SORE itu, kami duduk di gardu depan mushola kampung dalam pagar Martapura. Setelah mengikuti haul Syekh Arsyad Al Banjari, ulama besar yang ketokohannya menginternasional, mempengaruhi dunia Islam di Kalimantan, bahkan Nusantara, hingga ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapure dan Brunai. Saya hadir karena diundang oleh organisasi yang menghimpun juriat-juriat beliau, dan dimotori anak-anak muda.
Karena hanya diundang dan bukan tokoh pula, memilih duduk paling belakang, bersama para santri dan masyarakat yang hadir memenuhi mushola kecil yang terletak di tepi sungai kampung Dalam Pagar. Setelah acara inti, saya memilih keluar mushola, duduk di gardu depan mushola, agar saat tamu undangan keluar, lebih mudah karena tidak terhalang pengunjung yang duduk di belakang.
Sarmuji yang sore itu mengenakan gamis panjang putih dan berkopiah putih, datang karena bagian dari juriat tersebut, bahkan menjadi pengurus pusat juriat datu kalampayan. Pikir saya, beruntung sekali orang ini, menjadi bagian dari juriat tokoh besar, ulama yang mengarang banyak kitab, seorang yang alim, mengecap pendidikan sangat tinggi – menuntut ilmu 35 tahun di tanah Arab. Berguru dengan ulama-ulama termahsyur, dan karena ilmunya yang luas, ketika kembali ke tanah Banjar, memberikan perubahan sangat besar bagi masyarakat. Juga melahirkan banyak keturunan yang kemudian menjadi ulama-ulama besar, sebut saja Syekh Jamaluddin, dan ratusan tuan guru lainnya yang tersebar, bukan saja di wilayah Banjar, bahkan sampai ke Sumatera, hingga menurunkan ulama besar lainnya seperti guru Sekumpul Martapura. Tidak diragukan, pikir saya, pasti kakek dan datu Sarmuji juga ulama yang sangat dalam ilmu keagamaannya, karena mendapat pendidikan dari leluhurnya yang sangat alim.
Duduk di pangku panjang depan gardu depan mushola kampung dalam pagar dan bukan di dalam mushola, tentu bukan tanpa alasan, sebab kakinya bengkak, tidak bisa dilipat. Sarmuji mengulurkan telapak kakinya yang bengkak. Tentu saja saya menanyakan kenapa kaki tersebut sampai bengkak. “Tertusuk paku berkarat katanya pendek”. Sepertinya luka tertusuk paku tersebut tidak terlalu dipikirkan olehnya, walau saya melihatnya sangat mengkhawatirkan, sebab bengkaknya sudah seperti kulit yang melepuh. “Hati-hati, apalagi kalau sudah ada gula,” kata saya mengingatkan dia. “Sudah diobati, tinggal menunggu kering,” katanya seperti tidak mempedulikan bahwa hal itu sangat berbahaya, apalagi kalau sampai infeksi.
Kami lalu ngobrol soal bagaimana menghidupkan pemikiran Syekh Arsyad. Bagaimana masyarakat Islam di tanah Banjar, hidup dengan pemikiran beliau yang sangat maju tersebut. Dan motor penggerak untuk menghidupkan pemikiran tersebut adalah organisasi juriat Syekh Arsyad ini. Tantangannya cukup berat, kata Sarmuji, karena sebagian besar lebih suka dengan acara-acara haul seperti ini. Setelah haul, berlalu begitu saja, dan seterusnya, tanpa ada pengkajian dan pengembangan soal pengetahuan yang telah dituliskan Syekh Arsyad. Padahal banyak sekali yang beliau tulis, dan itu semua menarik untuk dikaji serta dikembangkan. Mereka menyerahkan seluruhnya pada orang-orang kampus, sedangkan masyarakat, sepertinya ingin yang seperti ini saja, kata Sarmuji.
Bahkan yang lebih parah, ada yang memanfaatkan nama besar beliau untuk kepentingan diri sendiri, mendapatkan berbagai keuntungan serta kemudahan dari nama besar tersebut.
Karena berada dalam suasana haul, kami tidak ngobrol soal politik atau pemilu, apalagi soal partai-partai serta calon presiden yang mulai mengisi ruang-ruang diskusi. Fokus pada tokoh besar yang namanya selalu disebut. Apalagi haul tersebut diselenggarakan di kampung Dalam Pagar, tempat beliau tinggal dan mengajarkan ilmunya. Membicarakan tokoh besar ini, apalagi di tengah para juriat yang memikul tanggung jawab meneruskan perjuangan beliau, membuat pembicaraan tentang politik, terlebih pemilu, seperti kehilangan substansinya.
Kenapa kita tidak membuat museum khusus untuk beliau? Kata saya memancing pertanyaan pada Sarmuji yang tetap duduk di bangku panjang gardu, dengan sesekali berdiri menyalami para kerabat yang datang berpapasan. Dengan adanya museum, maka dapat menjadi pusat informasi untuk lebih mengenal sosok beliau. Mungkin seluruh karya beliau bisa diletakkan di sana, diperbanyak, bahkan diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan orang dapat memilikinya, untuk turut memahami dan mengembangkannya. Bila perlu, pada museum tersebut ada data digital tentang riwayat hidup beliau, perjalanan dan pemikiran yang dapat dikenal serta dipelajari anak-anak muda, kata saya melanjutkan.
