Santai aja, jangan terlalu serius dengan judul tulisan ini. Mumpung ini Hari Kemerdekaan negara kita, Republik Indonesia, kayaknya perlu juga kita mengetahui sedikit bagaimana sejarah bentuk lomba-lomba memeriahkan Tujuhbelasan; macam balap karung, makan kerupuk, masukin pensil dalam botol, sepakbola pria berpakaian wanita, tarik tambang, sampai panjat pinang.

Dan jika diranking nih, panjat pinang sudah tentu menjadi permainan yang tak pernah ketinggalan—ibarat kata, kalau nggak ada panjat pinang, nggak asyik. Belum afdol. Ini jenis hiburan yang paling banyak ditunggu. Bahkan, orang mau menghentikan kendaraannya di pinggir jalan bila kebetulan melihat lomba ini.

Jelas, panjat pinang sudah identik dengan Tujuhbelasan. Ini jenis hiburan yang kayaknya hanya ada pas Hari Kemerdekaan. Hiburan yang dramatis, walau tak sampai menguras airmata.

Tapi, tahu tidak (saya juga baru tahu nih), bagaimana asal mula atawa sejarah (berasa  jadi serius) perlombaan panjat pinang ini? Sudah tahu? Belum tentu. Mari kita lanjutkan dulu, santai aja, ibarat pepatah (baru saya ciptakan sekarang); “Takkan lari hadiah dipanjat, takkan dapat bila tak dipinang.”

Itu apa maksudnya? Nyindir ya?

Piss… Jangan mudah kesinggung, kayak pendukung garis keras capres aja. Mari kita lanjutkan soal asal (nggak ngasal) usul perlombaan panjat pinang tadi.

Begini, panjat pinang yang biasanya semacam puncak dari segala hiburan Tujuhbelasan ini ternyata disebutkan sebagai warisan dari negara penjajah, Belanda. Ya, Belanda—yang tim sepakbolanya nggak bisa ikut Piala Dunia kemarin itu. Kaget? Jangan dulu. Soalnya masih ada yang bakal bikin kamu mikir; mengapa kok bisa-bisanya kita melestarikan perlombaan ini. Kenapa panjat pinang? Kenapa nggak manjat genteng aja, sekalian baikin yang bocor mumpung mau musim hujan, misalnya..

Alkisah, panjat pinang awalnya bukanlah lomba dan kegembiraan menyambut serta merayakan Agustusan. Melainkan untuk merayakan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina—satu-satunya kesamaan hanyalah karena si Ratu Belanda ini lahir di bulan Agustus.

Ratu Belanda ini memiliki nama panjang Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau; lahir 31 Agustus 1880 dan meninggal 28 November 1962 pada umur 82 tahun. Putri tunggal cantik—rata-rata putri memang cantik ya…, dari Raja Willem III ini memimpin Belanda selama lebih dari 50 tahun, atau lebih lama daripada penguasa monarki kerajaan Belanda lainnya.

Nah, setiap tanggal 31 Agustus, hari ulang tahun si Ratu ini mesti dirayakan. Namanya juga Ratu, maka pesta atau perayaan pun harus digelar tidak hanya oleh keluarga, melainkan di seluruh dunia di mana saja terdapat koloni-koloni Belanda. Tak terkecuali di Indonesia, yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda.

Pesta, hiburan, dan berbagai kemeriahan pun digelar untuk menyambut hari kelahiran sang Ratu Wilhelmina. Salah satunya, untuk di tanah air kita yang masih dalam jajahan, digelar hiburan bagi orang-orang belanda dengan diadakan lomba “panjat pinang”.

Mengapa pohon pinang? Nggak pohon pisang?

Mikirrr… Kalau manjat pohon pisang berasa kayak apa gitu. Lagi pula mana ada pohon pisang yang tinggi dan kokoh kayak pohon pinang yang bisa mencapai 20 meter lebih.

Begitulah, lomba panjat pinang ini akhirnya menjadi hiburan bagi orang Belanda untuk merayakan hari lahir ratunya. Termasuk bila mereka sedang mengadakan hajatan besar seperti pernikahan. Entah, kenapa orang Walanda ini suka sekali lihat orang manjat pinang.

Peserta lomba panjat pinang ini sudah tentu kaum  pribumi. Ya, siapa lagi… Dan seperti kita yang sering tertawa-tawa, senang, dan lucu, melihat bagaimana kegigihan para peserta ini— yang sering melincir lantaran pohon tinggi kurus itu licin diolesi pelumas, begitu pulalah kiranya orang-orang Belanda dulu bergembira dan merasa terhibur melihat “penderitaan” orang-orang pribumi yang penuh perjuangan, bahu membahu, untuk mencapai “kemerdekaan” di puncak yang penuh dengan hadiah itu.

Itulah barangkali, karena setiap bulan Agustus selalu diadakan panjat pinang sebagai hiburan memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina, lalu keterusan hingga negeri kita merdeka yang kebetulan juga bulan Agustus.

Hanya saja sekarang kita mengaitkan lomba panjat pinang ini dengan makna; semangat pantang menyerah. Ya, tidak ada yang salah. Kadang, dari musuh pun kita bisa mengambil pelajaran.

Ada juga sih yang menyebutkan kalau permainan panjat pinang ini berasal dari kebudayaan Festival Bulan Hantu dari masyarakat keturunan Cina. Namun riwayatnya lemah. Kalau kamu pernah nonton film Upin Ipin seri ketika Mey Mey ngajak nonton Festival Bulan Hantu, tidak ada tuh panjat pinang. Jadi kemungkinannya, kalaupun pernah ada panjat pinang saat Festival Bulan Hantu, itu karena kebetulan Chinese Ghost Month seringkali bertepatan di bulan Agustus, bulan kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina, dan juga bulannya kemerdekaan negara kita.

Demikian.

DIRGAHAYU KE-73 REPUBLIK INDONESIA

[email protected]

 

Facebook Comments