Ganteng, kaya, pintar, dan saleh. Apalagi? Itu sudah lebih dari cukup apa yang bisa diharapkan (dari) seorang pria. Dan celakanya, itu katanya ada pada diri seorang Sandiaga Uno, Cawapres pasangan Capres Prabowo. Kok celaka? Iya, itu bila dipandang dari kacamata para pendukung Jokowi. Setidaknya bisa menjadi ancaman berbahaya dalam perebuatan suara kaum perempuan dan emak-emak pada Pilpres 2019 nanti.

Dalam postingan di media sosial, banyak sekali foto dan tulisan yang menggambarkan tentang “kesempurnaan” sosok Sandiaga ini.  Terutama soal kegantengannya, yang memang dimaksudkan untuk memancing emak-emak agar jatuh hati, dan selanjutnya nanti diharapkan menjatuhkan pilihan kepada Sandi yang otomatis juga memilih Capres Prabowo.

Benarkah Sandiaga memang “sesempurna” itu?

Jika saja tidak ada yang tahu “cacat”, andai memang ada, dari seorang Sandiaga, bahkan sekalipun orang dekatnya, maka sesungguhnya Allah Maha Tahu. Barangkali, siapa tahu, mungkin saja Sandi mendengkur keras kala tidur. Atau mungkin suka mengorek upil bila sedang sendirian di meja kerja. Hanya saja Allah menutup aibnya itu.

Tenang. Kita harus ingat, dan yakin, bahwa “tidak ada manusia yang sempurna”, sama halnya “tak ada gading yang tak retak”. Sekalipun itu Sandiaga Uno. Sekalipun dia digambarkan sebagai suami yang setia—bagian ini yang mungkin paling banyak bikin gemes dan penasaran. Kok bisa ya; udah ganteng, kaya, pintar, saleh, plus setia pula.

Sandi seolah telah melampaui sosok pria idaman nan sempurna yang divisualisasikan di dalam film-film, sebut saja Si Boy dalam Catatan Si Boy (tahun 80-90an), atau Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 (tahun 2017).

Kita tahu, banyak penonton yang nyinyirin sosok Fahri di dalam film Ayat-Ayat Cinta 2. Dia dianggap terlalu sempurna bagai malaikat. Pokoknya susah ditemukan manusia macam itu dalam kehidupan nyata. Okeh. Perlu kita sadari, ada perbedaan yang mendasar dalam kehidupan nyata dengan dunia rekaan atau fiksi semacam novel dan film. Di dalam kehidupan nyata, orang sangat berharap dapat memiliki kehidupan yang sempurna, misalnya; jatuh cinta dengan seseorang yang dicintai, lalu kawin, sejahtera, tanpa ada gonjang-ganjing yang berarti, hidup bahagia hingga beranak pinak. Namun, perlu diketahui, kisah romance seperti itu tidak bakalan menarik jika terdapat di dalam sebuah cerita novel atau film.

Di situlah letak “kekurangan” dari sosok Fahri di dalam novel atau film Ayat-Ayat Cinta 2. Tanpa cela. Orang menjadi risih, dan seakan menjadi seorang yang begitu berdosa dihadapkan pada sosok Fahri. Orang tetap mengharapkan ada cacat atau ketidaksempurnaan dalam  tokoh utamanya. Tidak hitam putih.

Lantas, bagaimana dengan Sandiaga Uno? Yang sejauh ini tampak sempurna, bahkan melebihi Fahri. Di sinilah bedanya. Sandiaga Uno adalah sosok nyata, orang tidak bisa protes apa yang ada dan apa yang terlihat pada diri Sandi. Terkecuali dia adalah fiksi, maka “kesempurnaannya” itu akan menjadi “kecacatannya”.

Dan sesungguhnya, “kesempurnaan” itu memang bisa juga menjadi “cacat”, ketika orang memilih hanya melihat apa yang tampak dari luar– meski itu juga alasan yang logis, ketimbang mempertimbangkan kemungkinan apa yang terjadi apabila dia menjadi capres.