Kemudian saya memberi contoh tentang orang-orang Padang – Sumatera Barat, yang banyak mendirikan museum untuk memberikan penghargaan pada tokoh-tokoh yang telah memajukan daerahnya dan bahkan memajukan Indonesia. Hampir semua tokoh asal Sumatera Barat dibuatkan museum, entah itu tokoh kiri atau kanan, agar masyarakat mengingat dan belajar dari perjalanan serta perjuangan hidupnya.
Ya mestinya seperti itu, dan sudah sering dibicarakan hal-hal demikian, mudah-mudahan juriat kelompok muda yang lebih progresif, dapat memperjuangkannya, walau lagi-lagi, sebagian besar lebih suka dengan haul-haul seperti ini saja, kata Sarmuji sedikit ragu. Sebab memperjuangkan hal ideal seperti itu perlu kesungguhan, perlu kerja serius dan tentu dukungan banyak pihak. Sebenarnya kalau pemerintah menganggap itu penting, serta strategis dalam rangkan memajukan daerah, tentu sangat mudah dilakukan. Sebab tokoh ini milik semua orang, bukan hanya milik juriat. Iya, saya bilang, tokoh ini sebenarnya sangat maju, berpikiran melampaui zamannya. Mestinya dapat menjadi episentrum bagi perkembangan pemikiran Islam di hingga sekarang. Bisa dimulai dari kelompok-kelompok studi yang tekun mendalami pemikiran beliau, dan setelahnya mengembangkan pemikiran tersebut dalam kerja-kerja nyata.
Para juriat sendiri lebih banyak kemana minat dan arahnya dalam soal keilmuan, kata saya mengajukan pertanyaan yang tentu tidak mudah dijawab dalam obrolan santai seperti itu. Beragam, kata Sarmuji. Semuanya sepertinya ada. Ada yang suka fiqih, ada pula yang mendalami tasawuf dan mengajarkan ilmu-ilmu taswuf atau sifat dua puluh, ada pula suka dengan karomah-karomah, bahkan ada yang menekuni pengobatan alternatif, memberikan air tawar untuk kesembuhan berbagai penyakit. Satu kenicayaan, ketika menjadi bagian dari juriat, orang percaya doanya makbul.
Pembicaraan kami juga diikuti oleh beberapa orang juriat lainnya yang datang dari Anjir, Kapuas dan daerah sekitar Martapura, duduk mengelilingi bangku panjang di gardu yang tidak terlulu besar. Saya sendiri lupa menanyakan nama-namanya, tapi semuanya bagian dari keluarga besar, saling memanggil nama, ada juga yang memanggil guru, paman, julak, mamarina dan sebagainya, menggambarkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat.
“Sedang dibenahi organisasi juriat ini,” kata yang lain menimpali, rupanya dari tadi ikut menyimak beberapa gagasan yang sudah kami perbincangkan bersama Sarmuji. Sebab, selama ini banyak yang memanfaatkan. Apalagi menjelang pemilu, pasti laku bila mengaku bagian dari juriat, lanjutnya lagi.
Tidak dapat dipungkiri, karena laku, saya jawab, sambil menoleh pada Sarmuji. Saya juga menyampaikan perkembangan penulisan buku Tionghoa Banjar yang sedang kami garap beramai-ramai dengan 9 penulis berbeda latar belakang, di dalamnya memuat riwayat Syekh Arsyad yang berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya, dan cerita yang berbeda tersebut sudah dua kali didiskusikan dengan para juriat muda, termasuk dihadiri oleh Sarmuji sendiri. Dalam buku itu juga memuat soal Datu Go Hwat Nio, istri Syekh Arsyad berkebangsaan Tionghoa, melahirkan banyak ulama besar. Bahkan cucu dan cicit-cicit Datu Go Hwat, matanya masih sipit-sipit, padahal sudah melewati lebih dari 7 hingga 8 generasi. Kuburan Tionghoa di Tanjung Rema, yang arealnya sangat besar, menggambarkan hubungan kesultanan Banjar dan Tionghoa yang sangat akrab. Kalau ingin diperdalam dan diteliti lebih jauh, tentu banyak cerita yang dapat digali, untuk mengetahui masa lalu yang sangat luar biasa tersebut, kata saya kepada Sarmuji.
Pembicaraan kami terhenti, karena banyaknya orang-orang yang keluar dari mushola dan mengajak foto bersama. Beberapa lainnya juga saling menyapa dan menanyakan kabar. Satu persatu pengunjung mushola pulang, saya juga perlahan beranjak dari gardu, sambil menyalami para juriat dan undangan, meninggal tempat tersebut, menyisakan cerita tentang Syekh Arsyad bersama Sarmuji, yang walau pun dilanjutkan, tidak akan pernah selesai. Sebab tokoh yang satu ini tidak pernah habis untuk didiskusikan.
Beberap pekan setelah itu, kabar yang sangat mengejutkan datang, Sarmuji sakit, terbaring di rumah sakit. Pagi itu, kabar duka pun datang, Sarmuji meninggal dunia. Teringat oleh saya seorang pekerja keras, berintegritas dan sangat sederhana. Masih terngiang cerita seru kami di gardu depan mushola, tentang nenek moyangnya yang sangat hebat, tokoh yang kepadanya orang Banjar harus mengucapkan terima kasih, Syekh Arsyad Al Banjari.@
























