AMBIN Demokrasi, sebuah forum diskusi di Banjarmasin belakangan kerap menggelar diskusi. Tak lain untuk menyambut tahun di hadapan, 2024, yang akan menjadi tahun politik.

Rabu (17/5/2023), Ambin Demokrasi kembali menggelar diskusi di Rumah Alam, Banjarmasin, dengan dihadiri sejumlah dosen, tokoh, pengamat, dan dipandu oleh Patrhurrahman Kurnain, dosen Fisip ULM.

Noorhalis Majid memulai prolognya dengan mengatakan bahwa forum Ambin Demokrasi diadakan agar narasi-narasi seputar Pemilu, dapat mencerdaskan pemilih. Minimal ada yang menyuarakan hal-hal substansial tentang demokrasi, sehingga kualitas demokrasi berjalan semakin baik.

“Sebab, di media sosial perang narasi sangat kuat sekali, bahkan sudah kasar, namun tidak mencerdaskan. Hanya melahirkan budaya komentar, di mana semua orang tiba-tiba menjadi komentator, tanpa jelas keilmuannya. Selain itu, semua orang hanya menonjolkan calonnya, bukan gagasannya,” ujarnya.

Muhammad Effendy, dosen Tata Negara Fakultas Hukum ULM, mengatakan bahwa, secara umum narasi dalam Pemilu bertujuan agar orang bisa tampil ke hadapan publik. Bagi seorang calon, narasi menjadi visi dan misi. Semestinya, narasi dalam rangka menjelaskan apa yang menjadi visi dan misinya ketika menjadi calon legislatif. Bagi Tim Pendukung atau Tim Pemenangan, narasi bertujuan untuk memperkuat calon yang didukungnya.

“Narasi menjadi sangat penting, sebab melalui narasi yang disampaikanlah, lahir penilaian masyarakat atas calon. Faktanya dalam Pemilu kita, nilai atau bobot narasi sangatlah kurang, bahkan miskin narasi, sehingga semua sepertinya sama saja,” paparnya.

Menurutnya, sering kali yang dilihat adalah siapa yang mengucapkan narasi, bukan isi narasi yang disampaikan. “Seharusnya, yang dinilai adalah isi narasinya, baru kemudian figurnya,” cetusnya.

Caleg-caleg kita, lanjut Effendy, kebanyakan tidak kuat dalam menyampaikan narasi. Yang disampaikan lebih banyak jargon-jargon politik. Padahal, ujarnya, hanya narasi yang baik, yang dapat menggaet hati pemilih.
Narasi seputar Habaib, sebagai simbol dari agama, lebih kuat dari pada Gusti sebagai simbol kebangsawanan. Namun, sayangnya Habib masih di bawah money politik. Jadi apakah Habaib atau Gusti, bila ada money politik maka keduanya juga akan kalah.

Kenapa Habaib sangat kuat, kata Effendy, sebab jaringan dan solidaritas Habaib mendukungnya, sekalipun visi misinya tidak terlalu jelas.

“Dalam Pemilu, mestinya yang ditonjolkan bukan simbol atau gelar seperti Habaib atau Gusti, tapi yang paling penting adalah visi dan misi yang akan diperjuangkan oleh sang calon,” tegasnya.

Sementara itu Sukrowardi, anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Partai Golkar, menyampaikan bahwa saat ini masyarakat sangat cuek terhadap tahapan Pemilu, padahal tahapan tersebut bagi calon sangat krusial. Semua calon disibukkan oleh berbagai persyaratan dan dibatasi oleh limit waktu yang tidak panjang. Mestinya, katanya, masyarakat juga ikut memantau terkait persyaratan, sebab nyatanya banyak calon yang sebenarnya tidak memenuhi syarat namun lolos menjadi calon.

Terkait narasi, menurut Sukro, caleg tidak mempedulikannya, bahkan empat kali jadi anggota dewan, tidak jelas narasinya, apa yang sudah diperjuangkan. Regulasi seperti apa yang sudah dihasilkan?

Yang diincar oleh seorang valon, sebutnya, hanya penguasaan resources, bila terpilih nanti, di tingkat kabupaten atau kota minimal sebulan mendapatkan 40 hingga 60 juta. Jadi tidak terbayangkan akan melakukan apa, memperjuangkan soal apa, namun apa nanti yang akan didapatkan.

