NAMA komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, yang menjadi tema Tadarus Puisi XIX, digelar Sabtu (15/3/2025) malam di halaman Disporabudpar Banjarbaru, ternyata menyisakan cerita lanjutan.
Adalah Hudan Nur, penyair Banjarbaru yang pernah menjadi anggota sekaligus pengurus Kilang Sastra Batu Karaha (KSBK) periode 2001-2011, keberatan dengan sejumlah pernyataan dalam pemberitaan asyik-asyik.com berjudul: TADARUS PUISI ANGKAT KILANG SASTRA BATU KARAHA, KOMUNITAS SASTRA PERTAMA DI BANJARBARU (12/3/2025).
Hudan Nur sebagai penulis buku 50 Tahun Sastra Banjarbaru (Sejarah dan Jejak Komunitas) terbit 2019, merasa ada banyak hal yang mesti diluruskan tentang KSBK. Di waktu pelaksanaan Tadarus Puisi Hudan tidak bisa hadir karena harus mengampu Kelas Jurnalistik (Youth Journalism Batch#3) dan terhalang persiapan giat ke luar daerah yang sudah lama terjadwalkan. Kepada asyik-asyik.com, Senin (17/3/2025), ia membeberkan secara lugas
“Mohon masukkan: Yang menyebut Komunitas Sastra Pertama Banjarbaru itu Kilang adalah mereka yang asbun. Amnesia dengan sejarah komunitas sastra yang sudah lebih 50 tahun ada. Saya membayangkan Pa Eza dan Pa Hamami bangkit dari kubur, dan murka kepada inisiator acara yang melakukan distorsi informasi data. Padahal inisiator termasuk Pa Fakhruddin ikut dalam pembuatan buku 50 tahun sejarah komunitas di Banjarbaru. Kenapa bisa keluar asumsi yang asal-asalan tersebut? Jangan bilang, mereka bagian dari kelompok illiterat,” tegasnya.
Kilang Sastra masuk sebagai komunitas di periode 3 dasawarsa, terang Hudan, dengan memperlihatkan buku 50 Tahun Sastra Banjarbaru. Di sana tercatat, sejumlah komunitas yang lebih dulu ada sebelum KSBK, seperti pada Periode 1 Dasawarsa (1970-1979) ada Sanggar Banaung, Periode 2 Dasawarsa (1980-1989); ada Sanggar Amandito, Sanggar Martha Intan, Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI), Keluarga Penulis Banjarbaru.
“Ada lima komunitas sebelum Kilang. Dan Sanggar Dapur Amandito pernah menerbitkan buku antologi DAWAT di tahun 1982. Di Sanggar inilah Eza Thabry dan Hamami Adaby membuat antologi stensilan. Markas sanggar ini kemudian menjadi markas kilang sastra di tahun 1996″ cerita Hudan.” Jadi, komunitas Kilang ada sebagai kulminasi dari komunitas sebelumnya,” tambah Duta Baca Banjarbaru ini.


Mengenai diangkatnya KSBK menjadi tema Tadarus Puisi XIX, Hudan mengaku mengapresiasi. “Saya terharu ketika tema Tadarus Puisi adalah Kilang Sastra dirunning/diinisiasi oleh mereka yang (mohon maaf) sebagian sudah dikeluarkan dari komunitas kilang dan sebagian lagi bernoda dengan lembaga tetapi masih mau mengangkat Kilang Sastra,” ujarnya.
Sayangnya, lanjut Hudan, orang-orang yang menjadi promotor tidak dihadirkan dalam berita asyikasyik sebelumnya. Bahkan ada nama-nama orang penting yang membuat Kilang Sastra berumur panjang seperti Nahdiansyah, Boma, Sigit Bagus, Della Putri dll. “Tanpa mereka Kilang dipastikan selesai setelah Antologi Narasi Matahari (2002),” ujarnya.