Tapi, Kok ada ya manusia seperti itu…? Ya, bisa aja. Namun tetap ingat, bahwa “tidak ada manusia yang sempurna”. Yakin saja itu.

Baiklah. Tahu kan, kutukan godaan dunia yang paling abadi, yang akan terus berlaku hingga akhir zaman? Ya, “Harta, Takhta, dan Wanita”.

Sekarang, coba kita hubung-hubungkan dengan sosok Sandiaga Uno. Dan untuk meringkas tulisan ini, anggap saja Sandi telah selesai dengan urusan harta. Dia sudah lebih dari hanya sekadar kaya. Menurut Majalah Globe Asia, 2018, nilai hartanya 4.3 triliun rupiah. Coba, untuk apa lagi dia korupsi? Meski memang, ada saja yang telah memiliki kekayaan dan sekaligus kedudukan (takhta) namun tetap korupsi. Tapi, boro-boro korupsi, gaji dia selama menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta saja diinfaqkan—ini sama sekali bukan tipikal seorang koruptor yang sudah pasti serakah.

Soal takhta atau jabatan, barangkali juga bukan sesuatu yang menjadi obsesi dalam hidup Sandi. Andai dia ingin hidup tenang dan bahagia, apa yang diperolehnya sebelum terjun ke politik sudah lebih dari cukup. Walaupun memang, kita tidak tahu pasti apa yang tersembunyi di bilik hatinya. Benar, ada banyak orang yang memang sudah memiliki kedudukan terhormat dan kaya sebelum terjun ke dunia perpolitikan. Dan pilihan itu, wajar-wajar saja, bukanlah sesuatu yang najis.

Sandiaga Uno sendiri rela melepaskan jabatan Wakil Gubernur DKI untuk maju sebagai Cawapres dalam Pilpres 2019. Memilih menjadi Cawapres, bisa saja dianggap sebagai “godaan”, tapi tidak bisa juga sepenuhnya dipandang begitu. Sebab dia tidak otomastis menjadi wakil presiden, jabatan itu tidak diberikan begitu saja, melainkan harus diperjuangkannya sampai nanti pemilihan. Sementara, dia sudah pasti kehilangan jabatan Wagub DKI.

Selanjutnya, bagaimana dengan “wanita”?

Dia disebut-sebut sebagai seorang suami yang setia. Bahkan ketika dalam acara Hitam-Putih, ketika Deddy Corbuzier melontarkan pertanyaan “Apa 3 hal yang paling penting dalam hidupnya,” dan harus dijawab dengan cepat,  Sandi menempatkan “Keluarga” sebagai yang terpenting kedua setelah “Ibadah”.

Begitulah Sandi menempatkan “Keluarga” sebagai sesuatu yang paling penting di dalam hidupnya. Artinya, sedapat mungkin dalam setiap sikap dan tingkah lakunya dia akan melihat akibat yang akan ditimbulkan terhadap kehidupan rumah tangganya, keluarganya.

Tapi ingat, tetap saja bahwa Sandi adalah manusia biasa. Apa mungkin dia memang sesempurna itu?

Dalam banyak kasus orang penting di dunia, seorang lelaki yang sudah tidak bisa diiming-imingi harta dan takhta, biasanya (tapi tidak semua, lho…) tergelincir dalam urusan wanita. Entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak usah saya kasih contoh, kalian bisa tanya sendiri ke mbah gugel. Jangaan malas…

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa ujian dan godaan terberat bagi Sandi, dan semua lelaki lah.., adalah wanita—seperti juga terjadi sejak zaman purba kala, kalo mau dibilang begitu. Dirinya dan orang-orang sekitarnya yang mendukung pencalonannya, harus benar-benar membuat benteng agar tidak sampai terjebak godaan semacam ini. Apalagi, maklum, soal pelakor masih rada-rada trend. Dan “Kesempurnaan” Sandi adalah sekaligus “cacat” atau kelemahannya yang tetap memiliki potensi rusak.

Jadi, para emak-emak…, cukup jadikan Sandi  idola saja, jangan digoda. Karena satu yang pasti dari ketidaksempurnaan manusia itu adalah; bisa “khilaf”[email protected]

Facebook Comments