Ikatan Pelukis Kalimantan Selatan (IPKS) menggelar acara melukis bersama on the spot di Siring Nol Kilometer, Kota Banjarmasin. Sekitar 12 orang melukis di ruang terbuka hijau (RTH) di halaman siring, tepatnya depan Korem 101/Antasari sejak pagi hingga siang.

Ketua IPKS, Muslim Anang Abdullah mengaku bahwa kegiatan melukis bersama on the spot ini adalah rangkaian dari penutup kegiatan Pameran Lukisan Nasional ‘Bias Borneo’ tersebut. Karena letaknya di ruang terbuka, kata dia, maka dibebaskan untuk menangkap objek dalam lukisannya.

“Apapun mereka lukis di sini, bebas menangkap objek apa saja. Karena ruang terbuka di siring ini, peristiwa-peristiwa dalam lukisannya beragam,” kata Anang Muslim kepada asyikasyik.com, pada Minggu (21/8/2022) siang.

Anang menjelaskan, ada 2 kegiatan yang masih berlangsung dalam acara hari ini. Pertama di Taman Budaya Kalimantan Selatan dan kedua di Siring Nol Kilometer, yang akan ditutup hingga sore hari. Acara on the spot ini, menurutnya kerap dilaksanakan di beberapa daerah di Kalimantan Selatan.

“Karena on the spot, maka kegiatannya keliling. Kita pernah gelar di Tapin, Pelaihari, Marabahan dan sebagainya,” jelasnya.

Anang mengungkapkan bahwa anggotanya berjumlah 90 orang lebih yang meramaikan pameran lukis nasional tersebut. Dia bersama anggotanya terus melakukan kegiatan demi menunjang aktivitas pelukis-pelukis di daerah.

“Ini akan berlanjut terus. Karena ini perdana pameran Bias Borneo, maka akan ada bias borneo kedua, ketiga dan seterusnya. Dan kami sudah obrolan tadi dengan ibu Suharyanti, Ketua Taman Budaya Kalsel,” kata pria kelahiran 1962 itu.

Tak hanya berhenti di acara ini saja, kata Anang, pihaknya terus menggelar acara lukis yang ke depannya. Kata dia, IPKS selalu mencari momen-momen tertentu yang dapat terus mengembangan keorganisasiannya.

“Yang jelas IPKS selalu mengadakan kegiatan-kegiatan di Banua. Setelah ini, kita akan ke Bali. Berkolaborasi dengan pelukis di sana,” ucapnya.

Hasbi, pelukis asal Kandangan itu tengah konsen melukis pemandangan di pinggiran sungai Martapura. Di atas kanvas, dia telah menguas tiap sudut bangunan Menara Pandang, yang disisinya terdapat sungai mengalir dan langit biru, terpancar dalam lukisannya.

“Kita di sini menangkap objek dari peristiwa di sekitar. Menangkap suasana alamnya, apa saja,” tambahnya.

Sekitar 5 menit lalu, Hasbi mengaku baru saja bergabung di halaman siring tersebut. Dalam halnya melukis, dia memperhitungan waktu tergantung aspek dalam lukisan yang dikejar, apakah unsur detailnya atau lainnya. “Kalo detail, kita perlu waktu lama,” ujarnya.

Selama tiga kali, Hasbi mengikuti agenda on the spot dan terakhir di Marabahan, dia melukis di ruang terbuka. Dan kali ini dirinya perdana dengan anggota IPKS melukis bersama di Siring Nol Kilometer.

“Rasanya lama tak ke sini, kota seribu sungai. Maka kita lukis bersama tentang suasana alamnya,” kata pria kelahiran 1980 itu.

Hasbi melukis apa yang terlintas di sekitarnya. Dengan warna Raw Siena, Yellow Pale, Titanium White, Raw Umber, dia menguas secara perlahan, dan menyentuh ruas-ruas di kanvasnya. Sudah terbentuk bangunan megah di sudut kota seribu sungai tersebut.

Hasbi bersyukur dapat mengikuti agenda skala nasional ini di daerahnya sendiri, karena baginya sangat penting untuk digelar. Menurutnya, acara ini dapat memicu pelukis-pelukis daerah untuk berkembang.

“Alhamdulillah, kegiatan Bias Borneo ini berjalan dengan lancar ya. Mudahan-mudahan ini bukan kali pertama, tetapi berlanjut ke depannya,” katanya.

Terhadap seniman-seniman di daerah, Hasbi menginginkan adanya apresiasi dalam bentuk apapun. Baik pergelaran seni rupa, adanya kolektor hingga dukungan pemerintah setempat. “Kita harapkan bertambah adanya kolektor di Kalsel,” [email protected]

Facebook Comments