Apa bedanya teater dan film? Di film, selebar apa pun layarnya, mata kita tetap digiring kamera, ke mana sudut pandang membawa. Di teater, mata bebas berkelana. Kita bahkan boleh mengabaikan akting dan menatap ke titik lain. Tata panggung, misalnya.

ITULAH yang sejenak saya rasakan saat menonton pertunjukan teater “Penjaga Batas”, Sabtu (24/10/2026) sore. Naskah karya Muhammad Irwan Aprialdy itu dibawakan KS3B Kalsel. Sudah diedit dari aslinya untuk menyesuaikan Festival Teater Berbahasa Banjar (FTBB) II 2026.

Mata saya sempat lama mengedar ke seisi panggung yang berpendar sorot cahaya. Rumpun hijau terpancang di tengah. Tingginya nyaris menyentuh deretan lampu. Di sela batangnya terselip bilah kayu miring. Akar? Dahan roboh? Entahlah.

Di sisi kanan ada rumah panggung kayu di atas tiang. Ada tangga kecil. Juga pagar balok. Dan ada jendela yang ditutup dua bilah papan.

Lampu biru dingin jatuh dari atas, menyapu dedaunan. Rumahnya cokelat hangat.

Tokohnya Irham, lelaki tua penjaga hutan mangrove di tepian Sungai Barito. Adiknya, Sabran, mendesak agar hutan itu jadi tambak ilegal. Di saat yang sama Irham harus melindungi Nilam, menantunya yang sedang hamil dan dititipkan padanya karena ada ancaman.

Panggungnya benar-benar mencuri adegan. Bukan menyepelekan aktingnya. Namun, kupikir tata panggung itu menunjang jalannya cerita. Dalam bahasa lain, latarnya terkesan hidup.

Arahan panggung di naskahnya sudah sangat visual. Pedalaman mangrove. Rumah kayu ulin di tengahnya. Jukung lapuk tertambat.

Rumah itu bukan hanya tempat berlindung. Dalam dialog, Irham bilang ia membangunnya seperti Nabi Nuh membuat kapal, menancapkan tiap batang ulin dengan keyakinan bahwa Tuhan punya rencana. Jadi rumah itu bahtera. Bahtera kecil di tengah hutan.

Di panggung, bahtera itu bersebelahan dengan rumpun pohon yang rimbun. Yang rapat dan tertutup bertemu yang rimbun dan bernapas. Kontrasnya tajam.

Saya menduga, pohon-pohon itu pohon asli. Ditata sampai penonton merasakan berada di hutan mangrove. Jenisnya tak bisa saya pastikan dari foto. Gila juga. Bahan hidup bisa layu di bawah lampu. Bisa berbau dan mengubah udara ruangan. Mereka nekat!

Lalu jendela itu. Di akhir adegan senja, Irham berkata, “Kita palang jendela wan pintu, Nilam”, karena malam itu banyak yang hendak bersuara.

Papan-papan palang rumah itu miring dan tak rapi, seperti dikerjakan terburu-buru. Persis rumah orang yang hidup sendirian dan tak memiliki tamu.

Kekuatannya ada pada nyali. Pohon sungguhan, lampu biru dingin di atas hijau, rumah cokelat hangat yang tertutup. Ruang yang dihadirkan sudah bercerita sebelum dialog dimulai.

Untuk akting, penyutradaraan, dan musik juga bolehlah dikasih jempol. Suara burung dan serangga, datang entah dari mana, menghidupkan suasana yang gelap dan lembab.

Kenapa ia juara 1? Tata panggungnya jawaban paling gampang. Bukan satu-satunya jawaban. Ceritanya kuat, karakternya juga. Namun, tata panggungnya aduhai. Lagipula, saya tidak melihat lembar penilaian juri.

 

Kehidupan tepi sungai yang dihadirkan di atas panggung oleh

Kampung di Atas Ilung

Pertunjukan kedua berjudul “Badiri Tahantuk, Baduduk Tahantak”, naskah karya Muhammad Nashrullah, dibawakan Sanggar Bahana Antasari. Judulnya paribasa Banjar. Artinya, berdiri terbentur, duduk terhentak. Serba salah. Pilihan apa pun tetap kena.