Sementara nama-nama yang disebut sebagai proklamator/pencetus Kilang Sastra, sebut Hudan, hanya Eza Thabry Husano yang istiqomah di Kilang. “Lainnya? Hanya satu-dua-tiga tahun tak lagi mengurus, mengundurkan diri, dan menikam,” cetusnya.


Lebih jauh Hudan juga menyayangkan event keren sekelas Tadarus Puisi yang beberapa tahun belakangan diambil-alih oleh Disporabudpar Banjarbaru abai dalam pengadministrasian. Menurutnya, para veteran KSBK terlebih yang sepuh, serta tidak memiliki media sosial tidak akan tahu agenda ini. Ia jua kecewa dengan ketiadaan penerbitan bunga rampai antologi seperti tahun-tahun sebelumnya. “Yakni saat Tadarus Puisi hanya terlaksana berpayung semangat kerelawanan komunitas dengan dana yang terbatas,” ucap Hudan.
Kenapa kilang sastra bisa banyak memiliki antologi? Siapa yang mengurus? Dan lain-lain, tidak dikuak. “Keberlanjutan sebuah komunitas bukan jatuh pada siapa yang mendirikan, tapi eksistensi. Percuma bombardir nama tapi hanya berumur pendek,” ucap perempuan yang telah aktif menulis sejak SMA ini.
Dibeberkan Hudan, bahwa dirinya menjadi sekretaris Kilang sejak Syarkawi Mar’ie menjadi ketua, yang kemudian meninggal tanggal 9 Oktober 2002. Setelah itu PAW digantikan oleh Nanie Retno Nurwardayaningsih.
“Sepuluh tahun saya belajar menjadi pencatat, mendokumentasikan, mengurus administrasi, menghubungi para penyair, belajar membuat proposal, hingga belajar berkomunikasi menjalin sinergi dengan para pihak termasuk petinggi kota, kepala dinas untuk mewujudkan giat Kilang tahunan yaitu membuat bunga rampai antologi bersama,” kisahnya.
Senarai catatan tentang KSSB bisa dibaca lewat buku jejak dan sejarah komunitas sastra 50 Tahun Sastra Banjarbaru, setebal XVI+346 halaman. Sejak tahun 1996–2009 setidaknya Kilang Sastra Batu Karaha telah menerbitkan 15 antologi puisi, termasuk puisi berbahasa Banjar:
1. Rumah Hutan Pinus (Memuat puisi-puisi karya 8 penyair: Ariffin Noor Hasby, M. Rifani Djamhari, Arsyad Indradi, Fakhruddin, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Fajar Gemilang, dan Sri Supeni), 1996.
2. Gerbang Pemukiman (Memuat puisi-puisi karya 8 penyair: Ariffin Noor Hasby, M. Rifani Djamhari, Arsyad Indradi, Fakhruddin, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Sri Supeni,dan Arya Patrajaya), 1997.
3. Bentang Bianglala (Memuat puisi-puisi karya 10 penyair: Ariffin Noor Hasby, M. Rifani Djamhari, Arsyad Indradi, Fakhruddin, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Arya Patrajaya, dan Elang W. Kusuma), 1998.
4. Cakrawala (Memuat puisi-puisi karya 10 penyair: Ariffin Noor Hasby, M. Rifani Djamhari, Arsyad Indradi, Fakhruddin, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Arya Patrajaya, dan Elang W. Kusuma), 2000.
5. Bahana, (Memuat puisi-puisi karya 12 penyair: Ariffin Noor Hasby, M. Rifani Djamhari, Arsyad Indradi, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Arya Patrajaya, Rudi Ante, Ali Syamsudin Arsi, dan Elang W. Kusuma, dan Sahdi Anak Amid), 2001.
6. Tiga Kutub Senja (Memuat puisi-puisi 3 penyair: Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, dan Hamami Adaby), 2001.
