APAKAH lagu Banjar itu? Atau, bilamanakah sebuah lagu disebut lagu Banjar? Dan, mengapa lagu Banjar tidak berada di arus utama kebudayaan kita era kini?

Pertanyaan-pertanyaan itu coba dijawab dan didiskusikan pada acara peluncuran Majalah Kebudayaan Kandil terbitan Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, edisi Februari 2021, yang digelar di Rumah Alam, Sungai Andai, Banjarmasin, Sabtu (5/6/2021).

Edisi Kandil terbaru ini memang mengangkat tema Lagu Banjar dengan judul “Lagu Banjar Populer: Dulu, Kini, dan Nanti”. Menghadirkan pembicara musikus Sirajudin (Dino) dan Khairiadi Asa, dan Pemimpin Redaksi Kandil Sumasno Hadi, acara yang dipandu Novyandi Saputra ini berlangsung santai namun tetap serius, sembari diselingi nyanyian lagu Banjar diiringi petikan gitar.

Sumasno Hadi selaku Pemred Kandil mengatakan, diangkatnya tema Lagu Banjar dalam edisi kali ini lantaran masih berkembangnya wacana tentang yang apa disebut Lagu Banjar.

“Nah, di edisi ini, wacana tentang lagu Banjar itu diulas dibahas dan dianalisa sebagai tema utama. Tidak saja hanya sebagai sebuah lagu, tapi juga dari perspektif lain. Harapannya, terbukanya wawasan yang luas mengenai lagu Banjar itu sendiri,” ucapnya.

Sumasno berpendapat, lagu Banjar (populer) tentu saja sudah sejak awal memuat nilai kebanjaran. Semakin kuat persoalan hidup masyarakat (budaya) Banjar yang dibawa, maka “rasa” (inguh) Banjar pun akan semakin kuat. “Aspek rasa ini, dari sisi musikal akan ditentukan oleh teknik vokal dari sang penyanyi dalam membawakan melodi-lagu, yang bentuknya diatonis itu. Begitu,” sebut dosen Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat (LM) ini.

Silang pendapat tentang identitas lagu Banjar sudah lama dan cukup sering didiskusikan. Dino mengungkapkan, lagu Banjar ialah lagu berbahasa (lirik) Banjar dengan karakteristik dan ciri khasnya tersendiri. Elemen itu yang (tetap) melekat pada lagu-lagu Banjar populer terdahulu seperti Ading Bastari (H Anang Ardiansyah), Di Banua Urang (Farhan Nasri), Halin (Sukri Munas), dan lain-lain. Seiring perkembangan, saat ini juga banyak dicipta dan dinyanyikan lagu-lagu berlirik Banjar oleh generasi muda seperti Tommy Kaganangan, misalnya.

Lalu, pertanyaannya, apakah lagu-lagu berlirik Banjar terkini itu masih bisa disebut lagu Banjar? Pertanyaan ini muncul lantaran sejumlah penikmat seolah kehilangan ciri khas atau karakter “kebaranjaran” pada lagu itu, sehingga tidak merasakan nuansanya.

Menurut Dino, terhadap lagu berlirik Banjar terkini yang diciptakan oleh generasi terbaru, ada dua kelompok pendapat yang bisa disimpulkan olehnya. “Kelompok masyarakat pertama menerima karya-karya baru itu sebagai lagu Banjar dan mengapresiasinya. Sedangkan kelompok kedua mengkritisi karena mereka tidak menemukan karakteristik atau ciri khas lagu Banjar sebagaimana telah diletakkan oleh komposer-komposer terdahulu,” ucapnya.

Facebook Comments