Misteri di Balik Mata
Karya Bon Zay

kenapa selalu menanyakan temuan mataku
mataku tak membuat kalian lapar
mataku tak membakar kulit tubuh kalian
aku belum melihat dengan penglihatan tuhan
tolong biarkan mataku menikmati keindahannya
bukankah kita tidak buta untuk diam
bukankah kita tidak buta untuk bersyukur
biarlah mataku rahasiaku
                   (Kotabaru, 16 Oktober 2016)

FILM Puisi? Bagaimana supaya film bisa masuk dalam agenda sastra? Mengapa ide ini muncul? Selama 15 tahun berlangsungnya Aruh Sastra Kalsel, produk yang dihasilkan hanyalah buku-buku. Sebarannya pun hanya terbatas di kalangan satrawan dan peserta aruh saja. Lupa menitipkannya untuk di taruh di perpustakaan kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Sehingga untuk masyarakat umum sulit mendapatkan buku-buku produksi Aruh Sastra. Oleh peserta aruh, kadang buku-buku itu setelah diterima secara gratis dari panitia, cuma ditaruh di lemari buku, atau bahkan ada yang lupa menaruhnya di mana. Bahkan ada yang sama sekali tidak dibaca. Barangkali hanya beberapa orang saja yang membacanya sampai habis. Padahal panitia sudah banyak mengalokasikan dana untuk membuat buku. Itu kenyataan.

Sastra dan buku, adalah pasangan yang tak terpisahkan. Ada semacam anggapan bahwa penulis puisi, cerpen, novel, atau esai sastra, belum sah jadi sastrawan bila belum menerbitkan buku antologi pribadi. Begitu pentingnya arti sebuah buku bagi sastrawan, sehingga tidak segan mengeluarkan dana pribadi untuk membukukan karya-karyanya, dalam hal ini termasuk saya sendiri. Saya secara pribadi membuat antologi tunggal “Melintas Mega Jingga” untuk menandai Hut ke-8 SSSI Kotabaru, menemani launching buku Puisi Menolak Korupsi “Memo untuk Presiden” di Kotabaru pada bulan Januari tahun 2015 lalu. Karena kejadian itu, saya pun dinamakan sastrawan/penyair. Setelah sebelumnya siswa-siswi anggota SSSI Kotabaru asuhan saya karyanya lebih dahulu terbit dalam antologi “Haru Biru Kotabaru” tahun 2012.

Sastra dan buku, sudah semestinya ada. Sastra dan musik, juga ada. Sastra dan film pun ada. Pada produk film, sastra sudah tidak asing lagi. Sudah banyak film yang diangkat dari sebuah novel, cerpen dan adaptasi puisi. Sudah banyak yang menontonnya. Banyak referensinya. Lalu bagaimana dengan film puisi? Bisakah diadakan perlombaannya?

Ide awal festival film puisi sebenarnya adalah lomba membuat film pendek tentang cerita rakyat/dongeng yang ada di masing-masing kabupaten/kota peserta aruh sastra. Tujuannya mengangkat cerita rakyat Kalsel yang sudah dibukukan atau belum dibukukan ke dalam bentuk film. Sebarannya lebih mudah diakses bila diposting di youtube. Formatnya mungkin film pendek. Banyak referensinya. Tapi ketika ide itu disampaikan, ada tanggapan bahwa membuat film seperti itu membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Maka muncullah ide membuat film puisi. Nilai sastranya jelas bila digelar dalam aruh sastra. Kupikir karena format puisi yang singkat dan padat, maka waktu dan biaya pembuatannya bisa lebih murah.

Film Puisi, dalam sebuah kompetisi ternyata masih mencari referensi. Sebelum digelar dalam kegiatan sastra, aku mencari referensi di dunia maya (bertanya pada mbah google), bertanya dan berdiskusi dengan beberapa orang yang dianggap faham tentang film. Hasilnya sama, belum ada format yang sama tentang bagaimana bentuk film puisi. Namun karena bertekad untuk mengadakannya, agenda Festiva Film Puisi digelar. Syarat dan ketentuannya standar, seperti ketentuan lomba yang lain. Mungkin bisa dikatakan secara trial and error. Tentu saja dalam ketentuan dan syarat, panitia mencantumkan point “hal-hal lain yang belum jelas bisa ditanyakan langsung kepada panitia”. Ini peluang untuk mengajak peserta berdiskusi dengan panitia penyelenggara.