7. Narasi Matahari (Memuat puisi-puisi 15 penyair: Akhmad Setia Budhy, Ariffin Noor Hasby, Annisa, M. Syarkawi Mar’ie, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Yuniar M. Ary, Arya Patrajaya, Rudi Ante, Ali Syamsudin Arsi, dan Elang W. Kusuma), 2002.
8. Notasi Kota 24 Jam (Memuat puisi-puisi 12 penyair: Abdul Aziz Muslim, Akhmad Setia Budhy, Ariffin Noor Hasby, Annisa, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Yuniar M. Ary, dan Arya Patrajaya), 2003.
9. Bulan Ditelan Kutu (Memuat puisi-puisi 13 penyair: Abdul Aziz Muslim, Arsyad Indradi, Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Sri Supeni, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Nina Idhiana, Sandi Firly, Yuniar M. Ary, dan Arya Patrajaya), 2004.
10. Baturai Sanja, puisi berbahasa Banjar (Memuat puisi-puisi 3 penyair: Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, dan Hamami Adaby), 2004.
11. Bumi Menggerutu (Memuat puisi-puisi 16 penyair: Arsyad Indradi, Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Nina Idhiana, Yuniar M. Ary, Arya Patrajaya, Della Putri Febrina, Nurul KH Tifani, Sri Wuryany, Tian Halimah, Dwi Putri Ananda, dan M. Nahdiansyah Abdi), 2005.
12. Melayat Langit (Memuat puisi-puisi 9 penyair: Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Yuniar M. Ary, Shah Kalana Al-Haji, Nurul KH Tifani, dan M. Nahdiansyah Abdi), 2006.
13. Kugadaikan Luka (Memuat puisi-puisi 18 penyair: Ariffin Noor Hasby, East Star From Asia, Isuur Loeweng S, M. Yandi, Reza Anshari Azmi, Sigit Bagus Prabowo, Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Shah Kalana Al-Haji, Nina Idhiana, Yuniar M. Ary, Nurul KH Tifani, Dwi Putri Ananda, dan M. Nahdiansyah Abdi), 2007.
14. Malaikat Hutan Bakau, (Memuat puisi-puisi 19 penyair: Ariffin Noor Hasby, Zurriyati Rosyida, Nurul Azmie LS, M. Yandi, Reza Anshari Azmi, Sigit Bagus Prabowo, Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Shah Kalana Al-Haji, Nina Idhiana, Yuniar M. Ary, Miftahuddin Munidi, Dwi Putri Ananda, M. Nahdiansyah Abdi, dan Hajriansyah), 2008.
15. Menggoda Kehidupan, (Memuat puisi-puisi 20 penyair: Ahmad Syam’ani, M. Mus’ab, Putra Canada Iriansyah, Rahmatiah, Zurriyati Rosyida, Reza Anshari Azmi, Sigit Bagus Prabowo, Imraatul Jannah, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Hudan Nur, Lieta Dwi Novianti, Nanie Retno Nurwardayaningsih, Shah Kalana Al-Haji, Nina Idhiana, Yuniar M. Ary, Miftahuddin Munidi, Dwi Putri Ananda, M. Nahdiansyah Abdi, dan Hajriansyah), 2009.


“Info buku KSSK dicetak sedikit-sedikit, itu tidak semuanya benar. Ada yang cetak di atas 200 eksemplar. Ada yang nyaris 500 eks,” terang Hudan.
Buku-buku Kilang Sastra itu, disebut Hudan, didiskusikan di banyak tempat. “Selain di Banjarbaru, Banjarmasin, sejumlah buku KSBK juga didiskusikan di Forum Penyair Muda 4 Kota di Yogjakarta, Tangerang, dan Palu,” ucap Hudan, yang memiliki pertemanan penyair di tanah air ini.
Hudan membeberkan semua tentang KSBK berdasarkan data-data arsip yang masih dimilikinya, termasuk catatan-catatan rapat serta absensi kehadiran.@





























