ADALAH SMK Negeri 1 Martapura, Kabupaten Banjar, dan MAN Tanah Laut, yang menjadi pilihan program “Bakujang” Mini Wikithon BASAibu Wiki Kalimantan, Rabu (26/8/2026).

“Bakunjang” pertama tim BASAibu Wiki Kalimantan mendatangi SMKN 1 Martapura terlebih dulu. Di sekolah ini, kegiatan dilaksanakan di perpustakaan, berlangsung pagi mulai pukul 08.18 Wita.
Lebih dari 150 murid hadir dalam kegiatan ini, dengan mayoritas peserta adalah perempuan. Sementara tim BASAibu Wiki Kalimantan yang datang di antaranya Adhasatya Praja, Bumi Basudewo Ibrahim, Soraya Naila, dan Agung Prayoga.

Acara dibuka Dedi Rahman Hidayat, M.Pd., selaku Waka Humas SMK Negeri 1 Martapura. Dalam sambutannya, Dedi menyampaikan ketertarikannya terhadap program yang ditawarkan BASAibu Wiki karena memiliki irisan dengan upaya sekolah dalam membangun pembelajaran inkuiri kolaboratif bersama mitra di luar sekolah, khususnya yang berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
“Melalui Mini Wikithon, murid diharapkan dapat menyampaikan pendapat, opini, sekaligus melihat persoalan yang ada di lingkungan sekitar mereka,” ujarnya.

Meski berlangsung di tengah kondisi udara yang masih diselimuti kabut asap, tak menyurutkan semangat para siswa. Peserta diperkenalkan dengan sembilan aktivitas dalam metodologi Konferensi Pemuda, salah satunya adalah Mini Wikithon yang pada hari itu sedang dilaksanakan.

Adhansatya Praja, selaku Koordinator Pemuda BASAibu Wiki Kalimantan memberikan pemantik tentang kemerdekaan lingkungan. Hal ini berkaitan dengan kondisi alam dan lingkungan di Kalimantan Selatan, terutama akhirnya-akhirnya ini banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan hingga menyebabkan kabut asap.

“Nah, sebagai pemuda, kalian juga dapat bersuara mengenai keadaan ini,” ucap Praja. “Gagasan dan perubahan bisa dimulai dari hal yang paling kecil. Sebuah tulisan, misalnya, mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika membawa gagasan yang kuat dan dibaca orang lain, tulisan tersebut dapat memengaruhi cara berpikir dan mendorong orang lain untuk ikut bergerak,” tambahnya memberi tekanan pentingnya sebuah gagasan..

Salah satu murid dengan lantang menyampaikan bahwa pemuda saat ini belum sepenuhnya merdeka, terutama ketika masih banyak persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.
Praja pun meminta para siswa memberikan pendapatnya melalui website BASAibu Wiki Kalimantan menggunakan bahasa daerah Banjar.

“Mengapa menggunakan bahasa Banjar? Karena BASAibu Wiki saat ini tengah mengembangkan bahasa-bahasa daerah melalui digitalisasi. Selain bahasa Banjar, ada bahasa Bali di Bali, bahasa Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan, bahasa Sasak di Nusa Tenggara Barat, dan terbaru bahasa Jawa,” jelas Praja.
Selanjutnya, Praja pun memberikan pertanyaan untuk dijawab oleh para siswa. Pertanyannya: Alam Kalimantan Terancam Kemerdekaannya, Bagaimana Cara Memulihkan Lingkungan yang Terlanjur Rusak Untuk Kembali Seimbang?”

Pada sesi terakhir, dipilih opini terbaik dari para murid. Opini dengan username prettieskitten9 terpilih sebagai salah satu yang terbaik melalui tulisan berjudul Alam Kalimantan yang Terancam Kelestariannya.

