MESKIPUN terkenal alim dan taat beribadah, adakalanya Nasruddin melakukan hal-hal yang aneh, seperti ritual khusus, bagi para tetangganya. Tahulah, tetangga mana yang tak usil dan suka memerhatikan tetangganya. Dan meski menyadari gunjingan tetangganya, Nasruddin tak pernah menghiraukan mereka. Ia tetap saja mengerjakan kesenangannya dan cuek pada tanggapan mereka.

Salah satu kesenangan Nasruddin itu adalah yang dikerjakannya bila tiba pukul 5 sore. Setelah salat Ashar dan mengerjakan wirid yang panjang, biasanya ia suka keluar rumah dan duduk di bawah pohon besar di kebunnya. Sepetak kebun di belakang rumahnya. Di pinggir sungai ada pohon rambai yang cukup rindang.

Di bawah teduh pohon ia menyiulkan sebuah lagu yang riang, dan ia akan tampak seperti berbincang-bincang dengan seseorang menghadap sungai. Ia lalu mengambil air dengan ujung jari-jarinya, lalu memercikkannya kembali ke sungai.

Setelah itu biasanya ia akan mengangkat tangan ke langit, lalu menurunkannya, duduk di bawah pohon dengan memejamkan mata selama beberapa menit. Biasanya ia akan berada di sana selama setengah jam lamanya, baru kemudian pulang dan mandi sore.

Suatu malam Nasruddin kebagian jadwal ronda di kampungnya. Seperti yang lainnya, ia akan turut mengikuti apa saja yang orang lain mainkan. Ia tertawa jika orang tertawa, dan diam memerhatikan bila ada yang bercerita atau menceritakan kelakukan tetangga lainnya.

Malam itu seseorang memberanikan diri bertanya.

“Mulla, sebenarnya amalan apa yang Anda kerjakan setiap sore di kebun di tepi sungai itu?”

Nasruddin menjawab biasa, “aku melakukan kesenangan saja.”

“Apakah itu maksudnya agar ikan-ikan di sungai kita makin banyak untuk kita pancingi?”

“Atau, supaya buah rambai dan hasil kebun Anda tumbuh subur dan berbuah banyak?” Tanya yang lain.

“Tidak, aku melakukannya agar buaya dan ular ganas tidak mendekat.”

“Lho, bukankah tidak pernah terdengar di kampung ini di sungai kecil sana ada buaya dan ular besar!”

“Tepat! Bukankah yang kulakukan terbukti efektif?”@

Facebook Comments