KALIMANTAN Selatan kehilangan salah satu tokoh besarnya. H Rudy Arifin, gubernur Kalsel dua periode (2005 hingga 2015) berpulang pada usia 73 tahun, sekitar pukul 11.00 Wita, Minggu (6/9/2026) di Rumah Sakit Amanah Banjarmasin.

H Rudy Ariffin MBA Bin H. Bachrun Ariffin lahir di Banjarmasin, 17 Agustus 1953. Menikah dengan Hayatun Fardah (alm) dan dianugerahi tiga buah hati. Ayah dari mantan Wali Kota Banjarbaru Aditya Mufti Ariffin sekaligus mertua dari designer ternama Indonesia Vivi Zubedi ini dikenal sebagai sosok ramah dan karismatik.

Selama memimpin Kalsel, ada banyak kebijakannya yang berpihak kepada rakyat. Yang paling dikenang adalah ketika ia melarang angkutan truk batu bara melintasi jalan negara melalui Perda No. 3 Tahun 2008. Sebelum ada peraturan ini, selain mencemari jalan, memacetkan lalu lintas, truk batu bara yang melintasi jalan negara juga kerap memakan korban jiwa.

Pun, ketika sudah tak lagi sebagai pejabat, Rudy Ariffin sering menjadi tempat untuk meminta nasihat dan pandangan terhadap perpolitikan dan kebijakan pemerintahan.

Khairil Anwar, staf pribadi Rudy Ariffin yang mengabdi sejak 2017, menceritakan kepada asyikasyik.com beberapa kebaikan almarhum semasa hidup sejak tak lagi sebagai pejabat hingga akhir hayatnya.
“Pak Rudy Ariffin semaksimal mungkin menghadiri undangan apapun, kawinan, nikahan, tasmiyah, khitanan, lebih-lebih haulan. Sepanjang awak sidin sehat, beliau selalu hadir. Termasuk juga ke pemakaman kerabat atau yang beliau kenal,” ujar Khairil Anwar, di sela menyiapkan pemakaman almarhum di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin, Banjarbaru, Minggu (6/9/2026) pukul 14.30 Wita.

Bentuk kecintaan terhadap almarhum istrinya yang terlebih dulu berpulang, Rudy Ariffin juga meneruskan kebaikan-kebaikan almarhumah sang istri, di antaranya membagi-bagikan makanan atau sembako setiap hari Jumat.

“Termasuk membiayai anak penghafal al-Quran sampai hafal 30 Juz, juga anak yatim hingga kuliah S2,” kisah Khairil, yang mantan wartawan Radar Banjarmasin dan Media Kalimantan ini.

Yang palling beliau jaga, kata Khairil, almarhum selalu menjalin silaturahmi. “Beliau sering reuni dengan para pegawai Pemprov, Pegawai Pemkab Banjar, juga kawan-kawan sekolah waktu SMP dan SMA,” sebut Khairil.

Khairil Anwar, di antara Aditya Mufti Ariffin dan H Rudy Ariffin. (Foto: dok pribadi)

Khairil juga menyebutkan, bahwa almarhum dengan murah hati membantu siapa saja yang memerlukan bantuan kepada beliau. “Misalnya ada yang berobat, atau anak sakit, dan lain-lain. Saya sering lihat beliau duduk-duduk malam mentransfer sana sini. Kadang minta bantuan saya mengambilkan kertas dan pulpen, lalu menulis nomor rekening yang mau ditransfer,” kata Khairil, yang mengaku agak enggan menceritakan hal ini. “Tapi itulah kebaikan-kebaikan beliau yang saya ketahui sendiri dan terkenang. Semoga bisa menjadi teladan bagi saya dan kita semua,” ucapnya.

Khairil hampir sepuluh tahun mendampingi almarhum hingga akhir hayat. Awalnya ketika Khairil bersama awak redaksi koran Media Kalimantan (milik alm H Sulaiman HB) mendapat surat PHK (persisnya koran itu ditutup pemiliknya) pada tahun 2017.

“Jam 9 kita dapat SK PHK, 9.30 beliau (Rudy Ariffin) telpon, ‘mau ke mana sekarang?’ ujar ulun, masih belum bepikir. Lalu kata beliau, ‘ikut aku aja’,” kisah Khairil. Dan sejak itulah Khairil mendampingi Rudy Ariffin hingga akhir hayat, berpulang pada Minggu (6/9/2026), pukul 11.00 Wita.

Pagi Masih Sempat Ngobrol dan Disuapi Makan
“Beliau tidak mengalami gejala sakit yang berat. Bahkan sebelum berangkat ke rumah sakit, hari Jumat malam Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 24.00, beliau sempat minta disiapkan makan sedikit, dan makan buah,” ucap Khairil, perihal sakit hingga sempat dirawatnya Rudy Ariffin.

Sakit terakhir ini, kata Khairil, beliau terkena inveksi paru. Menurut dokter yang merawat, sakit tersebut memang sudah lama. Namun bisa ditangani dengan obat jalan.

“Namun kondisi agak kurang baik, karena kualitas udara sedang tidak bagus. Sehingga membuat sakit paru beliau terdampak,” ucap Khairil, yang selalu mendampingi almarhum saat perawatan.

Diceritakan Khairil, di rumah sakit almarhum juga masih ngobrol-ngobrol. Hanya saja, pas Sabtu pagi, sekitar pukul 07.00, saturasi oksigen beliau mendadak turun. Lalu diminta pihak RS dirawat di ICU.

“Selama di ICU juga masih bisa ngobrol. Menyapa beberapa tamu yang sempat diizinkan masuk, ada Pak Rosehan NB, ada Pak Seffek Effendi, serta adik dan kakak beliau. Termasuk pemilik RS Amanah, Pak Imam Abror dan Ibu,” ujar Khairil.

Sampai pada Minggu pagi tadi, kisah Khairil, masih bisa ngobrol. Minta minum, dan minta disuapi makan sama anak-anak dan cucu beliau. Jam 10.00 saturasi turun ke 60, dan beliau tidak sadar.

Kritis sesaat, diberi tambahan bantuan penapasan, sempat merespon, dan saturasi naik lagi. Sempat bertahan hampir satu jam. “Hingga akhirnya, pukul 11.00 Wita beliau berpulang, didampingi anak cucu, juga kakak dan adik-adik beliau,” ucap Khairil.

Kabar wafatnya tokoh Kalsel ini pun dengan cepat menyebar melalui WAG. Jenazah disalatkan di Masjid Al-Jihad Banjarmasin selepas salat Dzhuhur. Juga disalatkan di Masjid Agung Al-Karomah selepas salat Ashar. Selanjutnya almarhum dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin, Banjarbaru.@