PEREMPUAN MEMBACA TUHAN

Perempuan yang khusyuk mengeja ayat-ayat suci (suara-suara tuhan yang dilantangkan) sepenuhnya menafsir kehendak alam yang menerima satu-persatu nyeri lukanya telanjur terbenam ke dasar kubangan dosa. Adakah pengampunan yang lebih agung selain daripada membacamu, tuan, di lembar-lembar lain, halaman-halaman tak tersentuh hitam, agar tak ada yang gugup mengeja dosa?

Surabaya, 10 Agustus 2018


ADAKAH KAU BACA?

(dunia pagi, dalam bingkai berita, adakah kau baca, kekasih?
Musim terlepas dan kita hinggap pada tingkap yang terluka oleh kecemasan tiba-tiba)
Siapa bertamu ke haribaan sajadah tatkala langit sempurna menyembunyikan dosa?
Kita tetap setia membaca perulangan ayat yang berkisah keagungan Ad’n dan sejumlah mata air
Lalu pulang pada sebaris kalimat sepi. Menguak kegugupan mengucap tuan sepenuh doa.

(dunia pagi, dalam bingkai berita, ada siapa di sana melacak perbincangan anak musim?
atau kau telah bersandar pada kecemasan yang menghimpit, karena tak ada lagi kata ditafsir)
ada halaman tak tersentuh juru doa. sepasang kita yang hablur dalam gema. ruang kehilangan tabiat hamba.
ada tuhan melacak suara. sudut-sudut mengecilkan perbincangan antar musim lepas kisah.
sebenarnya siapa yang sungguh-sungguh melafadzkan pagi sebelum kita memahami gelisah ruang?
hanya perumpamaan kerap rumpang. tak lagi ada kata yang melafadzkan datangmu, tuan!

Surabaya, 10 Agustus 2018


MALAM PEJALAN

Ia hanya mendapati sebaris luka mendidih dalam perputaran siklus kabut, dan musim yang menghilang
Ke dalam hijau perumpamaan. Doanya terbaca lirih air mata, sedu-sedan hamba yang menemukan titik pulang
Dari khusyuk sembahyang.

Ia mendapati ceceran hujan di halaman-halaman buku perjalanannya
terbaca musim rontok hijau. Ada yang takzim sekadar melepas salam
siklus doa di muram pagi.

Ada tuhan yang ditinggalkan hamba
memilih arah kepada dosa: liang ketersesatan khidmat dibaca.
Masih ada sebaris luka mendidih dalam perputaran kabut, siklus musim kekeringan nubuat para hamba.

Surabaya, 9 Agustus 2018


WARUNG MALAM

Suara-Mu menghilang
dalam gurau malam di kedai-kedai

ada yang melacak-Mu
dalam seduh pertama
segelas kopi. ada yang mengeja-Mu
di antara tumpang-tindih kata-kata

Surabaya, 10 Agustus 2018

 

Facebook Comments