UNTUK pertama kalinya berpameran tunggal di banua sendiri, pelukis Misbach Tamrin seakan membilas kerinduan sepanjang perjalanan kesenimannya lebih 60 tahun dalam dunia seni rupa . Dendam rindu itu diwujudkan dalam Pameran Tunggal “Rindang Banua” yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel, di Gedung Wargasari, Taman Budaya, di Banjarmasin.

Pada pembukaan pameran, Minggu (23/11/2025), Misbach yang akrab dengan topi pet menyampaikan perasaan kerinduannya dan keharuan karena pada akhirnya bisa berpameran tunggal di banua sendiri.

“Saya sudah banyak berpameran bersama di Yogyakarta dan Jakarta. Pameran tunggal pertama saya  digelar di Galeri Nasional pada 2015. Dan baru sekarang saya bisa berpameran tunggal di banua, tanah kelahiran, setelah 60 tahun perjalanan saya dalam seni rupa,” ucap Misbach, yang mengenakan stelan jas warna abu-abu.

Berbeda dengan sejumlah karyanya yang sering dipamerkan, termasuk ketika pameran tunggal di Galnas sepuluh tahun lalu yang banyak menampilkan tema-tema realisme revolusioner—yang juga menjadi gaya dan bermuatan ideologis, pada pameran “Rindang Banua” karya-karya Misbach terasa lebih teduh, rindang, dan menghadirkan suasana banua Banjar yang melipur kerinduan.

Pasar Terapung, salah satu karya Misbach Tamrin yang dipamerkan. Tampak pelukis Nanang M Yus membincangkannya dengan seorang teman. (foto: asyikasyik.com)

Ada banyak lukisan Misbach yang menampilkan kehidupan sungai yang memang akrab dengan masyarakat Banjar, seperti Pasar Terapung, siring, serta kehidupan masyarakat di tepi sungai atau pantai. Seperti terlihat pada lukisan berjudul Pasar Terapung, Pasar Subuh, Pantai Takisung, dan Sungai Barito.

Pada lukisan Pasar Terapung yang berukuran cukup besar (180 cm x 110 cm), terlihat jukung-jukung dan kelotok memenuhi sungai di bawah cahaya matahari pagi yang kekuningan, lembut. Lukisan berlini masa 2007 ini tidak terlihat gaya garis vertikal gelap terang yang telah diketahui sebagai ciri khas lukisan Misbach. Menurut pengakuan Misbach, bentuk garis-garis vertikal memang baru “ditemukannya” sekitar tahun 2010-an.

Jadi, pada pameran yang akan berlangsung hingga 2 Desember 2025 ini banyak ditemukan lukisan Misbach yang tanpa garis bayangan terang dan gelap.

Suasana pameran di ruang Gedung Wargasari, Taman Budaya Prov Kalsel, Banjarmasin. (foto: asyikasyik.com)

Yang menarik pula, ada beberapa lukisan Misbach yang cukup lama, misalnya lukisan berjudul Perempuan Nusantara. Lukisan yang dibuat pada tahun 1977 berbentuk horizontal (138 cm x 45 cm) ini menampilkan deretan perempuan dengan pakaian adat yang mencerminkan latar budaya nusantara. Lukisan yang diselesaikan menjelang keluar dari penjara Orba ini terkesan smood, halus, lembut, sekaligus molek (mooi-indie) dengan komposisi jukstaposisi bersisian hingga seakan membentuk relief yang lebih modern.

Namun, secara keseluruhan, lukisan-lukisan Misbach yang dipamerkan kali ini, sekitar 24 lukisan, seakan mengayuh ingatan dan kenangan—baik bagi pelukisnya sendiri, maupun penikmatnya, akan nuansa banua Banjar yang akrab dengan keindahan alam, terutama kehidupan sungainya.

Hajriansyah, Misbach Tamrin, dan Dio Pamola, saat diwawancarai wartawan di ruang pameran. (foto: asyikasyik.com)

Kurator pameran, Hajriansyah mengatakan, pameran ini layaknya arus yang mengantar pulang sungai kembali ke hulu. Misbach terus berkarya seperti aliran dari hulu menuju muara, laut yang penuh gelombang, menerjang badai dari semangat zaman yang niscaya penuh tantangan.

“Barangkali bagi Misbach, seperti yang dilukisnya dari Lelaki Tua dan Laut mengadaptasi karya Ernest Hemingway, semua itulah keniscayaan hidup yang pantang menyerah hingga pulang dengan kebanggaan seseorang yang telah membuktikan cinta baktinya pada laut, tanah airnya, yang menghidupi. Ia menjadi teladan bagi generasi sesudahnya,” kata Hajri, yang juga menulis beberapa buku tentang Misbach, seperti Realisme Revolusioner.

Ayu Dita, penulis pameran mencatat, setiap karya Misbach dalam pameran ini terasa seperti ranting yang tumbuh dari akar panjang sejarah: dari tanah kelahiran di Amuntai, dari sungai-sungai yang membelah Martapura dan Barito, dari semangat Haram Manyarah Waja Sampai ka Puting yang terus hidup di hati orang Banjar. “Misbach Tamrin menanam rindunya pada tanah ini melalui sapuan kuas dan kami, generasi penerus, menumbuhkan rindang dari rindunya itu,” katanya.

Pembukaan pameran tak saja dihadiri seniman pelukis Kalsel, tetapi juga dihadiri pelukis Yulizar dari Yogyakarya. Dan dilucurkan pula buku Menjelang Nyala, Mendorong Batu Besar berisi Kumpulan catatan Misbach Tamrin di media sosial. Tampil sebagai pembicara, Hajriansyah dan Dio Pamola, Dewan Kurator Nasional dari Kementerian Kebudayaan. Malamnya, diputar film Kulimanasi, tentang  perjalanan seorang Misbach dari masa penangkapan masa Orba hingga keberadaannya kini sebagai seorang maestro seni rupa Indonesia.(red)