apalah artinya renda-renda kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apalah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan?
kepadamu aku bertanya…
BAIT-bait terakhir Sajak Sebatang Lisong yang dibacakan WS Rendra pada Agustus 1977 di ITB rupanya mendapat jawaban dalam aksi panggung Kelompok Halilintar lewat lakon Prahara Kampung Tatah Basah.
Menjadi salah satu penampil dalam Festival Teater Bahasa Banjar (FTBB), Halilintar tampil Sabtu (24/10) sore. Berkisah tentang kegelisahan masyarakat agraria di kawasan batang banyu (daerah aliran sungai, atau rawa pedalaman).
Warga mendengar selentingan kabar, kepala desa telah main mata dengan pengusaha untuk mengubah lahan pertanian menjadi kebun sawit dan kawasan permukiman baru.
Kepala desa dan pengusaha meminta warga menjual tanah mereka. Selain iming-iming ganti rugi, juga menawarkan perubahan nasib orang-orang kampung: jadi orang gajian di kebun.
“Kada lagi buhan pian bahuma atau manjatu buah buahan lawan sayuran, kada lagi jua buhan pian malunta, marengge, manjabak, lawan maulah purun,” bujuk penguasa.
“Ulun jamin seberataan urang kampung nang memanuhi syarat kawa bagawi di kabun sawit nang pancang dibuka kaina,” rayu pengusaha.

Tetapi, tidak semua warga terbujuk. Banyak malah khawatir; ruang hidup mereka akan terancam. Paling kencang bersuara adalah grup emak-emak.
“Pahumaan kita pacang hilang.“
“Baruh kita pacang hilang. Ka mana lagi Ulun mancar purun hagan maulah tikar wan bakul.“
“Ka mana jua Ulun mancari haruan, papuyu, sapat, saluang lamun pahumaan baruh ngitu kadada.”
Warga pecah dalam tiga kelompok: setuju, menolak dan netral.
Singkat cerita, ketika warga yang menolak melakukan protes di kantor kepala desa, pecahlah huru-hara. Korban bergelimpagan. Seorang warga yang selamat bercerita kepada rekannya, semua sudah berada dalam genggaman penguasa-pengusaha, mereka dipukul mundur.
“Buhan jagau lawan tukang hantamnya liwar banyak, balum lagi dadukunannya, samunyaan ada di ganggamannya.”
Kisah berakhir ketika polisi bergerak menangkap warga yang bersuara paling keras menolak lahan pertanian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan permukiman baru dengan semua fasilitasnya yang modern.
“Saudara kami tangkap atas tuduhan menjadi provokator kerusuhan di kantor pambakal.”
Lampu padam…
***
Bukankah kisah di atas menjawab kegelisahan WS Rendra tentang penyair-penyair salon yang bersajak anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya?
Nyaris setengah abad, ketika Rendra berdeklamasi di hadapan cahaya obor mahasiswa. Tetapi bukankah derita lingkungan, masalah kehidupan—rakyat terusir oleh relasi kuasa masih terus terjadi. Dan Halilintar menolak menjadi bagian dari jidat penyair salon?
Namun jika demikian harusnya berkesenian, berat sekali rupanya beban teater sebagai seni panggung? Lalu di mana letak keindahannya?
MUNGKIN DI SINI
Sebelum penonton mengisi bangku Balairung Sari, kru panggung Halilintar sibuk mengangkut berkarung-karung jerami. Lalu disebar di atas panggung, lebih tinggi dari mata kaki, aroma kering menguar dari sana, bergerisik ketika kaki-kaki melintas di atasnya.
Selesai, layar mereka tutup. Para penonton dipersilakan masuk.
Dan ketika layar terbuka, di atas panggung belasan remaja dan pemuda dalam busana khas pehumaan berdiri dengan ekspresi ketat. Musik mengalun dalam kompossisi yang kompleks—modern tetapi diselingi bunyi-bunyian tradisional khas Banjar.
Berada paling depan, seorang anak berusia lima tahun ikut dalam barisan.
