DARI beberapa sirah Umar ibn Khattab ra yang saya baca, barangkali buku The Great Leader of Umar bin Khattab karangan DR. Muhammad ash-Salabi adalah sumber yang cukup banyak bicara mengenai wabah yang menyerang Syam di awal penaklukannya. Wabah itu terjadi di tahun 18 H (yang berarti sekitar tahun ke-6 kekhalifahan Umar).

Ada sejumlah hal yang diperkirakan menjadi penyebab wabah saat itu, mulai dari sesuatu yang terbang di udara, halus dan tak terlihat, hingga penyakit yang menyerang darah. Wabah itu tidak benar-benar diketahui penyebabnya.

Wabah berawal dari Amwas, sebuah kota yang terletak di antara Quds dan Ramalah (berarti wilayah Palestina hari ini), dan dari kota itu wabah meluas ke antero Syam.

Mengacu pada nama kotanya, wabah itu dalam sejarah akhirnya dikenal sebagai Tha’un Amwas. Di antara sahabat yang meninggal karena Tha’un Amwas adalah Gubernur Syam sendiri, Al Amin al Ummah, Abu Ubaidah ibn al Jarrah, Muadz ibn Jabal, Suhail ibn Amr, dan Yazid ibn Abu Sufyan.

Wabah ini menelan korban jiwa hingga 20 ribu jiwa (di buku Tarikh Khulafa Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi disebut 25 ribu jiwa), setara separuh penduduk Syam saat itu.

Wabah ini bertahan beberapa waktu sebelum hilang sepenuhnya tanpa juga diketahui penyebabnya. Namun, hal tersebut boleh jadi buah dari penanganan wabah dengan tepat yang dilakukan secara top down  oleh Umar.

Saat wabah melanda, Umar bersama para sahabat melakukan kunjungan ke Syam menemui Sang Gubernur, Abu Ubaidah. Abu Ubaidah kemudian menemui Umar di Sargh, sebuah tempat sebelum Syam. Setelah mengetahui perkara wabah itu, Umar bermusyawarah dengan para sahabat lain mengenai perlu masuk atau tidaknya ia ke wilayah Syam yang dilanda wabah. Salah satu jawaban yang menguatkan tekadnya untuk tidak memasuki Syam datang dari Abdurrahman ibn Auf yang menyampaikan hadis mengenai larangan Rasulullah untuk masuk atau keluar dari wilayah yang terkena wabah. Atas dasar itu keluarlah kebijakan Umar melarang orang keluar masuk Syam. Ia juga memerintahkan orang-orang yang sakit dibawa menjauhi dataran rendah menuju wilayah pegunungan yang alam dan airnya tidak tercemar, dan udaranya lebih bersih.

Penanganan ini berhasil menahan wabah hanya di Syam, diceritakan bahkan tentara Romawi di luar Syam tidak mengetahui kondisi masyarakat Syam yang terpapar wabah. Wabah ini juga tak sampai menjangkau wilayah Hijaz, termasuk Mekah dan Madinah.

Apa yang dilakukan Umar sekarang barangkali bisa kita acukan pada istilah lockdown (saya akan menyebutnya karantina skala besar) yang dilakukan secara massif di seluruh kota Wuhan, belakangan Italia dan Denmark menyusul. Mereka menutup kota karena penyebaran virus yang tampak melanda kota secara merata. Sebuah bentuk penanganan yang efektif menghentikan penyebaran virus. Metode ini biasanya dilakukan ketika jumlah orang yang tertular virus semakin banyak dan tak terkendali.

Sebelumnya penanganan dilakukan dengan pengisolasian terbatas karena meskipun efektif, lockdown memang terasa sangat berat. Lockdown berimplikasi langsung pada geliat perekonomian, stabilitas sosial, dan menghentikan beroperasinya sejumlah instansi atau kegiatan vital. Penghentian Seri A Italia misalnya membuat penggemarnya di seluruh dunia misuh-misuh.

Selain implikasi di atas, pengisolasian, terlebih lockdown juga berekses negatif pada kondisi kejiwaan masyarakat, penderita maupun bukan. Dari apa yang saya baca terkait Tha’un Amwas juga adalah bagaimana para sahabat mengkondisikan mental penduduk Syam saat itu karena secara psikologis, kondisi itu berat bagi para penduduk. Wabah yang melanda adalah sesuatu yang tidak diketahui dengan persis apa penyebabnya, tak diketahui pula obatnya. Sesuatu yang asing namun mencengkeram rasa aman lantas mengempaskannya, menyebabkan ketidakpastian tentang hidup dan eksistensi kemanusiaan. Terlebih lagi mereka harus menjalani pengisolasian secara intensif.

Kita akan menemukan nasihat panjang lebar dari Abu Ubaidah dan Muadz ibn Jabal kepada keluarga dan penduduk Syam tentang bagaimana memperlakukan kematian, tentang apa yang penting bagi kehidupan, bukan kehidupan itu sendiri tapi apa yang kita siapkan menuju setelah kehidupan. Abu Ubaidah sebelum tertular wabah bahkan menolak saat diminta pulang ke Madinah oleh Umar. Ia mengatakan sebagai Gubernur Syam ia akan tetap di sana karena ia tak membenci Syam dan penduduknya.

