— catatan ini sepenuhnya hasil olah kurator Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Redaksi AsyikAsyik hanya selaku media saja.

——————————————————————————————————

MERAYAKAN MUSIM HUJAN PUISI

 

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival merupakan event tahunan, yang pada 2018 ini (baru) memasuki tahun ke-2. Masih muda (bila tak ingin disebut bayi). Sejak tahun pertama (2017), antusias penyair atau sastrawan tanah air yang ingin mengikuti festival ini begitu besar. Hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mengirimkan karyanya untuk dibukukan dalam antologi puisi bersama Rainy Day, dan kemudian bisa berhadir sebagai peserta dalam “pesta”.

Pada 2017, panitia menerima kiriman puisi dari sekitar 670 penyair atau penulis yang tersebar seluruh Indonesia. Untuk jumlah puisinya, pukul rata (anggap saja) masing-masing dua puisi (memang ada yang ngirim satu puisi, namun ada juga sampai lima puisi), maka jumlah puisi yang diterima—untuk kemudian dikurasi, mencapai 1340 puisi. Sejumlah itulah puisi yang harus diseleksi oleh tim kurasi, dengan tanpa batasan berapa puisi yang harus dibukukan.

Dan untuk 2018, jumlah itu membengkak. Tercatat sekitar 780 penyair atau penulis yang mengirimkan karyanya ke panitia, atau sekitar 1560 puisi. Ibarat; hujan belum lagi tiba, puisi telah membanjiri.

Tentu saja bukan pekara mudah menyeleksi puisi sebanyak itu untuk kemudian dimasukkan ke dalam buku antologi. Ada kalanya, membaca sekian banyak puisi itu, kurator mengalami semacam mabuk puisi.

Tim kurasi (tiga orang) membagi puisi sebanyak itu untuk diseleksi, dan kemudian didiskusikan. Bisa saja, puisi yang awalnya di tangan satu kurator tidak lolos namun kemudian akhirnya lolos lantaran oleh dua kurator lainnya dianggap layak. Begitu juga sebaliknya.

Yang perlu dipahami dari kurasi puisi-puisi itu adalah, bahwa seleksi atau penilaian ini tidak berdasarkan untuk menentukan ranking atau memilih nominasi atau pemenang laiknya sebuah perlombaan. Jadi, lebih kepada ingin mengapresiasi dan menampung sebanyak mungkin penyair agar terlibat dalam kegiatan Rainy Day. Bilapun akhirnya ada sejumlah puisi yang tidak bisa dimasukkan ke dalam antologi puisi—selain mempertimbangkan ketebalan buku (karena menyangkut biaya), juga agar memang telah terjadi seleksi untuk puisi-puisi yang dianggap layak.

Umumnya, puisi-puisi yang disisihkan adalah puisi-puisi yang dari segi penulisan tata bahasa dianggap belum tepenuhi—hal sederhana seperti penempatan kata “di” yang tidak tepat, kapan sebagai kata depan dan kapan sebagai imbuhan atau awalan. Selebihnya menyangkut sur-unsur perpuisian; diksi, daya imaji, majas, rima, termasuk tipografi.

Terkait di dalam Rainy Day ini panitia memilih tiga puisi sebagai “puisi pilihan”—sekali lagi bukan dimaksudkan sebagai juara atau pemenang, adalah bentuk apresiasi tersendiri bagi para penyair yang telah mengirimkan karya mereka. Sebab itu pula, tidak dicantumkan (dalam pengumuman) hadiah, melainkan panitia mengharapkan (kemudahan) kehadiran mereka dengan akan ditanggungnya biaya transportasi (dari kota asal mereka) untuk menuju ke Banjarbaru tempat berlangsungnya acara.

Dalam penentuan “puisi terpilih”, tim kurator melakukan diskusi terkait sejumlah puisi yang oleh masing-masing kurator dinilai baik—tentu saja, selain melihat unsur perpuisian, juga melibatkan “rasa” subyektif berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kesukaan juga kecenderungan pilihan gaya masing-masing kurator. Hingga akhirnya diputuskanlah “tiga puisi terpilih”.

Dan untuk Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 ini, tiga puisi terpilih itu adalah: Membaca Sahilan (karya Julaiha S), Bekas Manusia (Binhad Nurrohmat), Tulipomania (Dinny Rahma).

Ketiga puisi itu dipilih karena dianggap membawa warna, suasana, diksi, dan imaji, yang menggugah. Bagaimana, misalnya, Julaiha dengan puisinya mampu menghadirkan imaji yang kuat tentang Sahilan, atau Binhad Nurrohmat tentang kedalaman eksistensi manusia di kala hidup dan mati, juga Dinny dengan puisi naratifnya yang mampu menawarkan penjelajahan intertekstual dari (film) tulip fever yang menginspirasi puisinya. Seutuhnya, puisi mereka bisa dibaca dan diselami di dalam buku ini. Tentu saja sangat terbuka ruang “diskusi” untuk puisi-puisi terpilih. Namun kiranya itulah keputusan yang telah ditetapkan oleh tim kurator setelah melakukan serangkaian seleksi dan diskusi yang cukup intens.

Demikianlah catatan tim kurator untuk antologi puisi bersama Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 sebagai bentuk pertanggung jawaban. Selebihnya, marilah kita rayakan puisi menyambut musim hujan ini dengan sepenuh riang gembira.

Sampai jumpa dalam “musim hujan” tahun depan.

 

Tim Kurator Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018

HE BENYAMINE
SANDI FIRLY
RIKA

Facebook Comments