YOGYA memang istimewa. Sebagai kota seniman, sudah pasti ada banyak ruang ekpresif, ruang menampilkan karya seni.
Setelah sebelumnya saya– bersama kawan-kawan yang sedang proses pembuatan film dokumenter pelukis asal Kalsel Misbach Tamrin di Yogyakarta, mengunjungi Sangkring Art Project saat pembukaan pameran pelukis Maslihar (baca tulisan: “Bebrayan”; Masa Kecil Bahagia dalam Pameran Tunggal Maslihar), satu tempat pameran lagi menjadi “bonus” yang sayang dilewatkan
Kali ini agak jauh dari pusat Kota Yogya. Rumah DAS (Dyan Art Studio) namanya, terletak di Condongcatur, Sleman DI Yogyakarta. Saya dan kawan-kawan datang menghadiri pameran seni rupa ” Kepung” sore Jumat (25/5/2024) itu.
Rumah DAS milik seniman Dyan Anggraini berdiri di atas tanah seluas 1000 meter persegi. Memasuki lingkungan Rumah DAS ini kita seperti tengah berada di sebuah taman yang asri, aneka tanaman merimbun di antara bangunan-bangunan artistik; ada ruang perpustakaan, showroom, kedai kopi, studio lukis, dan galeri untuk pameran.

“Mulanya hanya ada dua ruang saat saya awal berdiam di sini tahun 1994. Pertama ruang yang menjadi studio lukis saya. Kedua, ruangan ini yang sekarang menjadi ruang perpustakaan,” ujar Dyn Anggreini ketika saya meminta waktu berbincang sejenak usai pembukaan pameran.
Perempuan yang masih energik di usianya yang tak muda lagi ini pernah menjadi Kepala Taman Budaya Yogyakarta 2004-2011. Setelah sempat juga di Dinas Kebudayaan dan pensiun pada 2013, ia pun mulai menggairahkan kegiatan seni budaya di kota tempat ia tinggal.
“Saya berpikir, apa yang bisa saya berikan dan sumbangkan untuk kota ini, Condongcatur,” ucap Dyan.
Lalu, bersama Tom suaminya, dan beberapa rekan seniman lain, perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur ini pun mulai serius untuk menjadikan tempat tinggalnya menjadi ruang ekspresi dan segala kegiatan seni budaya. Hal itu dimulai dengan mendirikan Yayasan Pojok Rumah DAS (Desiminasi Air Senirupa) yang dimaksudkan agar bisa bermitra dan berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk pemerintah.


“Sebelumnya, tempat ini sudah sering dipakai siapa saja yang mau berkegiatan. Entah diskusi buku maupun berpameran. Bahkan ada pula yang ujian S2 di sini,” kata perempuan ramah yang merupakan lulusanASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia)– sekarang ISI.
Dyan mengaku sangat sayang jika tempat tinggalnya yang sangat memungkinkan untuk menggelar beragam acara hanya dipakai untuk diri sendiri saja. “Saya ingin memberi ruang seluasnya di tempat ini, terutama bagi seniman muda,” ucapnya.
Dan, pameran bertajuk “Kepung” yang dibuka hari itu dan berlangsung hingga 24 Juni 2024 digelar untuk memperingati Hari Menggambar (Drawing Day, 16 Mei). Melibatkan lebih 30 pelukis– sebagian besar pelukis perempuan, pameran ramai dikunjungi tak hanya seniman namun juga para mahasiswa, termasuk dari ISI Surakarta, Solo.


Dalam tulisan ini saya memang tak memberi ulasan mengenai karya para perupa yang dikuratori oleh Karen Hardini dan dibuka Wening Udasmoro, Wakil Rektor Bidang Pendidikan & Pengajaran UGM. Namun lebih pada apresiasi kepada seniman Dyan Anggraini dengan Rumah DAS-nya yang telah memberi ruang bagi ekspresi seni, barangkali bisa menginspirasi.
Seperti kata Wening saat pembukaan, “Di tengah kepungan teknologi, kita harus terus menumbuhkan jiwa humanisme dengan karya seni.” Kiranya itulah pula yang dilakukan Dyan dengan Rumah DAS-nya.@
























