ARUH Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XV 2018 di Kotabaru sudah di depan mata. Perhelatan terakbar sastra tahunan di tanah Banjar ini digelar 6 – 10 November 2018. Sejumlah agenda jauh hari telah dimulai, seperti lomba penulisan cerpen, penulisan puisi, dan film puisi. Tinggal nanti pada hari pelaksanaan, para pemenang diumumkan, dan menerima hadiah. Rangkaian kegiatan lainnya; pementasan, seminar, serta kemah sastra, akan berlangsung selama dua hari.

Jadwal ASKS XV secara umum memang dimulai pada tanggal 8 November, sekaligus pembukaan. Dua hari sebelumnya merupakan kegiatan internal tuan rumah, Kotabaru, yang menggelar sejumlah lomba untuk para pelajar setempat. Jadi, para peserta dari seluruh wilayah kabupaten dan kota diperkirakan baru akan berdatangan pada tanggal delapan itu.

Sudah 15 tahun. Ya, untuk sebuah acara rutin, itu lebih dari cukup membuat ASKS menjadi sebuah event bergengsi. Realitanya memang sudah, setidaknya untuk lokal Kalimantan Selatan sendiri—bahkan itu telah terbangun sejak tahun-tahun awal pelaksanaan.

Ibarat seorang anak manusia, usia 15 tahun berarti sudah beranjak remaja, pikiran dan jiwanya akan semakin bebas, mulai mengharapkan suatu petualangan baru, menantang, dan mendebarkan. Sementara itu, beberapa jejak langkahnya telah memberikan bekas dan kenangan yang mungkin memang selayaknya untuk dikenang dan dibanggakan.

Jika ada yang bertanya, apakah ASKS memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan kesusastraan di Kalimantan Selatan, tentu harus dijawab, “Ya”. Paling kecil, atau “seburuk-buruknya”, ASKS menandakan bahwa di Banua ini ada kegiatan sastra yang dilaksanakan secara besar, luas, dan menampung banyak karya (lewat pengumpulan buku antologi puisi bersama seluruh penulis atau penyair Kalimantan Selatan). Termasuk juga telah banyak menghadirkan sastrawan dari luar provinsi, baik sebagai pembicara, penampil, maupun peserta partisipan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah dampak terhadap kualitas karya?

Tentu jawabannya bisa debatable. Namun, kita bisa melihat langsung pada karya-karya yang diciptakan yang memang berkaitan khusus dengan ASKS; mulai dari puisi, cerpen, maupun novel, terutama yang diperlombakan. Atau untuk ASKS XV 2018 ada yang baru, yakni Film Puisi.

Cara mengukur sebuah karya berkualitas atau tidak, ada banyak parameternya. Karya juara bisa saja otomatis berkualitas—kendati juga bisa tidak sesuai standar yang diharapkan, hanya karena lantaran memang harus ada yang juara di antara karya peserta yang diseleksi  atau dilakukan penjurian.

Pengujian lainnya adalah dengan mencoba “melemparkan” karya itu ke khalayak (pembaca) yang lebih luas. Dan ini sudah dilakukan sebagian penulis yang telah berhasil memenangkan lomba, terutama lomba penulisan novel.

Novel “Sekaca Cempaka” karya Nailiya Nikmah yang menjadi pemenang ketiga dalam Lomba Penulisan Novel pada ASKS X 2013 di Banjarbaru, berhasil menembus penerbit mayor grup Elexmedia dan diterbitkan serta didistribusikan di toko-toko buku seluruh Indonesia.  Sedangkan novel “Racun” karya Muhammad Bulkini, dan novel “Kasyaf” karya  Ananda Perdana Anwar—masing-masing merupakan pemenang pertama dan pemenang kedua pada lomba yang sama, nyaris juga diterbitkan oleh penerbit mayor. Namun karena beberapa hal, menurut pengakuan keduanya—di luar kualitas karya, kedua novel itu tidak jadi diterbitkan.

Bagaimana dengan puisi dan cerpen?

Mungkin secara langsung kita tidak melihat para pemenang Lomba Puisi dan Lomba Cerpen ASKS namanya atau karyanya langsung berseliweran di media atau koran-koran nasional, atau dibukukan oleh penerbit mayor. Tetapi, kita tahu, sejumlah karya penulis Kalsel dalam sepuluh tahun terakhir cukup banyak yang berhasil menembus koran sekelas Kompas, misalnya—bahkan termuat di dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, yang untuk tahun 2017 ada nama Rika penulis asal Banjarbaru.

Atau juga sukses terpilih mengikuti event sastra internasional, sebut saja yang paling bergengsi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) Bali—yang di tahun 2018 ini penulis asal Rantau, Pratiwi Juliani lewat kumpulan cerpennya Atraksi Lumba-Lumba (yang kemudian diterbitkan KPG), terpilih sebagai satu dari lima penulis Indonesia yang diundang ke sana. Dan ini menambah nama penulis Kalsel yang pernah merasakan gebyar salah satu event sastra terbesar di Asia ini.

Apakah capaian-capaian para penulis Kalsel itu ada kaitan atau merupakan dampak dari ASKS?

Secara langsung mungkin tidak. ASKS barangkali adalah sebuah tungku bara—yang seberapa pun redup pijarnya, tetap ada denyar untuk sedikit memberi hangat pada kesusastraan Kalsel sepanjang tahun. Lantas, mengapa bara itu tidak dikipas agar semakin merah dan menyala?—plis, jangan bayangin kayak tukang sate.

Serius. Event tahunan ASKS ini semestinya menjadi bara yang memanaskan kesusastraan Kalsel sepanjang tahun. Dan itu perlu sesuatu hal menjadi kipasnya, salah satunya (memang sudah dijalankan) yakni lomba. Hanya saja, lomba yang diikuti pada ASKS ini bisa saja dikerjakan pas menjelang deadline, sehingga hanya menjadi karya dadakan. Seperti lomba menulis puisi dan cerpen.

Perlu sesuatu yang lebih kuat dari itu. Seperti lomba penulisan novel yang sejauh ini baru dilaksanakan pada dua kali ASKS (Banjarbaru 2013 dan Kandangan 2017)—belum menjadi agenda tetap. Semestinya, lomba penulisan novel ini harus menjadi salah satu pokok ASKS yang tidak boleh tidak ada. Agar setiap tahun, para penulis selalu bersiap-siap mengikuti lomba ini—dengan hadiah yang seharusnya sanggup tidak bisa membuat tidur nyenyak para penulis sepanjang tahun.

Selain novel, lomba lainnya yang juga perlu digelar dengan persiapan matang, bukan dadakan, adalah Lomba Manuskrip Buku Puisi. Penyair yang ingin mengikuti lomba atau sayembara ini sudah pasti harus bekerja serius, menulis atau mengumpulkan puisi demi puisi sepanjang tahun agar bisa menjadi sebuah manuskrip untuk diikutsertakan. Dan pemenangnya, selain mendapatkan hadiah uang tunai—juga sanggup membuat tidak bisa tidur nyenyak sepanjang tahun, manuskrip buku puisi itu dicetak atau dibukukan. Dan pada hari pelaksanaan ASKS akan dilakukan peluncuran dan diskusi bersama novel pemenang.

Saya kira, dengan Sayembara Menulis Novel dan Manuskrip Buku Puisi ini saja, akan banyak penulis atau penyair Kalsel yang semakin serius berkarya—tidak sekadar dadakan, dalam sepanjang tahun, hingga nanti bertemu lagi pada Aruh Sastra tahun berikutnya dengan bara yang terus [email protected]

Facebook Comments