MASIH hangat di Yogya, baru-baru ini tradisi sedekah laut yang akan dilangsungkan warga Bantul Yogyakarta batal dikerjakan. Pasalnya, tepat pada dini hari sebelum acara sejumlah orang ramai merusak perlengkapan dan bahan untuk sedekah laut tersebut. Orang ramai ini sambil merusak sambil bilang syirik dan musyrik ihwal sedekah laut yang bakal dikerjakan warga. Sebagian bercadar dan sebagian tidak, beberapa dari orang-orang ini menenteng dan memakai senjata tajam.

Di saat orang ramai, saya pakai istilah Malaysia ini kerna istilah massa sudah biasa sangat, merusak perlengkapan dan bahan-bahan sedekah laut, mereka ini tak lupa memasang spanduk wakwaw yang berbunyi: “KAMI MENOLAK KESYIRIKAN BERBALUT BUDAYA, SEDEKAH LAUT ATAU SELAINNYA!!” Dengan spanduk berwarna dasar hitam huruf-huruf penolakan disetting berwarna putih dengan bagian khusus frase “Sedekah Laut” diberi warna font merah. Di bagian bawah kiri terdapat tulisan Aliansi PETA dan di pojok kanan bawah tertera Tauhid First!

Nama Aliansi PETA yang terpancang di spanduk sungguhlah kabur untuk ditelusur. Mustahil untuk menganggap bahwa PETA ini punya singkatan Pejuang Tanah Air yang berdiri di masa kolonial Jepang. Kalau pun diasumsikan iya PETA zaman Jepang, apa hubungannya kesatuan tentara bikinan Jepang ini dengan sedekah laut? Apa ada Doraemon di belakang orang-orang ini. Atau ada Naruto di belakang mereka. Sepertinya musykil. Naruto bukannya sering merapal mantra-mantra berbahasa Jepang bukan Arab, bahkan pake lembaran-lembaran kertas segala. Apa itu bukan syirik. Jangan-jangan Naruto ini pengabdi setan malah. Kalau dikaitkan dengan film Dora the Explorer, nampaknya tak cukup tepat juga. Meskipun memang Dora sering sekali bilang, “Peta, peta, peta!” kalau dia ingin mencari satu lokasi.

Di lain pihak, slogan “Tauhid First!” yang dicantumkan jelas merupakan cangkokan dari slogan “Safety First!” yang sering dikumandangkan para pekerja atawa manpower alias tenaga kerja a.k.a karyawan entah itu di proyek-proyek maupun pabrik-pabrik. Apakah ada keterlibatan orang-orang proyek atau orang-orang pabrik dalam aksi-perusakan-sedekah-laut ini atau jangan-jangan para pengangguran-yang-kurang-kerjaan-sehingga-semangat-beragamanya-kelebihan-beban, susah diverifikasi yang mana.

Setelah adanya pengrusakan properti acara kebudayaan itu, Polisi diberitakan memeriksa 9 orang yang bukan warga setempat. Kesembilan orang terperiksa ini kebanyakan berasal dari Solo. Polisi kekurangan saksi dan korban. Tak ada laporan maka tak ada kasus. Kesembilan orang terperiksa ini pun akan segera dilepas dan dikenai wajib lapor. Disebutkan polisi juga menelusur CCTV untuk memeriksa tersangka terkait persoalan ini.

Penyerangan terhadap acara kebudayaan di Yogya berupa sedekah laut ini sejatinya tidak bisa dilepaskan begitu saja dari penyerangan terhadap gereja Santa Lidwina beberapa waktu silam. Loh, kayapa (baca: gimana) penjelasannya?

Sedekah laut itu acara kebudayaan, sedangkan serangan atas gereja Santa Lidwina terkait dengan ihwal agama. Bukannya itu ranah berbeda, akhi? Tidak salah. Berbeda ranah namun punya keterkaitan.

Di sini kita berhadapan dengan orang-orang yang merasa paling memahami agama dan menganggap orang yang tak sepaham mutlak salah paham. Orang-orang ini merasa paling bertauhid dan sekaligus merasa berhak menghancurkan  menertibkan orang yang dianggap tak murni tauhidnya. Karena itu, sasaran orang-orang macam ini bukan hanya orang yang dianggap seiman tapi bahkan juga yang berbeda iman. Semua harus ditolak, bila menolak, dihancurkan. Pokoknya, di pikirannya “KAMI SUCI, KALIAN PENUH NISTA DAN DOSA!”

Ehm, bisakah ngomong baik-baik sama orang macam ini? Berat, Dilan pun tak akan sanggup. Bisa-bisa kena rajam si Dilan malah. Pikiran orang macam ini, hanyalah konflik, musuh, lawan, hancurkan. Yang setuju sama pikirannya ya jadi kawan, yang menolak berarti munafik, musyrik bahkan kafir. Eh, tambah lagi ding, liberal, syi’ah, ateis, LGBT, sekuler.

“Terus, mau dibawa ke mana hubungan kita?” kata lirik lagu Armada. Auk ah, gelap bin kadap[email protected]

Facebook Comments
Artikel sebelumnyaFILM PUISI ARUH SASTRA DI MATA NAJWA
Artikel berikutnyaNASRUDDIN YANG TAKUT TAK BISA MEMBAYAR SEORANG PENIPU
Riza Bahtiar
Pria dengan wajah ruwet ini lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan pada 27 Oktober 1977. Pernah kuliah di Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah dan Filsafat. Belum sempat lulus, keburu bosan, lantas pindah ke Jakarta. Berhasil lulus kuliah di IAIN Jakarta yang berubah jadi UIN ini pada 2002. Pernah aktif sebagai aktivis prodem dan coordinator Forum Study MaKAR (Manba’ul Afkar) Ciputat, aktivis di Desantara Institute for Cultural Studies, voluntir peneliti di Interseksi Foundation. Karena tidak betah menjomblo di Jakarta, pulang kampung pada 2006 sampai sekarang. Pada 2008 sempat menerbitkan Iloen Tabalong, satu-satunya media berbahasa Banjar se-Kalimantan dan gratis. Wahini sehari-hari bekerja di PLTU Tabalong. Hobi baca buku, diskusi, wiridan dan Tai Chi.