Yang ingin saya butiri di sini adalah penting sekali pengendalian kondisi mental menghadapi Covid-19 yang sudah dinyatakan sebagai pendemi, terlebih jika pengisolasian baik skala terbatas atau bahkan lockdown diberlakukan.

Kondisi mental adalah kunci dari kestabilan kondisi fisik. Semua kajian kesehatan akan mengarah pada pentingnya jiwa yang tenang, bahagia, tidak cemas dalam rangka menjadikan tubuh secara fisik sehat, di samping asupan makanan bergizi, istirahat dan relaksasi, serta olahraga.

Berbeda dengan wabah yang melanda Syam di tahun 18 hijriyah di mana peluang sembuh bagi yang tertular sangat rendah, peluang sembuh Covid-19 tinggi dan seperti kita ketahui, keberhasilan penderita sakit akibat Covid-19 melewati masa sakit menuju kesembuhan terletak pada daya tahan dan kondisi kesehatan tubuh saat virus masuk, dan salah satu kuncinya adalah kondisi psikis.

Itu sebabnya saya suka dengan tulisan-tulisan Dahlan Iskan saat menyikapi Covid-19 sejak awal virus itu viral hingga ketika ia mulai memasuki Indonesia. Dahlan Iskan tidak menyangkal tapi juga tidak cemas. Optimismenya menular, dan harus saya akui, menenangkan.

Kita perlu kendali kecemasan macam ini karena panik tidak membawa kita kemana pun. Ingat berita WNA Korea di Indonesia bunuh diri gegara menyangka dirinya tertular virus itu? Atau gambar-gambar out of imagination tentang orang-orang yang menutupi dirinya mulai dari jas hujan, galon air sampai pembalut agar terhindar dari serangan virus. Baru saja kita mendengar ada pasien positif yang lari dari karantina. Belum lagi perilaku rasis terhadap ras mongolid yang melanda secara global.

Semua hal yang saya sebut di atas menjadi bukti hilangnya kendali kita atas kecemasan pada sesuatu yang tak bisa kita kendalikan. Hal itu jelas-jelas tak membantu kita mengatasi virus tersebut.

Maka saya merasa tak juga begitu salah ketika orang-orang merasa perlu untuk menganggap santuy virus ini. Menjadikannya akronim judul lagu dangdut, tetap membuat tik tok di keramaian (catatan: saya tidak suka tik tok), membuat lelucon dari virus ini seakan-akan ia berada pada dimensi yang berbeda dari hidup kesehariannya, atau bahkan tetap mengadakan konser (sampai artikel ini ditulis, Jamie Cullum dengan nekatnya masih menggelar tur album Taller keliling Inggris).

Saya bahkan agak setuju dengan Donald Trump ketika ia mengatakan bahwa flu biasa membunuh lebih banyak manusia tiap tahunnya daripada Covid-19. Maksud si Bapak Pirang ini adalah jangan panik, soalnya saya sedang siap-siap kampanye periode kedua. Hehehe. Yah, mungkin terdengar ganjil dan tidak menghargai keresahan yang ada, tapi paling tidak dengan itu barangkali kita sedikit lebih tenang, dan kita membutuhkan ketenangan itu saat ini.

Oh ya satu lagi, membawa wabah ini dalam perspektif yang lebih vertikal juga bukan sesuatu yang keliru. Oke lah hal itu tidak ilmiah, meski demikian, institusi-institusi ilmiah toh hingga saat ini belum bisa mengatasi virus asing tanpa vaksin itu, dan kesembuhan pun lebih banyak ditopang faktor internal pasien dan penanganan yang telaten di mana faktor-faktor non material dan non ilmiah juga berperan.

Dimensi vertikal yang saya maksud adalah paradigma yang membawa-bawa Tuhan dalam masalah virus ini, menyerahkan kendali nasib ke tangan Tuhan. Bahwa siapa yang Dia kehendaki terpapar virus takkan bisa mengelak meskipun seluruh dunia mencoba mencegahnya, pun jika Dia tak menginginkan sesiapa terpapar virus Covid-19, maka sesiapa itu takkan terpapar meski seluruh dunia mencoba memaparinya.  Bagi manusia dengan kondisi transpersonal yang bagus, hal itu justru niscaya. karena jika bukan pada Tuhan kita memasrahkan segalanya, lalu pada siapa?

Sambil tentu saja menguatkan usaha pencegahan, penanganan yang penuh komitmen dan usaha-usaha penemuan vaksin virus. Sebagai warga negara yang baik, kita juga perlu menuruti protokol-protokol pencegahan meluasnya penyebaran virus yang dibuat oleh pemerintah, mengingat potensi outbreak kita sebagai negara berpenduduk terbesar ketiga di dunia menyebabkan kita begitu rentan. Siaga iya, panik dan cemas jangan, demikian kiranya.

Semoga dengan usaha-usaha itu, titik berhenti penyebaran virus ini akan tercapai. Sambil tidak lupa untuk tetap berbahagia, semoga kita bisa.

Wallahua’[email protected]

Facebook Comments