Inti dari pembuatan film puisi adalah bagaimana film mampu mengapresiasi sebuah puisi dalam bentuk audio visual. Supaya ruh puisi tidak hilang, diharuskan menyajikan puisi dalam teks dan audio secara utuh. Karena puisi adalah produk sastra yang sudah jadi, maka tidak diperkenankan untuk menambah kata-kata dalam apresiasinya. Lalu selayaknya sebuah film, ada visual di dalamnya dan iringan musik/backsound untuk mencipta suasana. Puisi sebagai produk sastra memiliki keunikan tersendiri. Tulisannya padat, sarat makna. Apresiasi terhadap puisi sangat dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman penikmatnya (apresiator). Masing-masing apresiator mungkin berbeda memaknai sebuah puisi. Bahkan bisa jadi, makna puisi sama sekali berbeda dengan maksud penulis puisi (penyair).

Dalam penggarapan film puisi, pemaknaan puisi sangat tergantung pada sutradara. Apresiasi sutradaralah yang kemudian hadir dalam wujud film puisi. Bagaimana dia mewujudkan apresiasinya ke dalam ranah audio visual dengan tidak menambah atau mengurangi isi puisi itu. Seperti musikalisasi puisi, hanya ada musik dan puisi. Aransemen mengikuti pemaknaan musisi terhadap puisi. Senandung yang diambil dari bait-bait puisi. Begitu pun film puisi, hanya memakai puisi sebagai alat. Sutradara hanya menggiring penonton mengikuti apresiasinya terhadap puisi. Sutradaralah yang bisa menjadikan film puisi berkesan artistik sekaligus puitik.

Setelah melihat beberapa hasil penggarapan film tentang puisi, di mataku film puisi itu cukup menampilkan gambaran visual yang ditangkap sutradara setelah membaca puisinya dan audio. Audio di sini adalah pembacaan puisi dengan dibantu latar musik sebagai pembangun suasana. Tentang penggunaan talent dalam film puisi menurutku ada 2 macam. Pertama, pembaca  puisi yang juga berperan sebagai talent. Kedua, memakai talent lain yang jumlahnya tergantung dari keperluan sutradara. Sedangkan teks puisi yang disyaratkan ada dalam tayangan film, dimuat secara penuh mulai judul, nama penyair dan tubuh puisinya. Puisi tersebut diletakkan pada kredit title film. Bisa di bagian pembuka atau penutup film. Jadi bukan semacam subtitle yang muncul di bawah tayangan mengiringi pembacaan puisi. Penayangan teks puisi seperti subtitle itu tidak perlu karena bukan fim yang dialognya diterjemahkan. Menurutku, meski pun puisi yang dibacakan berbahasa asing, tetap tidak memerlukan subtitle. Puisi itu dalam bahasa apapun (asing atau daerah) memiliki persajakan tersendiri ketika dibacakan.

Bagaimana dengan dialog? Adanya dialog menjadi ciri sebuah film layar lebar atau bentuk mininya adalah film pendek. Bila di dalam teks puisi yang dipilih ada semacam dialog, maka bila pembaca puisi tunggal, dia bisa membacanya seperti dialog. Bisa juga memakai dua pembaca puisi atau lebih. Yang jelas selama film berlangsung hanya ada tayangan film dan suara pembacaan puisi. Di  dalam film puisi tidak ada dialog sama sekali.

Misalnya film puisi berjudul “Hujan”. Aku ilustrasikan begini, saat film puisi dibuka… muncul di layar seorang perempuan yang sedang memandang hujan yang diiringi musik, lalu data film (judul, pemain dst) kemudian teks puisi “Hujan” .. terus aja tayangan film, terdengar suara pembacaan puisi diiringi musik sampai akhir film. Aku melihat tayangan film hasil apresiasi puisi. Menikmati puisi dengan bantuan audio visual yang dihadirkan oleh sutradara. Mungkin hanya angan-angan belaka.

Itulah film puisi di mata Helwatin Najwa, seorang penulis sekaligus penikmat puisi. Saat ini kegaduhan tentang film puisi memiliki 2 dampak. Pertama, dari para pegiat film akhirnya saya mengetahui bahwa memang belum ada referensi yang jelas tentang film puisi. Kedua, film puisi ini menjadi tantangan bagi insan sinema untuk menggarapnya. Bila kita masih belum menemukan referensi yang jelas tentang film puisi, mengapa justru bukan kita yang menjadi referensi. Bukankah referensi-referensi yang ada sekarang ini, dulu pun tidak memiliki referensi? Menjadi pelopor memang babak belur, sedang di belakang, menjadi pengekor hanya sedikit memperbaiki yang sudah meluncur.

Salam [email protected]

Facebook Comments