“Saya sangat pesimis ada yang memikirkan soal pembangunan dan segala hal yang memajukan daerah. Di Kota Banjarmasin misal, dari anggaran 2 triliun, 80% habis untuk belanja pegawai, dan sisanya juga masih berpeluang disimpangkan,” cetusnya.

Haris Makkie, mantan birokrat yang sekarang bergabung pada Partai Bulan Bintang, mengatakan bahwa di negara-negara lain, narasi jauh lebih penting dari apapun, termasuk calon. Bahkan tidak ada pembicaraan soal money politik, mungkin yang ada hanya ongkos politik. Sebab, mustahil menghindari ongkos dalam politik, sebab pasti ada aktivitas yang membutuhkan dana.

“Di tempat kita, selain ongkos politik, juga ada money politik. Sebab kuat ungkapan ‘datang liur, bulik liur jua’, datang sekadar omong saja, maka pulang juga omong, bukan melahirkan dukungan,” ucapnya.

Lalu, siapa yang harus mencerdaskan pemilu? Mestinya yang mencerdaskan adalah partai politik. Sementara yang terjadi, jangankan soal mencerdaskan pemilih, mekanisme perekrutan caleg saja tidak jelas.

Sekarang ini, katanya, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mendorong Parpol memiliki mekanisme yang baik dalam rekrutmen calon legislatif, bukan dengan cara yang asal-asalan, sehingga calon yang disuguhkan oleh partai-partai, memang orang pilihan yang dapat berjuang untuk rakyat.

“Melihat keadaan sekarang ini, rasanya sudah mustahil memperbaiki ketergantungan pada money politik, sudah sebegitu rusaknya. Semuanya dikuasai uang, tidak diperlukan narasi-narasi. Kalau pun hari ini kita mendorong agar narasi lebih diutamakan, mungkin nanti baru berdampak beberapa generasi setelah kita,” kata Haris.

Winardi Sethiono, seorang pengusaha yang sekaligus ketua Partai Nasdem Kota Banjarmasin, membenarkan bahwa sekarang ini narasi tidak begitu penting di tengah masyarakat. Uang jauh lebih penting. Bahkan ia setuju, bahwa Habaib dan Gusti, juga kalah dengan uang.

Melihat kondisi tersebut, ia mengatakan edukasi sangat diperlukan. Bila dibiarkan, akan semakin parah. Masyarakat sangat cuek, kecuali ada isu bahwa daerah ini akan tergadai, baru masyarakat peduli. Kodisi seperti ini diperparah oleh krisis para akademisi yang tidak mau turun tangan melakukan berbagai pendidikan politik.”

Akademisi diam saja, asyik dengan dunianya. Padahal perannya sangat diharapkan,” katanya.

Khariadi Asa, seorang jurnalis dan mantan penyelenggara Pemilu, mengatakan bahwa terkait berita hoak yang banyak di media sosial, Kementrian Kominfo setiap tahun selalu mendeteksi ribuan berita tersebut dan mengklarifikasinya. Namun entah kenapa, selalu saja mucul berita hoak dan itu sangat memberi pengaruh pada masyarakat.

“Rupanya, kemajuan teknologi yang melanda masyarakat, tidak dibarengi dengan kemampuan literasi,” duganya.

Hadir pula Hastati, seorang polisi baru perempuan dari partai Nasdem. Dia mengatakan bahwa dalam komunikasinya dengan masyarakat, selalu terhambat oleh pertanyaan soal ada tidaknya uang yang dimiliki. Selalu ia sampaikan bahwa, tujuannya terjun politik justru dalam rangka melawan money politik, jadi pasti tidak ada uang untuk money politik.

“Kalau semua calon melakukan hal seperti ini, pemilu akan lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Lidia Agustina, anak muda yang aktif dalam berbagai organisasi, memberikan gambaran bahwa anak muda sekarang sepertinya apatis terhadap Pemilu. Untuk apa anak muda ikut sibuk Pemilu, toh tidak berdampak langsung dengan mereka. Lebih baik memikirkan diri sendiri saja. Kalau ikut memilih atau ikut mendukung, toh tidak akan diperhatikan juga, sebab ini dunianya orang tua, bukan dunianya anak muda.

“Begitulah kebanyakan persepsi yang ada di kepala anak-anak muda. Karena itu perlu pencerahan, termasuk oleh akademisi,” harapnya.

Facebook Comments