asyikasyik, LIPUTAN KHUSUS-Saat melintasi Taman Van Der Pijl, saya mendengar suara kendang, terompet, dan gong menyentak-nyentak telinga, pagelaran Reog sedang berlangsung di sana, riuh orang-orang berkumpul di bawah langit mendung. Tujuh ratusan lebih orang-orang dari berbagai kelurahan dan wilayah berkumpul dalam suasana mistis menyaksikan 8 reog dari berbagai paguyuban se-Kalimantan Selatan menunjukkan kebolehannya kemarin malam (15/4). Ya, Reog-reog berkumpul menyuarakan aksi protes seperti yang dilakukan di daerah lain terkait pemberitaan reog yang diklaim Malaysia.

Reog Ponorogo diubah namanya menjadi Barongan dan akan dimasukan sebagai warisan budaya Malaysia ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Reog-reog berkumpul di Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan yang baru hingga larut malam ditemani semilir dingin angin dan rintik gerimis yang menyeringai.

Berjarak enam menit berjalan kaki dari Balai Kota Banjarbaru yang berada tepat di seberang sana, di sebelah kerumunan massa yang menikmati malam syahdu di Murdjani, saya duduk seorang diri membaca novel-esai Bangku Panjang yang ditulis oleh Iberamsyah Barbary.

Saya didekap gigil. Malam itu gerimis membasahi kota. Mingguraya, tempat saya menyesap kopi hitam, dipenuhi orang-orang yang memilih mangkir dari romantisme hujan.

Mingguraya, ah, bilamana bicara soal tempat ini, saya merasa ia bukan lagi sekadar wadah kumpul seniman, ia menjelma menjadi puisi itu sendiri: setiap gerak kecil, bahkan sekadar perpindahan segelas kopi pun bisa dilihat sebagai puisi; event-event berskala besar diadakan saban tahun—event-event kecil jangan ditanya lagi; tempat kumpul seniman baik yang berasal dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan secara umum, atau bahkan dari luar provinsi bilamana datang ke Banua. Dan sebuah tempat, sebagaimana seorang manusia, pastilah punya sejarahnya sendiri. Tempat ini telah lama menjadi sebagai wadah seni budaya sejak tahun 1970-an. Maka tak salah, sebagaimana yang saya katakan tadi, tempat ini puisi, atau barangkali seniman yang lebih seniman dari banyak seniman yang mati dini diterjang waktu. Kita tahu belaka, ada banyak tempat kumpul seniman, tapi tak banyak yang bertahan hingga segini lama. Mengapa Mingguraya—bukan, ini bukan pertanyaan yang tepat, sebab nyatanya di kota ini Mingguraya bukan satu-satunya tempat kesenian tumbuh mekar, maka pertanyaan lebih jelasnya—mengapa Banjarbaru berbeda?

Beberapa hari setelah malam gerimis di Mingguraya tersebut, saya duduk di ruang Stadio Mini Perpustakaan Banjarbaru untuk membedah novel-esai Iberamsyah Barbary. Acara itu sungguh sakral bagi saya, selain harus berbicara menyoal buku tersebut, saya juga mesti bicara di hadapan banyak orang. Saya tak ingat siapa nama orang-orang yang datang, yang jelas mestinya di hadapan saya itu turut pula duduk Wakil Wali Kota Banjarbaru, Bapak Wartono. Saya gugup setengah mampus ketika tahu bahwa beliau akan datang dan, harus diakui, sedikit bersyukur sebab pada detik-detik terakhir ada kesibukan yang memaksanya untuk membatalkan langkah. Tapi katakanlah hari itu beliau tak ada kesibukan dan duduk bersama kami semua. Sungguh mengharukan betul—terutama bagi saya yang notabene pendatang di Banjarbaru. Memang, ini mungkin perkara remeh belaka, tapi seorang pejabat publik datang ke acara seni (bedah buku pula) bagi saya jelas merupakan angin segar untuk kesenian kota itu sendiri.

Memang, jika dilihat sepintas-lalu, seni dan budaya mungkin tak begitu banyak berpengaruh terhadap suatu kota. Makanya banyak orang abai dengannya, termasuk juga beberapa pejabat publik. Ia semata gawian yang datang dari segelintir individu kesepian. Dipamerkan sebagai hiburan dari panggung ke mimbar kesenian, dari buku ke layar tancap, dari kanvas ke musik, dan sebagainya. Kota mungkin perlu hiburan, tapi ia tak penting-penting amat untuk membikin jalan mulus, pembangunan dan kebijakan publik lainnya. Begitulah banyak orang salah kaprah memandang seni, seolah seni semata perkara pelarian dari penat hidup menjengkelkan.

Harus diakui, seni memang hiburan, dan seniman tak lain merupakan seorang penghibur.

Tapi seni, apapun jenisnya, jelas berguna bagi pikiran manusia di dalam kota itu sendiri. Seni membentuk karakter yang baik, karakter manusia yang baik membentuk karakter kota yang baik, karakter kota yang baik akan menghasilkan segala sesuatu yang juga baik.

Lain daripada itu, seni juga bisa jadi alat untuk berkomunikasi dengan pejabat publik. Ia ekspresi diri tak terbatas. Segala yang luput dari pantauan pejabat ditangkap dalam layar atau kata-kata. Ditulis dan dipanggungkan pada khalayak ramai. Ini tentu berperan penting bagi kebijakan publik bilamana ekspresi diri itu dilihat langsung oleh pemangku kebijakan. Sehingga hal-hal yang disuarakan lewat karya tidak berhenti di karya itu sendiri, ia bisa mengubah banyak hal, lebih dari sekadar hiburan bagi manusia-manusia kurang hiburan. Di sanalah letak pentingnya pejabat publik bersinergi dalam membangun kota bersama seniman.

Lewat novel-esai Iberamsyah Barbary, yang mencatat sejarah panjang Mingguraya, saya tahu bahwa pejabat publik Banjarbaru dan jajarannya bukan sekadar datang dan pergi ke acara seni. Mereka rela duduk diskusi ke tempat kumpul seniman, membuka pintu lebar untuk kedatangan pelaku seni yang acapkali membawa masalah masyarakat ke meja kerja. Mengapresiasi, mendukung aktif penerbitan buku atau event kesenian, dan ikut terlibat dalam ruang-ruang ekspresi diri secara langsung.

Saat saya menulis ini, saya duduk di sebuah kafe di Banjarbaru, kota lagi-lagi basah, jalan ramai tiada ampun. Di hadapan saya dua puluhan orang asyik mendengarkan Abdurrahman Muda Sagala memaparkan retrospektif Muara Liang Anggang-Landasan Ulin, sebuah refleksi yang pernah dan sedang terjadi di dua kawasan tersebut.

Sebuah acara seni lainnya, di pusat kota, hiburan—katakanlah seperti itu—tumbuh bersama masyarakat dari waktu ke waktu. Dan begitulah, saya rasa, jawaban sederhana dari pertanyaan soal mengapa Banjarbaru berbeda, mengapa seni dan budaya berkembang pesat di kota [email protected]

Facebook Comments