Adhansatya Praja, sedang berbicara di hadapan siswa dalam program “Bakunjang” Mini Wikithon. (Foto: BASAibu Wiki Kalimantan)
Seorang siswi mendapatkan hadiah dari tim BASAibu Wiki Kalimantan. (Foto: BASAibu Wiki Kalimantan)

Berlanjut ke MAN Tanah Laut
Perjalanan kemudian berlanjut ke MAN Tanah Laut. Kegiatan kali ini dilaksanakan di Aula terbuka, tepat di tengah hari dengan cuaca yang cukup terik. Namun, panasnya siang tidak menyurutkan antusiasme peserta didik.

Bakunjang Mini Wikithon dimulai sekitar pukul 14.15 WITA. Suasana cukup ramai, tetapi tetap terkendali. Dalam pemaparan singkat, peserta ternyata cepat merespons dan menunjukkan fast thinking. Lebih dari 200 peserta didik dari berbagai tingkatan kelas hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketika pertanyaan pemantik diberikan, hampir seluruh peserta terlihat antusias mengangkat tangan. Karena terlalu banyak yang ingin menjawab, pertanyaan bahkan harus diulang dan dilakukan undian untuk menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan menjawab terlebih dahulu.
Pertanyaan dimulai dari hal sederhana, seperti apa itu Bakunjang, hingga pertanyaan tentang usia pemuda. Setelah itu, tim BASAibu Wiki Kalimantan mulai mengajak peserta melihat isu-isu yang sedang terjadi saat ini.

Pembahasan kemudian diarahkan pada posisi pemuda dalam masa depan Indonesia. Pemuda dianggap memiliki peran penting karena akan menjadi bagian besar dari populasi dan menjadi kelompok yang menentukan arah masa depan bangsa.

Praja menyampaikan bahwa kehadiran BasaIbu bukan sekadar mengajak murid untuk menulis. “Lebih dari itu, kegiatan ini ingin membuka ruang partisipasi publik bagi pemuda untuk menyampaikan pendapat,” paparnya.

Dikatakan, pendapat yang ditulis dalam Mini Wikithon nantinya mendapatkan kesempatan untuk dibawa dan dipertemukan dengan pemangku kepentingan sebagai bagian dari proses penyusunan kebijakan publik.

“Bahkan, ide dan inovasi yang dianggap potensial juga diharapkan dapat memperoleh dukungan untuk diimplementasikan,” kata Praja.

Peserta diajak untuk berani berpendapat, menulis opini yang solutif, berpikir kritis, serta melihat kondisi lingkungan di sekitarnya. Salah satu pertanyaan yang kembali muncul adalah: Apakah alam kita hari ini sudah benar-benar merdeka?

Tulisan juga diharapkan tidak hanya berisi kritik, tetapi mampu menawarkan solusi dan ditulis secara persuasif. Judul pun menjadi bagian penting karena harus cukup menarik untuk membuat orang lain mau membaca dan memikirkan kembali persoalan yang diangkat.

Ada kejadian yang cukup menarik. Saking antusiasnya, dalam waktu kurang dari satu menit sudah ada 14 peserta yang berhasil mengirimkan pendapatnya melalui BasaIbuKalimantan.org. Ternyata, beberapa opini kritis tersebut memang sudah dipersiapkan oleh peserta didik sejak jauh-jauh hari.

Sambil menunggu proses penilaian, guru juga memilih salah satu murid untuk menyampaikan pendapatnya secara langsung. Ahmad Farier, murid kelas XII C, dengan berani menyuarakan pandangannya sebagai pemuda.

Farier menyampaikan bahwa pemuda harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami dampak dari persoalan yang terjadi saat ini. Ia menyoroti kondisi kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Selatan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Persoalan lingkungan juga harus dibarengi dengan perhatian kepada kelompok rentan, terutama anak-anak yang ikut merasakan dampak dari bencana dan kondisi lingkungan yang semakin buruk,” ucapnya.
Tidak lama kemudian, pengumuman pemenang Mini Wikithon dibacakan. Menariknya, Ahmad Farier ternyata menjadi salah satu peserta yang terpilih. Tulisan yang ia kirimkan berjudul Api di Negeri Borneo.@