tutup pemuda itu.

Baginya, niat dan keberanian menjadi fondasi utama. Dari sekadar peluang usaha, perlahan kopi menjadi bagian hidup. Ia yakin, selagi ada pelanggan yang datang untuk berbagi cerita, Cofbuls akan tetap bertahan di tengah perubahan selera.

Kopi Tjap Abah

Suasana di Kopi Tajp Abah, Pasar Bauntung, Banjarbaru, (11/11/2025). (foto: kingking/asyikasyik.com)

Di tempat lain, sekitar empat kilometer dari sana, keramaian Pasar Bauntung menyajikan pemandangan yang berbeda. Suara pedagang sayur, tukang parkir, dan penjual ikan berpadu dengan wangi biji kopi yang baru digiling dari sudut pasar. Di situlah Shofwan (31) membuka kedai kopi Tjap Abah, yang kini dikenal sebagai satu-satunya kedai di pasar yang menjual biji kopi giling langsung di depan pelanggan.

Shofwan berasal dari keluarga penjual kopi asal Makassar. Tradisi itu dimulai sejak tahun 1997. Ketika anak keduanya lahir, ia mulai melihat potensi pasar kopi di Banjarbaru. Sebelumnya, ia sempat meninjau Pasar Batuah Martapura dan Pasar Lima Banjarmasin, bahkan sempat mempertimbangkan Batulicin. Namun, menurutnya, Banjarbaru terasa lebih cocok. “Waktu itu aku sudah mengontrak rumah di Batulicin, namun terasa perbedaan mencolok seperti harga bahan pangan cukup tinggi, suasana kota yang tidak seramai Banjarbaru,” jelasnya.

Dari awal, Tjap Abah memang dibangun dengan orientasi pasar yang jelas: menjangkau peminum kopi, bukan pecinta kopi yang sibuk dengan teori rasa. Ia berpendapat bahwa kopi kini terkesan mewah, padahal seharusnya bisa dinikmati siapa saja. “Semua orang berhak ngopi. Terlebih, pasar adalah pusat sendi-sendi kehidupan nyata. Pasar harus disasar,” tegasnya lagi.

Kedainya beroperasi mengikuti jam pasar, dimulai sejak pagi hingga sore menjelang. Awalnya, ia hanya menjual biji kopi giling, namun lama-kelamaan ia menyadari bahwa kopi giling akan diketahui rasanya jika diolah. Pelanggannya beragam, dari pedagang pasar, ibu rumah tangga, hingga anak muda yang penasaran dengan proses penggilingan langsung di depan mata. “Pelanggan tidak akan tahu rasa kopi jika tidak diolah, maka aku memutuskan untuk sekalian menjual olahan kopi. Dan, ternyata ramai.”

Bahan baku didatangkan langsung dari Makassar, sekitar 30 kilogram per pengiriman. Ia mengandalkan robusta Lampung, robusta Toraja, dan arabika Toraja.

Kini, dalam sehari, penjualan bisa mencapai 30 hingga 100 cangkir tergantung kondisi pasar. Meski begitu, Shofwan menyebut tantangan terbesar justru ada pada biaya ekspedisi pengiriman bahan baku antara kecepatan dan ongkos kirim yang begitu dinamis. “Ya, kalau ingin cepat maka biaya lebih mahal. Bisa murah, namun akan memakan waktu, sedang kedai harus tetap berjualan seperti biasa,” jelasnya.

Tjap Abah awalnya didesain untuk sang ayah mertua yang ingin berjualan karena terasa dekat dengan situasi pasar, namun kenyataannya pengunjung yang datang banyak dari kalangan muda. Visi kedai ini sederhana: menjangkau siapa pun yang ingin ngopi tanpa perlu merasa “kurang layak” datang ke kedai. “Semua kalangan akan senang hati diterima. Debt collector, buruh pasar, anak muda, bahkan jatanras (unit kepolisian yang bertugas menangani kejatahan dan kekerasan) sekalipun,” ucapnya diselingi tawa.

Shofwan kini dibantu beberapa karyawan muda, salah satunya bernama Adit (21). Ia mengaku tertarik bekerja di kedai karena suasananya santai, bisa belajar, dan menambah teman baru. “Asyik aja, teman-teman jadi nongkrong di sini. Bisa sambil ngobrol, mengurangi cape kerja dan tentunya menambah relasi,” ujar Adit.

Shofwan mengatakan, ia ingin tetap menjaga karakter pasar yang egaliter dan cair. Ia bahkan pernah bercanda, bahwa mempekerjakan barista perempuan di pasar bisa jadi repot karena pelanggan kebanyakan bapak-bapak. “Ada keinginan mempekerjakan barista perempuan yang biasanya pakai crop top, celana baggy, ada tato kecilnya, namun sekali lagi, takut bapak-bapak ini nanti dimarahi istri.”

Meski baru berjalan setahun, ia melihat tren kopi di Banjarbaru berkembang pesat. Banyak anak muda yang terjun ke industri ini karena dianggap fleksibel dan tidak menuntut tenaga fisik berat. Namun menurutnya, hanya usaha yang punya autentisitas yang mampu bertahan. “Skena kopi Banjarbaru banyak peluang dan seru. Tinggal bagaimana kita mampu membuat autentisitas, itu adalah hal yang akan sangat membantu,” tutup pria berambut gondrong itu.

Baik Cofbuls di pinggir jalan maupun Tjap Abah di tengah pasar, keduanya merepresentasikan wajah baru dunia usaha anak muda Banjarbaru. Mereka datang dari latar berbeda, tapi sama-sama memandang kopi bukan sekadar komoditas, melainkan ruang untuk berinteraksi dan bertahan. Pemerintah Kota Banjarbaru, pada tahun 2022 menyebutkan ada sekitar tiga ratus lebih coffee shop tumbuh dan berkembang di kota ini.

Fenomena ini juga menandai perubahan cara pandang terhadap pekerjaan. Bagi sebagian anak muda, berjualan kopi bukan sekadar ikut tren, melainkan bentuk kemandirian di tengah ekonomi yang dinamis. Tanpa perlu kedai mewah atau sertifikasi profesional, mereka membangun usaha dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kopi di Banjarbaru kini melampaui fungsinya sebagai minuman penahan kantuk. Ia menjadi simbol kreativitas anak muda yang ingin bekerja tanpa meninggalkan makna sosial di sekitarnya.@