Ceritanya tentang Madan dan Bayah, pasangan di tepian sungai di Banjar. Pembangunan jalan dan jembatan baru mengancam rumah dan jukung yang mereka rawat. Tetangga, bahkan istrinya sendiri, mulai meragukan bahwa sungai itu masih layak dijaga.

Menurut, naskahnya yang saya baca, latar spesifiknya di tepi Sungai Martapura. Ada jembatan kayu penghubung antar rumah, siring dari kayu galam sebagai penanda kampung yang dibangun tangan warganya sendiri. Warga mencuci di pinggir sungai, memperbaiki jukung, membuat kayu tungkul untuk dijual.

Dua rumah kayu berdiri berdampingan di atas panggung rendah. Dinding papannya lusuh. Lantai di depannya tertutup ilung, dengan serasah daun kering di tepinya. Hamparan itu jadi permukaan sungai. Palet-palet kayu di atasnya jadi titian.

Di sudut kiri depan, perempuan berjilbab oranye duduk mencuci di atas palet, ditemani ember. Di kanan, seorang lelaki mengerjakan jukung abu kebiruan bergaris merah. Perempuan mencuci, lelaki memperbaiki perahu. Khas kehidupan orang Banjar di bantaran sungai.

Untuk akting, dialog berbahasa Banjar, dan tempo pentas, juga menarik. Ceritanya rapi. Namun, kata teman saya yang duduk di sebelah saya, terlalu banyak yang mau disampaikan. Konfliknya berlapis. Belum selesai satu, ada konflik lain.

Juara 2? Saya tidak akan berdebat. Keduanya memiliki kekuatan lewat tata panggung yang, dalam bahasa anak muda kini, effort banget. Tentu, kita tak bisa mengabaikan aspek lainnya.

Intinya, keduanya mengangkat tema perlawanan. Di Penjaga Batas, mangrove melawan tambak ilegal. Di Tahantak, rumah di pinggir sungai melawan jalan dan jembatan baru. Menurut saya, David Fincher mungkin orang yang cocok jika naskah ini dialihwahanakan jadi film. Mungkin.. 

Tahantak sendiri membentang ke samping. Dua rumah berjajar, ilung di depannya, ruang gerak melebar. Rasanya komunal, tempat tetangga bertemu dan bersitegang.

Soal panggung yang hidup sudah lama diributkan, jauh sebelum Banjarmasin kebagian sore itu.

André Antoine, pendiri Théâtre Libre di Paris (1887), dikenal membawa benda nyata ke panggung. Ceritanya yang sering dikutip adalah potongan daging asli dalam lakon Les Bouchers (1888). Pohon asli di Penjaga Batas mewarisi dorongan itu.

Richard Schechner, dalam Environmental Theater (1973), menekankan ruang pertunjukan yang melingkupi penonton, bukan cuma bingkai di depan mereka. Pohon dan ilung yang menghampar sampai ke tepi panggung bergerak ke arah itu.

Juara itu urusan juri. Juri tidak menilai tata panggung saja. Akting, sutradara, dan naskah ikut bicara, tetapi panggung juga bisa ikut bermain. Dan kalau ia sudah bermain dengan baik, aktor tak perlu menjelaskan banyak.

Embie C Noer pernah berujar bahwa teater berbahasa daerah itu seperti teater pulang kampung. Semula saya tak paham maksudnya. Ia tak menjelaskan apa arti “pulang kampung” itu. Jadi saya menduga-duga, dan dugaan saya ada dua.

Pertama, bahasa daerah adalah pengingat identitas lokal. Di atas panggung, ia mengingatkan kita dari mana kita berasal.

Kedua, visual pentas menarik penonton ke wahana nostalgia. Kita membayangkan kampung halaman yang dulu, yang mungkin kini sudah hilang digilas laju modernitas.@