Dan tiba-tiba mereka bernyanyi. Semacam paduan suara. Bergerak ke kanan dan kiri panggung, bagai gelombang irama. Suara mereka, bahasa tubuh, mereka mencitrakan lirik lagu:
tanah banyu
tanah kami
tanahnya urang bahari
Entah karena musiknya, entah karena ekspresi, bahasa tubuh, atau gerak komposisi padu padan mereka; panggung telah mereka buka dengan atmosfer yang ketat.
Tanah banyu—tanah kami—tanahnya urang bahari.
Seakan mantra, berkali-kali lirik itu mereka ulang-ulang.
Puncak mantra, mereka bergerak mengepalkan tangan, bergetar-getar dalam luapan emosi. Sorot mata mereka, tajam ke depan.
Seperti sebuah kesatuan. Seperti lidi dalam sapu. Disentak keras di udara. Memecut energi panggung. Pemain termuda, Nena, berusia lima tahun lebur di dalamnya.
“Di atas panggung, sesuai arahan sutradara, yang kami lakukan sekadar berbagi energi,” kata Nada Kamilah, salah satu aktor.
Cerita tidak dikembangkan sekadar lewat teks dialog, atau kekuatan karakter psikologis tokoh, sebagaimana yang biasa kita lihat dalam teater drama. Namun para pemain juga bergerak ke dalam eksplorasi ruang, panggung terasa hidup dan bergerak.
Sebagai ilustrasi, ketika emak-emak bermusyawarah, mereka tidak berdialog, tetapi berputar-putar dalam lingkaran. Kepala setiap orang naik turun bergantian di dekat telinga rekannya. Melahirkan semacam suasana ketegangan yang artistik.
Lalu di tengah perdebatan antara warga yang berhadapan dengan penguasa dan pengusaha, di antara kesibukan belasan pemain di atas pangung, karakter nelayan pair (teknik memancing ikan gabus khas Kalimantan Selatan menggunakan bambu panjang tiba-tiba muncul dengan cerdas membingkai wajah agraris Banjar lewat tingkahnya yang komikal.
Halilintar mengingatkan kita apa itu teater panggung. Banjar tidak hadir hanya dalam dialog, tapi dalam semua unsur teaternya itu sendiri. Halilintar membawa laku teater tradisional ke dalam pementasan modern.
“Kalau Anda bilang pentas kami mengobati kerinduan Anda akan teater panggung lewat kelenturan ruang dan gestur, memang apa yang kami lakukan di atas panggung sebenarnya juga merupakan bentuk kerinduan kami, dengan misalnya, gaya teater tradisional seperti Japin Carita,” ungkap sutradara, M Furkoni.
Keintiman komunitas yang menjadi kelebihan teater tradisional mereka perlihatkan lewat interaksi jenaka antara pemain di atas panggung dengan satu-satunya pemain musik: tukang catuk babun.
“Ai, makan haja, kah, gawain tukang babun nih!” ejek seorang pemain melihat mulut tukang babun penuh dengan kue.
Pun pemain juga melempar tanya kepada penonton:
“Amun pahumaan kita ni hilang diganti akan lawan kabun sawit atau parumahan, kita pang handak bagawi apa?”
“Bujuuur!” sahut beberapa penonton.
Selama tiga bulan mereka berlatih mementaskan naskah karangan almarhum Andi Sahludin. Naskah tersebut dipilih sebagai bentuk kegelisahan seniman melihat banyak ruang hidup masyarakat yang terpinggirkan oleh kepentingan bisnis elit.
“Kita tentu tidak bisa menutup mata dengan realitas yang ada di masyarakat,” katanya.
Hanya saja, musik mereka banyak memakai bantuan AI. “Sekadar memanfaatkan teknologi. Lirik kami buat sendiri. Ternyata tidak gampang juga dengan AI, berkali-kali hasilnya tidak sesuai, masih lebih muda membuat sendiri musiknya,” tutup Furkoni.@





























